Header Ads

Sa'adz bin Muadz UNSTOPABLE!

Driser, coba bayangin ketika suatu saat kita ikut terjun  ke tengah medan peperangan kolosal. Hunusan  pedang, lesatan panah, dan lemparan tombak  berseliweran tak tentu arah. Saat itu kita punya dua pilihan,  lari tunggang langgang dari medan perang atau justru terus  merangsek ke tengah mencari musuh?
Seorang Sa'adz bin  Muadz, justeru menghapus pilihan yang pertama. Pada perang  Badar ketika Rasulullah mempersilahkan sahabatnya  menyampaikan buah pikiranya, berdirilah sahabat berkulit  putih, bertubuh tinggi, gagah, berwajah rupawan dan  berjenggot indah ini  dan berkata:  

"Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada Anda,  kami percaya dan mengakui bahwa apa yang Anda bawa itu  adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan  janji-janji kami. Maka, laksanakahlah terus ya Rasulullah apa  yang Anda inginkan, dan kami akan selalu bersama Anda.  Dan, demi Allah yang telah mengutus Anda membawa  kebenaran, seandainya Anda mengadapkan kami ke lautan ini,  lalu Anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan  ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur dan kami  tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh  kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi  perjuangan. Dan, semoga Allah akan memperlihatkan kepada  Anda tindakan kami yang menyenangkan hati. Maka, marilah  kita berangkat dengan berkah Allah Taala."  

Dalam perang khandaq, Rasullulah membangun parit di  sekeliling benteng pertahanan untuk mencegah serangan  musuh di sekeliling kota madinah. Ketika Rasul berencana  untuk berunding agar gempuran itu tidak terjadi, Rasul minta  pendapat dari sahabat dan Sa'ad bin Mu'adz angkat bicara:

"Wahai Rasululallah, dahulu kami dan orang-orang itu  berada dalam kemusyrikan dan pemujaan berhala, tiada  mengabdikan diri kepada Allah dan tidak kenal kepada-Nya,  sedang mereka tak mengharapkan akan dapat makan sebutir  kurma pun dari hasil bumi kami, kecuali bila disuguhkan atau  dengan cara jual beli. Sekarang apakah setelah kami beroleh  kehormatan dari Allah dengan memeluk Islam dan mendapat  bimbingan untuk menerimanya, dan setelah kami dimuliakan-Nya dengan Anda dan dengan agama itu, lalu kami harus  menyerahkan harta kekayaan kami? Demi Allah kami tidak  memerlukan itu dan demi Allah kami tak hendak memberi  kepada mereka, kecuali pedang. hingga Allah menjatuhkan  putusan-Nya dalam mengadili kami dengan mereka!" Pada perang khandaq itu Sa'ad terluka (riwayat Al-Baihaqi dari Jabir r.a menyebutkan terluka di bagian mata  karena tombak).

Dalam keadaan terluka beliau berdoa. " Ya Allah, jika dari peperangan dengan Qurays ini masih  ada yang Engkau sisakan, panjangkanlah umurku untuk  menghadapinya! Karena, tidak ada golongan yang diinginkan  untuk menghadapi mereka daripada kaum yang telah  menganiaya Rasul-Mu, telah mendustakan dan mengusrinya...! Dan seandainya Engaku telah mengakhiri  perang antara kami dengan mereka, jadikanlah kiranya  musibah yang telah menimpa diriku sekaran ini sebagai jalan  untuk menemui syahid. Dan janganlah aku dimatikan  sebelum tercapainya yang memuaskan hatiku dengan Bani  Quraidha...!"

Doa itu dikabulkan. Ketika pasukan Islam melakukan  pengepungan hingga 25 hari di benteng Bani Quraidhah  setelah perang khandaq. Hingga bani Quraidhah   menyerahkan urusannya pada Sa'ad bin Mu'adz yang mereka  pikir akan membela mereka. Rasullulah setuju. Ketika sa'ad  datang dalam keadaan terluka, orang-orang (Anshar) berkata  kepadanya, 'Wahai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah saw.  telah memberikan kepadamu otoritas dalam perkara ini  untuk menetapkan hukumnya.” Setelah itu, Sa'ad menetapkan, “Sesungguhnya aku  menghukum mereka, yaitu: laki-lakinya dibunuh, harta  mereka diambil dan dibagi-bagi; sedangkan wanita dan anak-anak mereka dijadikan sabaya (hamba sahaya karena turut  dalam pertempuran).

Dan rasull memuji atas keputusan itu.  Dan beberapa hari setelah itu Sa'ad meninggal. Rasulullah  Saw pernah bersabda tentang Sa'ad bin Mu'adz, "Sa'ad telah  menggoncangkan 'Arsy, dan jenazahnya diantar 70.000  malaikat." (HR Al-Baihagi dari Ibnu `Umar r.a.) Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Jibril menemui  Nabi Saw lalu bertanya, "Siapakah hamba saleh yang wafat  sehingga pintu-pintu langit terbuka untuknya dan `Arsy  bergetar?" Nabi kemudian keluar, ternyata Sa'ad bin Mu`adz  telah wafat. (HR Al-Baihaqi dari Jabir r.a) Diceritakan pula bahwa ketika mengusung jenazah  Sa'ad, orang-orang mengatakan, "Ya Rasulullah, kami belum  pernah mengusung jenazah yang lebih ringan daripada ini."  Beliau menjelaskan, "Kalian merasa ringan, karena malaikat  telah turun tangan, padahal sebelumnya mereka belum  pernah ikut mengusung jenazah bersama-sama kalian."  (Riwayat Ibnu Sa'ad dari Mahmud bin Lubaid)


Driser, begitulah balasan bagi seorang yang unstopable  (tidak dapat dihentikan) penuh menyambut perang laksana  menyambut janji Allah akan surga atas mati sahid. Jadi, udah  seharusnya keberanian seorang Sa'ad bin Mu'adz kita tanam  dalam diri kita agar tak kenal rasa takut kecuali kepada Allah  swt dalam menyampaikan kebenaran dan menjaga  kemuliaan Islam dalam naungan khilafah. Allahu  Akbar![Ridwan] 
Diberdayakan oleh Blogger.