Header Ads

Negara Seribu Masalah

Eksentrik, negeri ini seringkali mengalami kejadian-kejadian aneh.  Keanehan yang juga lucu karena terkesan seperti drama. Ada  Epemain utama, pemain pengganti, dan sutradara yang berkuasa  memainkan drama. Khalayak pun bertanya-tanya, ada apa gerangan?  padahal ini nyata, meski terindikasi rekayasa dan penuh misteri.

Bali 20 Oktober 2002, Duarrr! “petasan raksasa” meledak di Paddy's Bar  dan Sari Club, efeknya terdengar sampai radius puluhan kilometer, jaring-jaring bangunan berterbangan ke udara hingga lima puluhan meter  tingginya. Amrozi Cs terpilih menjadi pemain utama dalam lakon ini. Namun ada yang aneh, unik bin ajib, ternyata bom itu memiliki daya  ledak bak nuklir, mustahil dibuat oleh Amrozi Cs.

Seorang ahli Eksplosif asal  Inggris, Mark Ribband menyebut jika bom itu seperti berjenis C-4 yang  berdaya powerfull. Ia bertutur “Bom C-4 diproduksi oleh beberapa negara,  sedangkan produsen utamanya adalah AS dan Israel”. Jenderal Ryamizard  Riyacudu (mantan KSAD) pernah mengatakan: “Saya yakin bahwa bom  yang meledak di Bali adalah buatan luar negeri, dan bukan buatan orang  Indonesia”. Disusul Bom Bali 2, Tahun 2005. Ini pun juga banyak kejanggalan,  diantaranya ialah adanya peringatan dini sebelum pengemboman,  beberapa orang turis Australia mengaku diberi informasi untuk menjauh  dari pusat kawasan Kuta karena akan ada ledakan.

Kejanggalan lain, adanya  rekaman video yang cukup detail menggambarkan peristiwa tersebut,  pihak pelaku terekam dari pertama ia duduk sampai bom meledak, arah  kamera terus mengikuti gerak pelaku. Video inipun datangnya dari  Australia. Demikian halnya dengan kejadian-kejadian bom lainnya di berbagai  tempat di Indonesia. Hingga yang terakhir, peristiwa menghebohkan saat  ini berupa bom buku. Bom yang diletakkan di dalam buku, dengan skala  ledak kecil. Menyibak keanehan-keanehan tersebut, maka sangat wajar  bilamana banyak pengamat menyimpulkan bahwa kejadian-kejadian teror  tersebut hanyalah rekayasa belaka. Sebuah konspirasi tingkat tinggi dengan  berbagai motifnya. Konspirasi bisa pula bermakna persekongkolan.

Di Oxford Advanced  Learner's Dictionary pada 1995, konspirasi memiliki arti “sebuah rencana  rahasia oleh sekelompok orang untuk melakukan sesuatu yang ilegal atau  merugikan”. Bisa ditambahkan ” untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu”.  Pertanyaannya, apa saja motif tersebut?

1. Alasan memerangi teroris Kampanye perang melawan teroris digalakkan oleh AS sejak tragedi  WTC yang menewaskan ribuan orang. Inilih alasan utama AS gencar  memerangi pihak yang menurutnya teroris, alias teroris dalam definisi AS  itu sendiri.

Seiring waktu berjalan, berhembus bahwa G Bush (Mantan  Presiden AS) berada dibalik pengeboman WTC tersebut. Logika lurusnya, jika hendak memerangi teroris, maka sudah barang  tentu harus ada tindakan teror di tempat tersebut. Jika tidak ada tindakan  teror, berarti tidak ada alasan untuk melawan teroris. Maka harus ada atau  diadakan. Minimal harus ada pihak yang diimagekan teroris. Disamping itu Indonesia juga merupakan salah satu negara yang  mendapat kucuran dana dari asing untuk memerangi teroris. Dibuat pula  sebuah detasemen khusus yang menangani terorisme yakni Densus 88. 

Lembaga ini menurut mantan ketua YLBHI, Munarman, berdasarkan  dokumen Human Right Watch tentang Counter Terorism yang dilakukan  AS, pembentukan Densus 88 di Indonesia pada tahun 2002 tersebut  didanai AS sebesar 16 juta dollar, dan sebelumnya pada tahun 2001 Polri  telah menerima dana untuk penanganan terorisme sebesar 10 juta dollar.

Menurutnya, data ini konkrit, diambil dari dokumen sekunder, dokumen  primer, dan juga dokumen dari Departemen Pertahanan AS tentang  counter terorism budget (eramuslim.com06/06/07). Artinya  jika ingin dana terus mengucur, maka dia harus tetap bekerja,  “tak bekerja tak mendapat gaji”. Jika tidak ada peristiwa teror  atau penangkapan diduga teroris, berarti seperti tak bekerja.

2. Pengalihan isu Acapkali muncul isu terorisme adalah saat dimana opini  yang berkembang sedang dalam posisi mengancam  kekuasaan dan juga sekitar kekuasaan. Selanjutnya opini  tersebut hilang seperti ditelan bumi dikarenakan tertutup  oleh isu terorisme. Berapa kasus krusial tertutup oleh isu terorisme ini,  sebagai contoh: protes atas kasus kebijakan kenaikan BBM,  Rekening gendut, skandal Century, penjualan aset nagara  semacam Krakatau steel. Terbaru adalah heboh pemberitaan  Koran The Age dan Sidney Morning Herald tentang Presiden  RI, serta kasus-kasus yang lainnya. Tak heran bilamana ketua PP Muhammadiyah kepada  republika (17/3) menyatakan bahwa fenomena bom buku  memiliki indikasi kuat merupakan bentuk pengalihan isu dan  perhatian masyarakat dari masalah-masalah strategis yang  hingga kini tak terselesaikan.

3. Menyerang Ideologi Islam Peristiwa terorisme seringkali selalu dikait-kaitkan dengan  ideologi Islam. Presiden SBY menegaskan tujuan dari para  teroris adalah mendirikan negara Islam. Menurut SBY,  pendirian negara Islam sudah rampung dalam sejarah  Indonesia. Hal ini disampaikan pada keterangan persnya di  Bandara Halim Perdanakusumah sebelum berkunjung ke  Singapura dan Malaysia, bulan Mei tahun lalu. Mantan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso  Danuri ketika mengomentari kasus “terorisme Aceh”  beberapa waktu yang lalu mengatakan “Itu sudah  direncanakan ada percepatan negara demokrasi menjadi  negara syariat Islam”.

Dalam kasus ini masyarakat juga tahu,  banyak kejanggalan pada kasus Aceh ini. Lalu dikembangkan pula opini bahwasannya ideologi Islam  mengancam eksistensi bangsa dan berbahaya bagi pluralitas  bangsa. Padahal selama ini yang telah mengancam  kedaulatan bangsa adalah sistem Kapitalisme. Terbukti  Indonesia menjadi terjajah secara politik, ekonomi, sosial dan  budaya karena sistem ini. Timor Timur lepas juga akibat  sistem ini karena tidak meratanya kesejahteraan rakyat.

4. Kampanye Islam moderat Kasus Terorisme juga menjadi jalan tol kampanye Islam  moderat. Muslim yang menginginkan menerapkan Islam  secara kaffah diberi stigma Islam garis keras, fundamentalis  dan ekstrimis, bahkan ada yang di tuduh teroris (pemberian  stigma teroris). Kemudian muncul istilah deradikalisasi,  bahasa halus mensekulerkan muslim di Indonesia. Maka umat  Islam perlu waspada. Sungguh, Islam bukanlah teroris, Islam juga tidak  sependapat dengan tindakan teror.


Zionis Israel dan Amerika  beserta sekutunyalah teroris sebenarnya, sebab nyata-nyata  telah melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil di negara-negara Timur Tengah dan lainnya. Ideologi Islam juga bukan  ancaman, justru ideologi Islamlah yang bisa menjamin  Indonesia menjadi maju dan sejahtera. Ingatlah, rakyat sudah  cukup cerdas. Wallahu A'lam 
Diberdayakan oleh Blogger.