Header Ads

Seuntai angan Muhibbah

Malam telah menjadi teman terbaikku, dengan bulan dan  bintang menjadi saksinya. Bersama nyanyian malam aku  Mmenari di bawah cahaya bulan, pepohonan ikut menari  bersamaku, dan dedaunan yang berjatuhan menjadi penyanyi terbaik. Terkadang rintik hujan ikut berdendang bersama dedaunan.  Menciptakan lagu terbaik yang terdengar merdu.

Aroma hujan menjadi  heharuman yang turut serta menyemarakkan malam-malamku. Cahaya  bintang yang bersinar terlihat indah dihamparan langit malam yang  berwarna kelam. Aku adalah pengagum nyanyian malam dan aroma hujan.

Disetiap  malamku selalu kusempatkan diri untuk mendengar dendangan sang  malam. Meski tanpa aroma hujan. Seperti malam ini, aku menyaksikan  sang malam dari jendela tempat ku berdiri. Kusingkapkan kain penutup  jendela. Menyaksikan warna malam yang gelap.

“Belum tidur?” seorang perempuan tua menghampiriku. Dia adalah  perempuan yang ku panggil Bunda, satu-satunya orang tua yang aku dan  saudaraku punya.

“Hibbah” panggilan bunda tak mengalihkan perhatianku.

“Bunda  sudah mulai tua. Mungkin waktu Bunda tak lagi banyak. Maukah Hibbah  memaafkan segala kesalahan Bunda dimasa lalu?” keningku berkerut  mendengar pertanyaan bunda. Jemariku meraih notebook yang selalu ada di kantongku. Ku tuliskan  kata-kata yang tak bisa kuucapkan
“Apa maksud Bunda? Hibbah tak  mengerti” Bunda tersenyum membaca tulisanku.

“Tak bermaksud apa-apa.  Hanya saja Bunda merasa waktu Bunda kian dekat” Aku memandang bunda yang masih memandang ke luar jendela.

“Aku  tak berharap Bunda pergi meninggalkan aku. Cukup orang tuaku saja yang  pergi. Jangan Bunda. Allah takkan membiarkan aku menjadi seseorang  yang sebatang kara”
 “Kau takkan pernah sebatang kara anakku. Ada banyak orang  disekitarmu yang mencintaimu” Aku tersenyum mendengar ucapan Bunda.

Kembali tanganku  menggerakkan spidol di atas kertas yang sudah nyaris penuh dengan  tulisanku. “Tak ada seorang pun yang mencintaiku kecuali Bunda” Jemari tua bunda mengelus lembut kepalaku. Ia memeluk tubuhku  yang kini lebih tinggi dari dirinya. “Ada banyak sayang. Hanya saja mereka  tak mengekspresikannya”

“Apa orang tuaku juga mencintaiku?”

“Tentu. Mengapa kau menanyakan itu?” “Jika memang mereka mencintaiku mengapa aku berada disini?  Dibesarkan Bunda. Bukan mereka. Dan mengapa Allah membiarkan aku  tak mengenali orang tuaku yang melahirkan aku atas nama cinta?” Bunda diam mendengar pertanyaanku.

 Ia memandangku dengan mata  penuh kasih sayang. Matanya masih terlihat tajam meski tak sebening  dulu. Jemarinya yang mulai keriput menyingkirkan rambut dari wajahku. Ia  mencium keningku. Memelukku dengan penuh kehangatan.

“Ada alasan  mengapa mereka membiarkan kamu diasuh oleh Bunda. Percayalah.  Mereka teramat sangat mencintamu” bisiknya.

“Ayo tidur. Sudah malam” Bunda menuntun langkahku menuju ke kamar. Beberapa pembaringan  telah terisi dengan mereka yang terlelap terbawa mimpi.  

Sebentar lagi aku akan menyusul mereka di alam mimpi. Bunda  mengantarkan aku hingga ke pembaringanku. Jemari tuanya  menyingkirkan notebook yang menjadi caraku berkomunikasi dengan orang  lain. Ia menyelimutiku  dengan selimut berwarna biru langit.  Mengusap keningku dengan lembut.  Meninggalkan ciuman hangat di keningku. Lalu  tersenyum padaku. Setelah itu ia akan melangkahkan kakinya untuk  meninggalkan aku.

 Membiarkan aku mengarungi lautan mimpi. Di panti asuhan ini aku dibesarkan bersama anak-anak lainnya yang  bernasib sama. Seingatku, saat aku berusia empat tahun seorang lelaki  mengantarkan aku kemari. Ia berjanji padaku untuk menjemputku  suatu saat. Aku tak mengenal siapa yang mengantarku. Yang aku ingat,  malam itu aku diajak olehnya untuk menengok ayah.

Karena janjinya aku selalu menantinya. Berharap sosok yang mulai  pudar dari ingatanku itu datang menjemputku. Mempertemukanku  kembali bersama keluargaku. Sayangnya, hingga detik ini ia tak pernah  muncul dihadapanku. Selama penantianku aku diam tak berkata. Meski banyak orang  berusaha untuk memancing percakapan padaku. Aku tetap bertahan untuk diam. Menunggu kehadiran  penjemputku yang menjadi jembatan pertemuan antara aku  dan orang tuaku yang nyaris tak kuingat siapa mereka dan  bagaimana mereka.

***
 Kala fajar menyingsing dan kokok ayam bersahutan aku  dan semua penghuni panti asuhan terjaga, membawa  kembali ke alam nyata. Semua kini memenuhi mushola kecil  khusus penghuni panti. Menjalankan kewajiban sebagai  seorang muslim. Bunda yang mengajarkan kami untuk tetap  berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As Sunnah.  Menjalankan kewajiban seorang muslim yang mulai  terlupakan. Bunda juga yang mengajarkan kami untuk  menutup aurat secara sempurna. Dalam hati kulantunkan ayat cinta Ilahi Rabbi. 

Meski aku  kecewa atas takdirku, aku tak mau lebih kecewa karena tak  menjalankan kewajibanku.
Tak mau menambah dosa yang  tak terhitung. Disela kekhusyukkan, ku dengar suara-suara gemuruh  yang sedikit mengusik. Perlahan, mereka yang ada di  mushola meninggalkan tempat suci ini, rasa ingin tahu  menuntun mereka untuk meninggalkan tempat ini. Tetapi,  tidak denganku. Aku tetap bertahan di tempatku. Masih  mentadabburi mushaf. Sampai seseorang mengalihkan  perhatianku.

“Hibbah ….” perempuan itu berdiri di sisi pintu mushola  sembari menatapku dengan air mata tergenang.  Kulangkahkan kaki mendekatinya.

“Bunda Hib ….” telunjuknya mengarah ke arah kamar  bunda yang nampak ramai dikunjungi orang dengan isak  tangis terdengar. Segera kuletakkan mushafku dan berlari ke kamar  bunda. Kupaksakan masuk ke kamar bunda yang tak begitu  luas. Bu Yani sudah duduk disisi pembaringan bunda. Ia  menangis sembari melantunkan lagu kehilangan.

 Ketika aku  mendekatkan langkah ke sisi bunda Bu Yani masih tetap  menangis sembari memeluknya. Aku diam mematung ketika mengetahui kenyataan ini.  Tak percaya dengan kenyataan yang sedang terjadi di depan  mata. Bagaimana bisa Tuhan mengambil bunda? Hanya  dirinya yang aku miliki di muka bumi ini!! Dimana letak  keadilan Tuhan yang selalu dikatakan bunda? Kakiku kaku, tak beranjak sedikitpun dari tempat  tersebut. Kini kekecewaanku pada Tuhanku kian mendalam.  Air mata pun tak terelakkan. Hingga gelap dan tak kulihat  apa-apa lagi.
***
Tiga Januari 2011. Usiaku tepat dua puluh tahun. Sudah  dua bulan bunda meninggalkan kami. Semua telah kembal seperti semula. Meski sisa-sisa mendung masih terlihat di  rumah kami. Dihari istimewa ini aku tak mendapatkan pelukan bunda.  Sepucuk surat datang padaku pengganti pelukan hangat bunda  yang kurindukan. Amplop berwarna coklat itu kini ada di  tanganku.

Kubuka perlahan. Dan kubaca isinya. Untuk Muhibbah anakku tecinta. Terlalu lama Bunda menyimpan rahasia ini seorang diri.  Tanpa disadari anakku yang dahulu mungil dan polos telah  menjelma menjadi gadis cantik yang menawan. Dan ini adalah  awal untukmu. Kamu harus tahu kenyataan yang selama ini  Bunda simpan seorang diri. Bunda mengharapkan kelapangan  hatimu, anakku. Harus kamu tahu orang tuamu adalah orang yang paling  hebat di muka bumi ini.

Tak ada yang bisa mengalahkan cinta  mereka padamu anakku. Besarnya cinta mereka padamulah yang  membawa mu ketempat ini. Mereka ingin dirimu tetap berada di  zona aman. Agar engkau tetap dapat bernafas dengan cinta Nya. Datangilah alamat ini dan bawa surat ini bersamamu. Maka  dirimu akan menemukan kenyataan yang sebenarnya, sayang ….

Secarik kertas putih bertuliskan alamat yang sedikit asing  bagiku. Secercah harapan pun mulai hadir mengisi kekosongan  hatiku. Kusaksikan langit biru yang indah siang ini. Aku akan  segera menjemput kebahagianku. Berjumpa dengan orang yang  paling aku rindukan.
***
 Sinar pagi telah menyapa. Seluruh makhluk bumi nampak  menjalankan aktivitas rutin mereka. Awan putih menyambut  menghiasi langit biru yang nampak begitu indah. Dari kaki langit  nampak warna kuning keemasan yang mempesona. Diawal hari  selalu akan ada pagi yang sempurna. Ini membawaku pada  ingatan tentang bunda. Ia selalu mengatakan padaku bahwa  untuk melakukan hal yang istemewa diperlukan awal yang  sempurna.

Seperti pagi yang mengawali pagi dengan sempurna. Kususuri jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan lalu  lalang. Di dalam bis kota aku saksikan kemacetan di lampu  merah. Memang tak semacet Jakarta. Namun, perlahan kota-kota  kecil akan menjelma menjadi kota kecil yang penuh sesak. Hingga  tiada lagi tersisa tempat untuk menyendiri.

 Setelah dua kali mengganti bus kota ku sampai pada  kendaraan terakhir. Angkot. Jarak yang ada semakin dekat. Ini  mengundang detak jantung untuk memacu lebih kencang. Jam  tanganku menunjuk pada angka sebelas. Kucoba menghirup  nafas panjang. Berharap temukan ketenangan setelahnya.  Sampai pada Pak sopir menghentikan laju kendaraannya dan aku  turun dari mobil beroda empat yang mengantarku sampai ke  tempat ini. Rumah berwarna putih yang mulai ranum terlihat dari  tempatku berdiri. Pintunya tertutup rapat.

 Sementara pagarnya  ikut tertutup meski tak terkunci. Beberapa bunga mawar nampak  terawat di halaman yang sempit. Degup jantungku semakin  kencang. Langkahku semakin berat. Kubenahi kerudung yang  menutupi kepalaku. Dan memulai langkahku dengan bassmalah. “Cari siapa?” seorang perempuan berambut putih nampak  menyambutku yang lima menit lalu mengetuk pintu rumahnya. Kusodorkan amplop coklat berisi surat terakhir bunda.  Sejenak perempuan itu menatapku. Matanya berkaca-kaca  nampak bahagia.

“Ayo nak. Masuk” jari tuanya membawa aku  masuk ke rumahnya. Ketika aku masuk ke dalam rumahnya aku menemukan  banyak fhoto anak kecil yang mirip aku. Satu fhoto yang mencuri  perhatianku. Fhoto yang paling besar ukurannya. Dalam fhoto  tersebut ada seorang perempuan bersama lelaki menggendong  bayi mungil yang masih polos. Mereka tersenyum menghadap ke  kamera sembari memeluk si bayi. Fhoto itu membuatku ingin  tahu lebih lanjut.

Apakah itu aku bersama orang tuaku? Perempuan tua yang aku belum tahu siapa namanya itu  mempersilahkan aku duduk di sofa yang nampak usang.  Memberikanku secangkir teh hangat. Lalu ia duduk di sampingku.  Matanya tak sedikitpun lepas dari wajahku. “Matamu adalah mata ayahmu dan bibir serta hidungmu adalah  milik ibumu.

Tentu mereka akan sangat bahagia jika mereka melihat  dirimu saat ini” aku memandangnya penuh tanya.
 “Apa ibu mengenal ayah dan ibuku?” tulisku cepat. Ia memandangku. Menyentuh wajahku dengan jari tuanya.  

“Sayangnya ayahmu tak lagi ada di sini sayang” mataku terbelalak  memandang perempuan tersebut. “Dia syahid di jalan Nya ketika  membela Tuhan Nya” aku semakin penasaran dan perempuan tersebut  nampaknya tahu rasa penasaranku tersebut. “Seorang misionaris  menghabisinya saat ayah dan ibumu sedang dalam perjalanan pulang  dari pasar”
 “Apa salah ayah?” tulisku.

Perempuan tersebut tersenyum membaca pertanyaanku. “Ia adalah  seorang pendakwah pembela agama anakku” diam.

“Saat itu kristenisasi  besar-besaran terjadi di daerah dekat tempat tinggalmu. Ayahmu  berusaha untuk kembali membenarkan aqidah mereka yang terbeli.  Ketua misionaris tersebut tak terima, ia menantang ayahmu untuk  berdebat dengan taruhan aqidah. Siapa yang kalah harus ikut agama  yang menang. Siapapun itu. Ayahmu menang.

Si ketua marah. Selang tiga  hari ketua misionaris membayar orang untuk menghabisi keluarga kalian.  Mereka menyerang kalian yang baru pulang dari pasar. Ayahmu mencoba  untuk melindungi ibumu yang menggendongmu. Ia meminta ibumu  untuk berlari mencari keselamatan. Ia berlari membawamu. Entah  kemana” Air mataku menetes mendengar cerita ibu tua tersebut.

“Dimana ibu  sekarang?” tulisku.

Perempuan tua itu berdiri meraih jemariku dan membawaku ikut  bersamanya ke salah satu kamar yang tertutup rapat. Jari tuanya  menyentuh daun pintu dan membukanya perlahan. Kulangkahkan kaki  mengikuti langkahnya. Nampak seorang perempuan tertidur pulas.  Rambut panjangnya nampak indah meski sedikit tak terurus. Tubuhnya  terlihat lemah tak berdaya. Tangan kanannya memeluk boneka winnie  the pooh yang telah usang.

“Siapa perempuan ini?” tanya hatiku.

“Dia ibumu anakku” pemberitahuan perempuan tua itu membuatku  terperangah. Jantungku berdegup lebih kencang. Lari dari batas normal. Ada  dinding kaca di mataku yang akan meleleh dan membuat aliran sungai  kecil pada pipiku.

Lututku gemetar membuatku terjatuh di sisi  pembaringannya. Mulutku menganga berusaha untuk mengeluarkan  suara yang kupendam selama ini.

“I…. Ib…. Ibu” bersusah payah kukeluarkan suaraku untuk  memanggilnya.

“Dia takkan bangun Nak” kupandangi wajah perempuan tua yang  turut meneteskan air matanya melihat pertemuanku untuk pertama  kalinya selama empat belas tahun terpisah.

“Ibumu tuli, bisu, dan buta. Jiwanya sedikit terganggu. Ia takkan  mengingatmu” aku diam mengetahui kenyataan tersebut. “Ibu. Bangunlah untukku” ucapku lirih.

 Jemari perempuan yang terlelap tersebut bergerak. Matanya  terbuka. Jarinya meraba sekelilingnya. Sampai tangan halus itu  menyentuh kepalaku. Rasanya berbeda. Sungguh rasa ini yang sangat aku  rindukan selama belasan tahun ini. Setitik embun jatuh di hatiku.  Mencipratkan bahagia yang lama terlupakan. “Rabb. Kumohon jangan pisahkan lagi aku.


Seperti apapun dia dia  tetap wanita yang melahirkanku. Mencintaiku lebih dari apapun. Aku  tahu jauh di lubuk hatinya ia merindukan aku. Cintanya padaku telah  membawa kesengsaraan padanya. Ku mohon ringankan lah deritanya.  Tetap jaga ia untukku Rabb. Ku mohon.” 
Diberdayakan oleh Blogger.