Header Ads

MAJALAH DRISE EDISI 13 : THE RISE 4 ISLAM

Hayooo… bangun pemudi  pemuda…!! Di bulan Mei ini aroma  kebangkitan mulai terasa. Ada  momen Hari Kebangkitan Nasional  (Harkitnas) yang diperingati tiap tanggal 20  Mei. Perayaan Harkitnas didasarkan pada  kelahiran organisasi pemoeda Boedi  Oetomo (BO), tanggal 20 Mei 1908.

Hari  Kelahiran BO didaulat sebagai Harkitnas  karena BO dinilai menginspirasi kesadaran  nasional untuk berjuang melawan  penjajahan Belanda serta menuntut  kemerdekaan dari pemerintah kolonial  Belanda. Apa bener kaya gitu? Apaan sih  sebenernya kebangkitan itu? Saatnya kita  geber! Let's goooo…! Boedi Oetomo Membangkitkan? Momen Kebangkitan Nasional udah  terlanjur ditetapkan based on hari lahirnya  BO yaitu pada tanggal 20 Mei 1908. Padahal  kalo kita maknai Kebangkitan Nasional itu  sebagai sebuah momen kesadaran awal  untuk bersatu dan mengadakan   perlawanan terhadap penjajahan, BO nggak  layak dijadikan sandaran. Lho kok gitu?

Iya,  karena sejak awal lahirnya, BO nggak  pernah melakukan perlawanan terhadap  penjajahan. Justru BO ada untuk  mempertahankan penjajahan Belanda di  Indonesia. Nah lho! Hal ini dijelaskan dengan gamblang oleh  Pak Ahmad Masyur Suryanegara dalam  karya monumentalnya 'Api Sejarah'. BO  nggak pernah mencita-citakan persatuan  dan kemerdekaan Indonesia dari penjajah  Belanda dan sikap penolakan ini tetap  konsisten ia pertahankan selama sekitar 20  tahun sampai kongresnya yang  diselenggarakan pada tahun 1928 yang  diadakan di Surakarta. BO juga nggak mau  menerima keanggotaan selain dari orang  Jawa dan kalangan Priyayi. Paham yang  mereka anut pun adalah paham Jawanisme.  

BO pun mendukung pemerintah kolonial  Belanda. Nah jadi sebenernya BO nggak  pantas disebut sebagai penarik gerbong  Kebangkitan Nasional. BO adalah sebuah organisasi siswa  STOVIA yang didirikan di Jakarta. Pada  tahun 1909 organisasi ini diakui sebagai  sebuah badan hukum dan mengklaim telah  memiliki 10 ribu anggota. George  McTurnan Kahin menjelaskan bahwa  anggota-anggota BO sebagian besar adalah  pegawai pemerintahan kolonial Belanda. Soetomo, sang pendiri BO, masih  berusia 20 tahun saat dia mendirikan  organisasinya.

Nama Boedi Oetomo  diusulkan oleh M. Soeradji, yang kemudian  menjadi salah satu komisaris BO. Soetomo  lahir di Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, pada  tanggal 30 Juli 1888, dengan nama kecil  Raden Soebroto. Namun kemudian  namanya diganti oleh pamannya menjadi  Soetomo. Kaya'nya Soetomo waktu sekolah  termasuk siswa yang jenius, karena dia  terkenal suka nyontek, malas, suka iseng,  hobi berkelahi, tapi kok dia bisa mendirikan  sebuah organisasi yang menjadi inspirasi  kebangkitan suatu negara. Jenius nggak  sih?? Hehe…

Kendali BO kemudian dipegang oleh  para bupati yang diawali dengan terpilihnya  Bupati Karanganyar, Raden Adipati  Tirtokusumo, pada kongres BO yang  pertama yang diselenggarakan pada  tanggal 3 Oktober 1908 di Jogjakarta.  Kepemimpinan BO setelahnya terus  dipegang oleh para bupati seperti:  Pangeran Ario Notodirojo, Raden Ngabehi  Wediodipuro, dan Raden Mas Ario Suryo  Suparto. Padahal pada masa itu bupati  adalah tangan kanan pelaksanaan  pemerintahan tidak langsung (indirect rule  system) dari pemerintah kolonial Belanda.  Dengan kata lain para bupati ini adalah  orang-orang yang loyal kepada penjajah  Belanda. Mereka adalah antek penjajah.  Menuruti Karel Steenbrink, loyalitas para  bupati itu gede banget lho kepada  pemerintah kolonial Belanda.  

Contohnya, Bupati Cilacap  melarang penduduk di  wilayahnya untuk menunaikan  ibadah haji. Bupati Purwokerto  lebih ekstrem lagi, dia melarang  para ulama mengajar ngaji dan  bahkan melarang pembangunan  pesantren di wilayah  kekuasaannya. Pada Kongres Kedua BO di  Purwokerto di tahun 1909, dr.  Cipto Mangunkusumo  mengusulkan agar BO menerima  keanggotaan dari luar orang  Jawa. Tapi usul itu ditolak,  kemudian dr. Cipto keluar dari  BO. Dalam Algmene Vergradering  (semacam kongres) BO di  Bandung pada tahun 1915, sikap  Jawanismenya malah makin  dipertegas. Di sana malah  diteriakkan yel-yel hidup bangsa Jawa, hidup pulau Jawa, hidup BO, gitu.

BO juga menolak ajaran Islam. Mereka  mendasarkan gerakannya kepada agama  Jawa. Agama Jawa ini berpijak pada  ajaran Ramayana dan Mahabarata.  Agama Jawa nggak mengenal adanya  akhirat. Menurut paham ini, surga  adalah hidup yang enak di dunia, dan  neraka adalah hidup sengsara di dunia.  Amburadul!! Selain itu BO pun  menghina Rasulullah di dalam media  yang mereka terbitkan yaitu Djawa  Hisworo. 

Kacau kan… Jelas deh BO bukan penggerak  kebangkitan, tapi justru  mempertahankan penjajahan. BO cuma  klub para antek penjajah untuk  mempertahankan jabatan mereka dan  terus menyengsarakan rakyat Indonesia. Trus dari mana sih kok BO bisa  dijadikan landasan Kebangkitan  Nasional? Penetapan Harkitnas yang  jatuh pada tanggal 20 Mei mengikuti  hari lahir BO ditetapkan oleh Kabinet  Hatta (1948-1949).

Penetapan ini  dilakukan berdasarkan bukunya H.  Coliyn (Menteri Kolonial Belanda) yang  berjudul Koloniale Vraagstuken van  Heden en Morgen (Pertanyaan Kolonial  Hari Ini dan Esok). Pak Coliyn ini ternyata  adalah seorang pencinta BO. Dengan  kata lain, penetapan ini diinspirasikan  oleh penjajah sendiri. Gitchu! Islam and The Rise Kira-kira kenapa ya para bupati  mematuhi perintah Belanda dengan  melarang penduduk untuk berangkat  haji, melarang ulama ngajar ngaji, dan  melarang mendirikan pesantren? Itu  semua karena penjajah ngerti banget  bahwa Islam adalah spirit dan energi  besar yang akan menginspirasi  kebangkitan dan perlawanan terhadap  penjajahan. Makanya hubungan  terhadap ajaran Islam –gimana pun  caranya- mesti diputus.

Di berbagai  belahan dunia –bukan cuma di  Indonesia- Islam menjadi dasar  kebangkitan dan perlawanan terhadap  penjajahan. Kelahiran nabi Muhammad dan  diturunkannya Islam adalah titik awal  kebangkitan manusia. Islam menjadi  spirit bagi manusia untuk berubah  menjadi lebih baik dalam segala sisi.  Ketika penjajahan Belanda merajalela di  Indonesia, Islam pun menjadi spirit  perjuangan untuk melawan penjajah.  Perjuangan dipimpin oleh para ulama  dan kalangan pesantren. Mereka  melawan penjajah yang bukan cuma  menjajah secara politik dan militer, tapi  menyebarkan agama Kristen.  Tersebutlah para ulama yang melawan  penjajah dengan semangat tinggi  seperti: Pangeran Diponegoro, Tuanku  Imam Bonjol, Teungku Cik di Tiro, KH.  Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan,  Fatahillah, dll. Islam selalu menjadi  dasar kebangkitan.

Ayooo Bangkit Majuuu terusss… Bangkit apaan sih  yaaa? Gampangnya, bangkit adalah  sebuah perubahan yang tadinya  terpuruk jadi berdiri tegak. Pindah dari  keadaan yang buruk menjadi lebih baik.  Dengan kata lain, bangkit adalah  berubah. Di dalam QS. Ar Ro'du ayat 11  Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah  tak akan mengubah keadaan suatu  kaum sebelum kaum itu sendiri yang  mengubah keadaan mereka.” Nah, kata  kunci kebangkitan adalah perubahan.  Trus apaan dong yang diubah?  Yang paling utama yang mesti kita  ubah adalah pemikiran kita. Karena pemikiran  kitalah yang menjadi dasar dari segala ucapan dan  tindakan kita.

Contohnya, kalo kita berpikir bahwa  hidup kita adalah untuk bersenang-senang, maka  hidup kita hanya akan kita jalani untuk bersenang-senang aja. Dan kalo kita berpikir bahwa hidup  kita adalah untuk meraih kebahagiaan dunia  akhirat dengan menaati aturan Allah swt, maka  pastilah kita akan menjalani hidup kita dengan  mengikatkan diri kita pada aturan Islam.  Agar pemikiran kita keep in touch with Islam,  pastinya memori otak kita mesti sering diempanin  wawasan Islam. Semakin banyak dan kontinyu  kita mengkaji Islam, semakin mudah kita  membangun cara berpikir Islam dalam diri kita.  Makanya, mari kita mengenal Islam lebih dalam.  Di sanalah pentingnya ngaji yang akan menjadikan  Islam sebagai dasar kebangkitan kita.  

Eit, nggak cukup belajar Islam cuman untuk  konsumsi pribadi. Meneladani Rasul dan para  Sahabat, mereka getol mengajarkan setiap  kalimat yang dipelajarinya ke orang lain gak pake  lama. Dengan begitu, bola dakwah Islam akan  terus bergulir dan membesar. Sehingga  masyarakat semakin mengenal Islam dan  meyakini hanya Islam yang bisa mengantarkan  mereka pada kebangkitan hakiki untuk kehidupan  yang lebih baik.  Rise 4 Islam. Go![sayf 
Diberdayakan oleh Blogger.