Header Ads

KONFTRNSI RAJAB ANTARA GENGSI DAN EKSISTENSI

Hasan dan Anto masih betah melototin layar  monitor LCD di rental dekat kampus. Padahal  penjaganya udah dari tadi matanya meletet (baca:  lima watt). Gimana nggak, jam dinding warnet  udah nunjukkin jam 2 pagi! Tapi dua anak rohis ini  kaya anti ngantuk gitu. Padahal mah, kedua bocah  SMA Cenat-Cenut ini setengah hidup nahan  kantuk biar proposal acara kegiatan Isra Mi'raj  kelar dan besok disetor ke kepsek. 

Sementara itu di rumah ketua DKM Nurul Falah 6  jam sebelumnya, yang kebetulan Bapaknya Anto,  keliatan dijejali jamaah yang duduk melingkar.  Bukan untuk ngegosip apalagi nonton bareng  partai hidup mati, el-classico antara Barcelona vs  Real Madrid, tapi lagi rapat perayaan hari besar  Islam: Isra Mi'raj! D'RISEr, bulan rajab dikenal sebagai bulan penuh  kemuliaan. Diantaranya karena termasuk salah  satu 'bulan haram', yaitu bulan yang steril dari  peperangan atau pertumpahan darah.

Bahkan  dalam sebuah risalahnya yang berjudul Tabyin al-'Ajab bima Warada fi fadhli Rajab, Al-Hafizh  Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-Asqalani menyebut nama lain bulan Rajab dengan  18 nama. Yang terkenal adalah 'Al-Ashamm" (yang  tuli), karena tidak terdengarnya gemerincing  pedang yang saling beradu dalam sebuah  peperangan. Nama lainnya Al-Ashabb (limpahan),  karena limpahan rahmat yang banyak diturunkan  pada bulan itu.

Dua Peristiwa Besar di Bulan Rajab Kemuliaan bulan Rajab juga mengingatkan kita  pada peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah  Islam. Di antaranya peristiwa Isra dan Mi'raj dan  keruntuhan khilafah islamiyah. Pertama, Peristiwa Isra' Mikraj, yang diyakini  terjadi tanggal 27 Rajab. Peristiwa yang terjadi  sekitar 14 abad lalu ini diabadikan langsung dalam  al-Quran (QS al-Isra' [17]: 1).

Pada saat itu Baginda  Nabi Muhammad saw. diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram  di Makkah ke Masjidil Aqsha di al-Quds (Palestina), lalu dilanjutkan  dengan menembus lapisan langit tertinggi (Sidratul Muntaha').  Semua itu ditempuh dalam sehari-semalam. Peristiwa itu begitu  istimewa. Karena itu, hampir setiap tahun, tanggal tersebut  dijadikan momentum oleh sebagian kaum Muslim untuk  mengadakan Peringatan Isra' Mikraj.

Rajaban alias peringatan terkait peristiwa Isra dan Mi'raj ini yang  jadi agenda rutin di sekolah atau mesjid sekitar rumah. Ada nuansa  gengsi saat ngadain kegiatan tabligh akbar, ceramah siraman  rohani, atau kegiatan sosial yang intinya nunjukkin kepedulian  terhadap peringatan hari besar Islam. Kalo nggak ngadain,  hmm...alamat dicap gak islamilah, rohisnya melempemlah, atau  mesjid yang nggak makmur.  Kedua, Peristiwa Keruntuhan Khilafah Islamiyah. Peristiwa ini juga  terjadi pada bulan Rajab, 89 tahun lalu, tepatnya tanggal 28 Rajab  1342 H. Berbeda dengan Isra' Mikraj yang memang merupakan  peristiwa besar yang langsung dialami Baginda Nabi saw. dan  diabadikan al-Quran, keruntuhan Khilafah adalah peristiwa yang  dianggap 'tidak terlalu penting' oleh kaum Muslim. Padahal  peristiwa tersebut berhubungan dengan salah satu warisan yang  ditinggalkan Baginda Nabi saw.

Ya, Khilafahlah pelanjut sistem  pemerintahan Islam yang pondasi dan pilar-pilarnya dibuat dan  dipraktikan Baginda Rasulullah saw. saat beliau memimpin Daulah  Islam di Madinah. Nggak lama setelah peristiwa Isra' Mikraj (hanya sekitar setahun),  terjadi peristiwa besar yang juga tidak bisa dilupakan kaum  Muslim, yakni peristiwa hijrah Nabi saw. dan kaum Muslim ke  Madinah. Peristiwa ini tentu penting karena menjadi tonggak  pertama tegaknya Daulah Islam yang dipimpin langsung oleh Nabi  saw. sebagai kepala negaranya. Sejak Nabi memproklamirkan  berdirinya Daulah Islam di Madinah, kaum Muslim memiliki  institusi negara yang menjadi pelayan, pengayom dan pelindung  mereka. Melalui Daulah Islam pula hukum-hukum Islam diterapkan  dalam seluruh aspek kehidupan dan Islam disebarluaskan ke  seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Setelah Nabi saw. wafat, kepemimpinan negara kemudian beralih  ke tangan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah (kepala negara)  pertama. Khalifah Abu Bakar ra. mengawali era Khulafaur Rasyidin.  Sejak itu era Kekhilafahan Islam dimulai. Era Khulafaur Rasyidin  kemudian berakhir, lalu digantikan oleh era Khilafah Umayyah. Era  Khilafah Umayyah kemudian diganti oleh era Khilafah Abbasiyyah.  Selanjutnya, era Khilafah Abbasiyyah diganti oleh era Khilafah  Utsmaniyah.

Sayang, era Khilafah Utsmaniyah ini harus berakhir  tragis karena diruntuhkan oleh tangan-tangan  penjajah Barat, yakni Mustafa Kamal Attaturk,  tepat tanggal 28 Rajab, 89 tahun lalu. Inilah yang  menandai peristiwa penting kedua di bulan Rajab. Peduli Akan Sebuah Eksistensi D'RISEr, keruntuhan Khilafah pada 28 Rajab 1342  H telak banget menghantam eksistensi ajaran  Islam dan kaum Muslimin sedunia. Biar kata umat  Islam tetep update status di dunia maya, tapi  kenyataannya di dunia nyata status keterpurukan  umat Islam tak bergeming. Terpecah belah lebih  dari 50 negara. Akibatnya fatal, sejak saat itu  hingga detik ini, permasalahan yang menimpa  umat Muslim nggak pernah absen. Ada aja.

Mentang-mentang gak ada lagi Khalifah Abdul  Majid, musuh-musuh Islam dengan seenaknya  melecehkan baginda Nabi Muhammad saw.  Padahal dulu, Khalifah Abdul majid segera  mengambil tindakan politik terhadap Perancis  pada saat beliau mendengar akan diselenggarakan  pertunjukan drama karya Voltaire berjudul  “Muhammad atau Kefanatikan”, yang dengan  terang-terangan menghina Rasulullah SAW, Zaid  dan Zainab. Negeri fashion itu pun ngeper.  Mentang-mentang gak ada lagi khalifah al-Mu'tashim, sodara muslimah kita dilecehkan di  Perancis, Palestina, atau Amerika.

Padahal dulu,  Khalifah al-Mu'tashim Billah memimpin  pasukannya menyerang kota Amuria,  menghancurkan benteng pertahanannya dan  menaklukkan penguasanya ketika beliau  mendengar seorang Muslimah dizalimi oleh  seorang Romawi dan penguasa Romawi menolak  menyerahkan pelaku kezaliman itu untuk di-qishash.  Mentang-mentang gak ada lagi khalifah Harun al-Rasyid, Amerika dan Israel dengan seenaknya  merusak perjanjian damai di negara Palestina.  Padahal Harun ar-Rasyid bersikap tegas terhadap  Nakfur Raja Romawi yang telah merusak  perjanjian yang diadakan dengan kaum Muslim.  

Saat itu Ar-Rasyid mengirim surat kepada Nakfur,  yang isinya: “Dari Harun, Amirul Mukminin,  kepada Nakfur, anjing Romawi. Jawaban atas sikap  permusuhanmu adalah apa yang akan kamu lihat,  bukan apa yang akan kamu dengar.” Nakfur pun  benar-benar bisa melihat tentara kaum Muslim,  ketika mereka masih di perbatasan Romawi,  sebelum surat ar-Rasyid sampai kepadanya.

Nyali  Ciut MODe: ON! D'RISEr, Khalifahlah yang benar-benar menjadi  pemelihara bagi kaum Muslim. Di bawah naungan  Khilafah, umat Islam benar-benar bisa merasakan  kehidupan yang mulia dan terhormat. Mereka  diselimuti perasaan aman dan nyaman, kewajaran  dan keadilan, serta kemakmuran dan sejahtera.  Saking makmur dan sejahtera, pernah ada suatu  masa saat tidak ada lagi rakyat yang mau  mengambil zakat, karena semua merasa telah kaya! Hal itu  pernah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.  

Beliau pun pernah menulis surat kepada amilnya (kepala  daerah) di Samarkand, Sulaiman bin Abi as-Samri:  “Hendaklah kamu membangun beberapa penginapan di  wilayahmu. Jika ada di antara kaum Muslim yang melewati  wilayahmu maka biarkan mereka tinggal sehari semalam  dan uruslah kendaraannya. Jika ia masih punya alasan  untuk tinggal maka biarkan ia tinggal sehari dua malam.  Jika ada seseorang yang kehabisan bekal maka berilah ia  harta yang cukup untuk sampai ke daerah tempat  tinggalnya.” So, menjelang kedatangan bulan Rajab, berikan perhatian  kita juga untuk sebuah eksistensi ajaran Islam dan kaum  Muslim dalam bingkai Khilafah Islamiyah.


Tidak hanya  gengsi dibalik perayaan hari besar Islam. Karena hanya  khilafah sebagai mercusuar kebaikan, mampu menerangi  gelapnya jalan kebangkitan yang dihancurleburkan oleh  sistem kapitalis sekuler. Keruntuhan khilafah tidak untuk  diratapi dan disesali, tapi untuk diyakini bahwa suatu saat  khilafah pasti berdiri lagi. Sesuai janji Allah SWT: “Allah  telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan  mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia  sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di  bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang  yang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi  mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan  benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah  mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa”.  (QS an-Nur [24]: 55). Khilafah, Just a  matter of time![341] 
Diberdayakan oleh Blogger.