Header Ads

HIDEN AGEN DIBALIK TREND IDOLA

Dalam ilmu marketing, penting banget menciptakan  konsumen loyal yang diikat oleh emosional untuk  Dmeningkatkan trafik penjualan produk. Disinilah  pentingnya kehadiran sang idola. Para produsen produk-produk dengan brand international yang mayoritas dikuasi  asing merasa berkepentingan untuk mensukseskan trend  idola di kalangan remaja.

Sehingga produk-produk andalan  mereka bisa diserap pasar, terutama remaja, yang membeli  atas pertimbangan emosional dengan mengesampingkan  pertimbangan agama. Produk andalan mereka tercakup  dalam 3F:

1. Food.  Remaja digiring untuk menjadi maniak junk food  (makanan sampah) dengan perantaraan sang idola.  Label trendy dan remaja gaul seolah menafikan  minimnya nutrisi yang terkandung dalam junk food.  Tak sedikit juga remaja muslim yang tergoda untuk  mencicipi minuman alkohol berkadar rendah atau  kuliner yang bahan mentahnya diragukan  kehalalannya. Remaja muslim udah lupa dengan  pertimbangan halalan dan thoyyiban dalam memilih  makanan.  

2. Fun. Hiburan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari  ekspresi jiwa muda, jadi ladang fulus bagi para Event  Organizer dengan mencantolkan idola remaja sebagai  daya tariknya. Remaja disihir untuk mengidolakan  sepenuh hati dan jiwa para selebriti melalui blow up  tayangan musik dan gosiptaintment. Sehingga  pagelaran konser musik idola tak pernah sepi  peminat. Bahkan mereka rela antri untuk dapetin  selembar tiket senilai ratusan ribu.

Remaja muslim  dibuat lupa dengan kuatnya nilai-nilai kebebasan  berbuat (permissif) yang kental dalam produk  hiburan. Udah nggak peduli lagi dengan campur baur  (ikhtilat) cewek-cowok saat menikmati konser musik  atau nonton film box office dalam bioskop. Waktu  hidup remaja dihabiskan untuk melototin game  online, berita selebriti, perkembangan liga eropa,  perburuan new hit list dari musisi idola, hingga  content pornografi dan pornoaksi dalam film atau  sinetrons. Tak ayal, otak mereka jarang diajak untuk  berpikir produktif. Akhirnya, remaja muslim jadi cupu  (culun punya) yang manut-manut ngikutin apa pun  yang dikerjain sang idola.  

3. Fashion  Selain berkiprah di blantika musik maupun layar kaca,  para musisi idola juga jadi incaran para perancang  busana. Pakaian dan pernak-pernik yang dipakai para  idola, jadi kiblat busana remaja. Perkara pantes atau  kagak, urusan belakangan. Yang penting baju celana  nggak ketinggalan jaman. Walhasil, tak sedikit remaja  muslimah yang udah lupa dengan kewajiban menjaga  harga dirinya dengan menutup aurat lantaran terbawa  arus tren fashion yang mengumbar aurat.  


Driser, trend idola yang merajalela mengharuskan kita  siaga bin waspada. Musuh-musuh Islam akan teriak  kegirangan ngeliat remaja en remaji muslim ngabisin  waktu, tenaga, pikiran, dan duitnya untuk ngikutin  perkembangan dan meniru tingkah polah sang idola. Walhasil,  produktifitas generasi muda Islam menurun drastis sampai  titik nol. Bahkan minus. Remaja yang diharapkan menjadi  pemegang estafet kebangkitan umat, malah terhanyut dalam  kehidupan hedonis yang dicontohkan para idolanya. Saatnya  kita bergerak melawan serangan trend idola yang kian massif.  Karena idola, nggak bikin hidup kita mulia.[341 
Diberdayakan oleh Blogger.