Header Ads

Eksistensi anti Mati

Keruntuhan Khilafah Islamiyah terakhir pada tanggal  27 Rajab 1324 H, emang menyesakkan. Umat Islam  Kseperti anak ayam kehilangan induknya. Lari  berpencar kesana-sini guna menyelamatkan diri ketika  bahaya mengancam. Meski begitu, bukan berarti catatan  emas kejayaan Islam punah begitu saja seiring berakhirnya  kehilafahan Utsmaniyah.

 Kenyataannya, eksistensi  ketinggian peradaban Islam masih bisa ditelusuri dari  catatan sejarah hingga bukti fisik yang tak lekang oleh  waktu. Bahkan, tak sedikit cendikiawan barat yang secara  jujur bin terang-terangan mengakui keagungan peradaban  Islam.  Sebut saja Jacques C. Reister  “Selama lima ratus tahun  Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu  pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.” Atau  Montgomery Watt, “Cukup beralasan jika kita menyatakan  bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses   regenerasi mereka sendiri.

Tanpa dukungan peradaban  Islam yang menjadi  'dinamo'-nya, Barat bukanlah apa-apa.” Karena itu, driser wajib tahu seperti apa kegemilangan  peradaban Islam dulu. Bukan bermaksud ngungkit-ngungkit  masa lalu, tapi sekedar kasih gambaran keagungan  peradaban Islam yang akan terjadi lagi untuk kedua kalinya.  Lets cekidot! Peradaban Islam:
Peradaban Emas

1.    Tingginya Kemampuan Literasi. Kalo buku dianggap sebagai salah satu warisan sebuah  peradaban yang gilang-gemilang maka peradaban Islam  layak memimpin klasemen sebuah peradaban yang   ditopang oleh buku. Coba bayangin, pada abad ke-10,  misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan  umum. Yang terkenal di antaranya adalah Perpustakaan  Umum Cordova, yang saat itu memiliki tidak kurang dari  400 ribu judul buku. Padahal empat abad setelahnya, dalam  catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja  Canterbury saja, yang terbilang paling lengkap pada abad  ke-14, hanya miliki 1800 (1,8 ribu)  judul buku.

 Jumlah itu  belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan  Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo yang  yang mengoleksi  tidak kurang 2 juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli  di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib  Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku,  termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Di  Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim  yang menyimpan buku-bukunya di dalam 40 ruangan.  

Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18 ribu judul buku.  Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720  ribu judul buku.  Menggambarkan hal ini, Bloom dan Blair menyatakan,   “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek  huruf membaca dan menulis) Dunia Islam di abad  pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa.  Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban  ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam - A Thousand  Years of Faith and Power, Yale University Press, London,  2002, p-105).

2.    Lahirnya Banyak Ilmuwan Besar dan Karya-karya  Fenomenal Mereka. Peran perpustakaan yang bukan cuman jadi showroom  buku-buku jadul, tapi justru jadi pusat pengkajian dan  pengembangan atas isi buku-buku ikut membidani lahirnya  para ilmuwan dan cendekiawan Muslim jempolan. Ada  Ibnu Sina (terkenal di Barat sebagai Aveciena), misalnya,  adalah seorang pakar kedokteran. Ia meninggalkan sekitar  267 buku karyanya. Al-Qânûn fi al-Thibb adalah bukunya  yang terkenal di bidang kedokteran. 

 Selanjutnya ada al-Idrisi, pakar geografi. Orang Barat  menyebutnya Dreses. Al-Idris (1099-1166) dikenal oleh  orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi. Ia pernah  membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400  kilogram untuk Raja Roger II dari Sicilia.  Selain beliau, masih ada nama yang patut disebut  sebagai penyumbang peradaban untuk dunia.

Dialah Jabir  Ibn Hayyan, masternya ilmu kimia yang meletakkan dasar  untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya  pada bahan metal, non-metal dan penguraian zat kimia.  Kitabnya yang masyhur, Kitâb al-Kimya dan Kitâb as-Sab'în—sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa  latin. Tanpa kehadiran para ilmuwan dan cendekiawan  Muslim yang telah mewariskan peradaban yang sangat  agung, kemajuan peradaban Barat saat ini tidak mungkin  terjadi.

Sebab, merekalah sesungguhnya yang menjadi  penghubung peradaban Yunani dan Romawi dengan  peradaban Eropa saat ini. Secara jujur, hal ini diakui oleh  salah seorang cendekiawan Barat sendiri, yakni Emmanuel  Deutscheu asal Jerman. Ia mengatakan, “Semua ini (yakni  kemajuan peradaban Islam) telah memberikan  kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan  (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena  itu, sewajarnyalah kami senantiasa mencucurkan airmata  tatkala kami teringat akan saat-saat jatuhnya Granada.”  (Granada adalah benteng terakhir Kekhilafahan Islam di  Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa).

Bukti-bukti Arkeologis Keagungan Peradaban Islam Di Turki hingga hari ini, ada sebuah masjid/museum  terkenal bernama Aya Sofia. Di Aya Sofia dipamerkan  surat-surat Khalifah  (“Usmans Fermans”) yang  menunjukkan kehebatan Khilafah Utsmaniyah dalam  memberikan jaminan, perlindungan dan kemakmuran  kepada warganya maupun kepada orang asing pencari  suaka, tanpa pandang agama mereka.  Yang tertua adalah surat sertifikat tanah yang diberikan  tahun 925 H (1519 M) kepada para pengungsi Yahudi yang  lari dari kekejaman Inquisisi Spanyol pasca jatuhnya  pemerintahan Islam di Andalusia.

Kemudian surat ucapan  terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan  pangan yang dikirim Khalifah ke Amerika Serikat yang  sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris),  abad 18. Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja  Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil ke  Khalifah, 30 Jumadil Awal 1121 H (7 Agustus 1709).  Selanjutnya ada surat tertanggal 13 Rabiul Akhir 1282 H (5  September 1865 M) yang memberikan ijin dan ongkos  kepada 30 keluarga Yunani yang telah beremigrasi ke Rusia  namun ingin kembali ke wilayah Khilafah, karena di Rusia  mereka justru tidak sejahtera.

Yang paling mutakhir adalah  peraturan yang membebaskan bea cukai barang bawaan  orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah Utsmani  pasca Revolusi Bolschewik, tertanggal 25 Desember 1920. Kordoba sebagai ibukota Khilafah Umayah di Spanyol  dibangun pada tahun 750 M telah menjadi pusat  peradaban hingga 1258 M.  Di sana terdapat Taman  Alcazar yang sangat indah. 

Mengingat Andalusia dikelilingi  oleh tanah-tanah yang gersang maka keberadaan taman  itu membuktikan sistem irigasi yang baik.  Irigasi memang  salah satu teknologi yang diwariskan Islam.   Di banyak negeri Timur Tengah, masih dijumpai kincir  untuk menaikkan air yang dibangun berabad-abad yang  silam—dan kincir ini masih berfungsi! 

Di beberapa kota  gurun pasir juga masih dijumpai sistem distribusi air  bawah tanah, yang disebut Qanat. Di Cina juga terdapat banyak masjid berusia minimal  1000 tahun.  Di India, meski sejak masa penjajahan Inggris  didominasi oleh warga beragama Hindu, sebagian besar  bangunannya berarsitektur Islam; termasuk Tajmahal,  sebuah bangunan mirip masjid yang sangat indah, padahal  sebenarnya hanya makam.

Mengembalikan kejayaan Islam Driser, dulu Islam jaya justru karena semua-mua  aturannya diterapkan oleh Khilafah Islamiyah. Islam  diemban sebagai ideologi negara. Berarti sekaranglah  waktunya buat kita, kaum Muslimin untuk ikut berjuang  demi kembalinya kejayaan Islam. Karena Khilafah Islam  udah nggak ada, berarti tugas kita untuk ngadain lagi.  Sekarang yang jadi pertanyaan, kira-kira posisi apa yang  bisa kita tempatin untuk ikut andil dalam perjuangan Islam  sekarang ini? Gampang. Minimal kita nggak malu untuk mempelajari,  memahami, dan menyampaikan Islam.

Yang penting kita  ambil bagian dalam dakwah Islam. Sebagai langkah awal,  kita bisa ngikut kajian Islam. Syukur-syukur berlanjut jadi  kajian rutin. Biar pemahaman kita makin kuat dan berani  menyuarakan Islam di lingkungan kita yang sekular. Bagusnya kita juga ikut gabung dengan harakah  (gerakan Islam) yang bertujuan untuk menegakkan hukum  Allah melalui tegaknya Khilafah Islamiyah. Dengan  bertambahnya barisan perjuangan Islam dan keikhlasan  para pejuang itu, kita berharap pertolongan Allah segera  datang. Sehingga kaum Muslimin akan berjaya kembali.  

Seperti janji Allah: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang  beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang  saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan  mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah  menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa  (QS. an-Nûr [24]: 55) Nah driser, kejayaan Islam memang tinggal sejarah, tapi  dakwah Islam nggak boleh punah.


 Lantaran kita  dan  mungkin anak-cucu kita yang bakal meneruskan tongkat  estafet perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Islam  yang akan memimpin kembali dunia ini. Jadi, tetep  kenceng dakwahnya, tetep semangat berjuangnya, tetep  istiqomah dalam jalan-Nya. We are the champions! [341] 
Diberdayakan oleh Blogger.