Header Ads

Di balik trend sinetron pesantren

Syukurlah orang tua, pacar, bisa mengerti…,”  tutur  Aulia Sarah, pemeran Nada dalam sinetron  Pesantren Rock n Roll, tentang lokasi syuting di  Cipanas yang jauh dari rumahnya di Jakarta. Pesantren Rock n Roll berkisah tentang kehidupan di  sebuah pondok pesantren di Yogyakarta.

Fokus cerita  pada tokoh vokalis band rock n' roll bernama Wahyu  Subuh (Ali Syakieb), yang dikirim ayahnya berguru di  Pesantren Darussalam pimpinan Kiai Abdullah (Wawan  Wanisar). Di situ ia bertemu Najib (Ramzi), santri senior  yang juga ketua pengurus pesantren. Dua anak muda tersebut tidak akur. Dan, Kiai Abdullah  selalu membela Wahyu. Najib kian nelangsa karena  anak perempuan Kiai Abdullah, Nada (Aulia Sarah) yang  ditaksirnya, ternyata memberi angin pada Wahyu.

Dibumbui adegan-adegan konyol, sinetron produksi  Screenplay Productions ini pada awal tayang sudah  memiliki rating cukup lumayan menurut sigi lembaga  pemeringkat AGB Nielsen yaitu 2-3 dengan share hingga  21%. Iklan pun berjubel menyela tayangannya. Itu artinya, sinetron tersebut cukup laris. Dan sialnya,  tayangan televisi termasuk sinetron bukan sekadar  tontonan tapi sudah jadi tuntunan.

Gerbner menyebut  dunia televisi sebagai not a window on or reflection of  the world, but a world in itself. Maka, sesuai ''pesan moral'' Pesantren Rock n Roll,  santri lain jenis,  bergaul rapat bahkan pacaran di  pesantren seperti Wahyu-Dana, bukan hal tabu. Ajaran  ini diperkuat dengan pernyataan Aulia Sarah yang  dengan enteng mengaku sudah punya pacar dan dalam  kesehariannya , tidak. Artinya, bagi fans Pesantren Rock  n Roll dan Aulia, jilbab tak lebih sekadar mode busana.

Selain motif material mengeruk untung dari jualan  budaya pop, tren sinetron religi semacam itu juga  bagian dari  strategi global untuk melemahkan  pesantren.  Pesantren adalah benteng pendidikan Islam. Dan, ''Lembaga  pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru  ketimbang kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh  mereka,'' kata Donald Rumsfeld kepada Washington dalam  memonya pada 16 Oktober 2003.

Seruan pejabat Amerika itu diperkuat oleh proyek penelitian Pusat  Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri  (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dalam sebuah penelitiannya,  PPIM menyimpulkan: ''Sejumlah kitab kuning yang diajarkan di  pondok pesantren banyak mendukung tindakan kekerasan atas  nama agama.

Akibatnya, banyak orang yang melakukan kekerasan  atas nama agama.'' Donald Rumsfeld lalu merekomendasikan AS untuk  menciptakan lembaga donor guna mengubah kurikulum  pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat.  Wasiat dijalankan. Di Pakistan, Amerika mengucurkan dana  100 juta Dollar kepada pemerintah untuk mengontrol 7000  pondok pesantren setempat. Pengawasan dan pengendalian  dilakukan melalui Inter-Service Intelligence (ISI) yang menyensor  kurikulum, selebaran, tabloid, dan percetakan milik pesantren.  

Belakangan, AS juga berusaha menekan Mesir agar merombak  kurikulum Universitas Al Azhar.  Melalui tangan pemerintahan, AS  berusaha mempersulit pendirian masjid dengan memberlakukan  10 persyaratan ketat.  Di Indonesia, AS melakukan politik stick and carrot terhadap  pesantren. Pada 18-28 September 2002, Institute for Training and  Development (ITD), sebuah lembaga Amerika, mengundang 13  pesantren ''pilihan'' di Indonesia (dari Jawa, Madura, Sumatera,  Kalimantan, dan Sulawesi) untuk berkunjung ke Amerika. Masing-masing pesantren mendapat ''bantuan'' 2000 Dollar.

Pada 27-29 Januari 2011, sekitar 75 kyai Banten berkumpul di  sebuah hotel di Serang, Banten. Kedatangan mereka atas  undangan khusus Kementerian Agama Pusat, untuk mengikuti  seminar bertajuk “Moderasi Pendidikan Pondok Pesantren”. Acara  ini diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian  Agama Pusat dengan RMI (Rabithah Ma'ahid Islamiyyah).  Sebaliknya, pesantren seperti Al Mukmin, Ngruki, Solo, dicap  sebagai sarang dan produsen ''teroris''. AS dan Australia juga mengucurkan dana 250 juta Dollar untuk  mengembangkan pendidikan Indonesia.

Sejatinya, menurut  diplomat Australia yang dikutip The Australian (4/10/2003),  sumbangan itu untuk mengeliminasi madrasah-madrasah yang  menghasilkan para ''teroris'' dan ulama yang membenci Barat. Lebih jauh, sebagaimana dipaparkan David E. Kaplan (2005),  puluhan juta Dollar digelontorkan Washington bukan hanya untuk  mempengaruhi masyarakat Islam tapi juga untuk merombak  ajaran Islam itu sendiri.

Dana itu sebagian disalurkan lewat The  Asia Foundation (TAF), seperti kepada 30 ormas untuk  mengkampanyekan isu-isu gender, HAM, Islam moderat, Civil  Society dan lain-lain.  Raymond Bonner, seorang jurnalis investigasi majalah Times,  dalam bukunya Waltzing with a Dictator: The Marcoses and the  Making of American Policy, tanpa sungkan menyebut TAF sebagai  bentukan dan kedok CIA.


D’RISEr, semakin gencarnya tayangan sinetron religi, kian  banyak juga yang patut kita waspadai. Terlepas dari hubungan  seperti apa antara rumah produksi dengan isu terorisme, tren  sinetron pesantren ikut menggiring opini masyarakat untuk phobi  terhadap ajaran Islam dan para pengemban dakwah. So, tetep  melek media![] 
Diberdayakan oleh Blogger.