Header Ads

BOLA PANAS "N-SEBELAS"

Ah, cipoa belaka. Berita yang dihebohkan oleh  Metro TV, Media Indonesia, dan beberapa situs  Aberita internet tentang trio kakak beradik yang  dikerjain NII (Negara Islam Indonesia), ternyata disanggah  keras Mingming Nuryanti, salah satu objek berita.

''Itu semua bohong!'' tandas Mingming Sari Nuryanti.  Dalam surat klarifikasinya yang dimuat situs  arrahmah.com, Mingming menjelaskan kaburnya dia  bersama adik-adik dari rumah keluarga sejak 2008 akibat  diusir orangtua mereka. Bukan lantaran disekap dan dicuci  otaknya oleh NII. Gitchu! Kini, heboh soal kelompok ini kembali mencuat.  Berawal dari Laela Febriani (26) alias Lian, staf di  Kementerian Perhubungan yang diberitakan hilang pada  Kamis (7/4/2011).

Lian ditemukan petugas Keamanan  Masjid At Ta'awun Puncak Bogor pada Jum'at (8/4/2011).  Saat itu kondisinya lemas dan bingung. Konon ia jadi  korban “pencucian otak” NII.  Menurut Ken Setiawan, aktivis NII Crisis Center,  gerakan brain-washing NII rapi dan terorganisir. Misalnya  pada 2000-2002, mampu memobilisasi banyak pembantu  rumah tangga untuk mencuri di rumah majikannya.  Hasilnya disetor ke NII.

Di Malang, Jawa Timur, 15  mahasiswa jadi korban cuci otak NII. Mereka kuliah di  Universitas Muhammadiyah sebanyak 13 orang, dan di  Universitas Brawijaya dua orang.  Pada 5 Oktober 2002, Tim Peneliti MUI menyimpulkan  adanya indikasi kuat relasi antara Ponpes Al Zaytun  Indramayu dengan organisasi NII KW (Komandemen  Wilayah) IX. Hubungan tersebut bersifat historis, finansial,  dan kepemimpinan. Doktrin ajaran NII KW IX disebut Mabadi Tsalasah (tiga  prinsip dasar).

Salah satunya, mengkafirkan umat di luar  kelompok mereka. Konsekuensinya, darah dan harta umat  di luar kelompok mereka dianggap halal. Maka sah-sah  saja melakukan tipu daya, berbohong, dan mengambil  harta ''kaum kafir'' itu.  Menurut NII Crisis Center, penyimpangan dalam  masalah aqidah dan syariat NII antara lain: Menafsirkan al  Qur'an sesuai dengan kepentingan organisasi, Membagi  shalat menjadi dua, shalat ritual dan shalat universal,  Mengubah zakat jadi harakah Ramadhan dan harakah  Qurban, Melaksanakan haji ke ibu kota negara (yaitu  Indramayu Jabar), Menghalalkan segala cara untuk meraih  target.  

Menurut MUI, NII adalah bentuk makar terhadap NKRI.  Pengaduan korban, kesaksian mantan anggotanya, dan  hasil penelitian Balitbang Depag (Februari 2004), MUI (5  Oktober 2002) serta temuan Intelkam Mabes Polri, sudah  lebih dari cukup untuk menindaknya.  Anehnya, meskipun gerakannya sudah gamblang makar, kader-kader  NII dikatakan berhasil membangun relasi dan melakukan infiltrasi  termasuk ke partai politik.

Mantan Menteri Peningkatan Produksi NII KW  IX, Imam Supriyanto, menyebutkan banyak kader NII KW IX masuk ke  partai politik seperti Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Republikan,  dll. Imam yang masuk NII KW IX sejak 1997-2007 menyebutkan,  masuknya kader NII ke sejumlah parpol memiliki target akhir berupaya  melakukan perubahan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI).

"Targetnya ideologi, ending-nya perubahan konstitusi," cetusnya. Lebih aneh lagi, NII KW IX tak diutak-atik sampai sekarang. Bahkan  senantiasa mesra dengan rejim demi rejim penguasa. Peneliti Sejarah NII  Solahuddin dalam dialog ''Polemik NII dan Radikalisme'' di Jakarta, Sabtu  (30/4), mengungkapkan, NII KW IX eksis karena dipelihara elite penguasa. Bergulirnya bola panas isu N-Sebelas (NII), menurut pengamat politik  HTI Harist Abu Ulya, pada akhirnya memang dimaksudkan untuk  menebar alergi, ketakutan, dan permusuhan masyarakat terhadap  konsep Negara Daulah Khilafah Islam dan para pejuangnya (pribadi dan  kelompok).

 Selain itu, ekspos masif NII juga akan dijadikan dalih bagi  diresmikannya UU Intelijen, UU Keamanan Negara, dan Perubahan UU  Anti Terorisme  yang represif terhadap aktivis Islam. ''Isu NII ini  dimaksudkan untuk memperkuat isu bom buku, bom Cirebon, dan  berbagai isu 'terorisme' lain yang menimbulkan kesan seolah-olah  Indonesia sudah jadi terrorist-field. Situasi ini sebagai pra-kondisi untuk  menjustifikasi penerbitan UU represif,'' jelas Abu Ulya. Dia mengingatkan pada statemen Menhan Purnomo Yoesgiantoro  sebelumnya, bahwa pemerintah kesulitan menangani NII karena belum  ada payung hukum kuat.

Alasannya, Indonesia belum punya UU  Keamanan Nasional dan UU Intelijen yang masih banyak ditentang  elemen masyarakat karena dianggap represif. Alasan serupa juga digembar-gemborkan mantan Kepala Bakin AM  Hendropriyono dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  Arsyad Mbai. Lahirnya UU Terorisme pun didahului dengan fitnah-fitnah  bom Bali, yang belakangan disinyalir sebagai proyek kerjasama intelijen  dan militer asing serta lokal seperti pernah dikemukakan Fred Burks dan  Abdurrahman Wahid.


 DRISEr, keliatan kalo bola panas 'N-Sebelas' cuman cara picisan yang  dipake musuh-musuh Islam untuk meredam geliat dakwah para aktivis  dan kampanye penerapan syariah Islam di bumi nusantara ini. Perlahan  tapi pasti, isu-isu picisan itu bakal terbongkar. So, keep istiqomah dalam  dakwah and dont give up![ 
Diberdayakan oleh Blogger.