Header Ads

Be smart by Annisa Nurjannah

Smart, sebagaimana makna katanya adalah cerdas atau  pintar. Menurutku, Smart bisa dimaknai macam-macam.  Tergatung siapa yang bilang dan pake kacamata apa. Kalo  pake kacamata para kapitalis, tentu nggak jauh-jauh dari azas  matrenya, manfaatnya. Semakin banyak dapet materi (duit  tah,ilmu tah dll) semakin cerdas.

Semakin banyak mendatangkan  manfaat semakin cerdas. Nggak peduli halal-haram semuanya  hantam.  Gimana dengan Islam? Patokan apakah seseorang itu  termasuk kategori smart atau nggak, beda banget dengan  kapitalis. Rasulullah saw bersabda “orang yang yang paling  cerdas diantara kalian adalah orang yang banyak mengingat  mati... ”. Yup, inilah cerdas. Why?  Orang yang selalu ingat mati dia akan tahu bahwa waktunya  terbatas. Bukan berarti menjadikannya berpangku tangan,  nongkrong, meble untuk kemudian putus asa dalam menjalani  hidup (ini mah namanya fatalis bung!).


 Sebab, standar  kecerdasan selanjutnya adalah “... dan dia beramal untuk  kehidupan setelah kematian”.  Sehingga, orang yang cerdas tidak  akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Nggak mungkin  orang yang ingat mati akan berbuat sesuka dia, hura-hura, foya-foya de el el.  Tiap ada kesempatan ia manfaatkan untuk kebaikan  kehidupan abadinya. Tidak menunggu-nunggu, tidak menunda-nunda. Inilah cerdas D'RISEr. Sebab tak ada yang tahu hingga  batas usia berapa kita akan ketemu dengan kematian. Nggak  peduli muda, telah renta atau bahkan masih balita, kematian  menjelma. 

Ibaratnya pemain bola, ketika ia tahu bahwa waktu  permainan tinggal 15 menit lagi sementara ada 6 gol lagi yang  harus dicetak untuk memenangkan pertandingan, tentu... setiap  pemain bola yang menyadari kondisi genting ini pasti akan  melipatgandakan upaya, bersegera, berlomba untuk bisa  mencetak gol sebanyak-banyaknya. Gimana kalo pemain bolanya  nyantai-nyantai aja, itu namanya nggak smart, sepakat? Untuk  permainan bola bisa seperti itu, padahal kalah dalam  pertandingan mah nggak ngaruh-ngaruh amat sama hidupnya.

 Lain waktu bisa maen lagi.  Atau buat kamu yang mau ujian nasional. Setelah tahu kapan  ujian nasional akan di gelar, of course kamu nggak bakalan  nyantai-nyantai kan... mesti belajar, les, dan lain-lain. Supaya  apa? Ya tentunya supaya kamu punya kesiapan untuk ngerjain  ujian biar nggak remidi atau malah gatot (gagal total). Untuk  pertandingan sepak bola atau ujian nasional kita bisa sedemikian  bersungguh-sungguh menyiapkannya, apatah lagi urusan yang  super duper genting. Ini bukan persoalan coba-coba bro. Urusan  kehidupan kita yang sebenarnya.

Karena cuma sekali. Tambah  lagi, kalau sudah mati nggak bakalan bisa balik lagi, nyesel deh...  makanya biar nggak nyesal, benarlah sabda Rasulullah saw yang  sudah dibahas tadi. “orang yang yang paling cerdas di antara  kalian adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan  dia beramal untuk kehidupan setelah kematian” Mestinya  kesungguhan seorang muslim lebih dahsyat lagi dari  kesungguhan pemain bola atau yang lagi mau ujian dong.  

Oya D'RISEr, bukan pula bermakna untuk menyiapkan  bekal setelah kematian trus kita nggak mau ngapa-ngapain  kecuali sholat, puasa, zikiran di dalem masjid melulu... sekali  lagi bukan itu. Tapi maknanya adalah menjalani seluruh  kehidupan kita dengan aturan yang telah Allah tetapkan. Baik  aturan ibadah, muamalah, pakaian, makanan, sampe  masalah politik, ekonomi, sosial, keamanan dlsb. Karena  Islam itu komplit. 
Mengatur masalah masuk wc sampe  masuk syurga, mulai dari bangun tidur sampe bangun  negara. Jadi orang yang cerdas adalah yang pengetahuannya  tentang Islam sempurna, nggak parsial alias sebagian aja. 

 Dan nggak cuma tau doang tapi juga mengamalkan. Sehinga  nggak kayak toko buku berjalan. Dengan kata lain cerdas  adalah selalu ingat mati dan menyelesaikan masalah dengan  syari'ah. Sayang seribu sayang, sekarang banyak di antara kita yang  nggak cerdas. mungkin banyak yang cerdas secara  intelektual, tapi nggak bisa ngontrol emosi dalam memenuhi  kebutuhan dan keinginannya. Serampangan, nggak pake  perhitungan Islam.


Bahkan seolah sengaja diopinikan bahwa  kehidupan di dunia ini adalah segalanya. Seolah dunia ini  adalah hidup yang sebenarnya. Analogi buat orang yang seperti itu adalah seperti hewan  qurban. Coba deh, hewan kurban itu kan pasti akan  disembeleh cepat atau lambat tinggal nunggu giliran. Cuman,  pas lagi nunggu giliran, alih-alih mencari jalan untuk kabur  atau bersiap ngadepin malaikat izrail eeeh si hewan kurban  ini jojong aja makan rumput, ngembak-ngembek. Kira-kira  gitu deh... Hayoo, D'RISEr mau smart atau jadi  mbek. 
Diberdayakan oleh Blogger.