Header Ads

Bangkit Tanpa Penyakit

Setiap tanggal 20 Mei, rakyat negeri kita tercinta ini  merayakan satu momen yang ironis. D'RISEr juga pasti udah  ngeh dong. Yep, hari kebangkitan nasional. Kenapa dibilang  ironis, seenggaknya ada dua alasannya.  Alasan pertama, hari  kebangkitan nasional tanggal 20 mei  ditetapkan dari tanggal  brojolnya organisasi Boedi Oetomo (BO).  

Padahal, organisasi BO sangat loyal kepada penjajah Belanda.  Mayoritas anggotanya adalah golongan priyayi elit lulusan dari  sekolah Belanda, dan dipimpin oleh para ambtenaar alias  “pegawai negeri”. Maka wajar jika mereka manut kepada induk  semangnya yang telah “berjasa” memberi mereka “makan” dan  “pendidikan”. Di dalam rapat-rapat organisasi dan bahkan di dalam  penyusunan anggaran dasar pun, BO menggunakan bahasa  Belanda, bukan bahasa Melayu yang jadi lingua franca di nusantara  saat itu. Keanggotaannya pun dibatasi hanya untuk orang jawa dan  madura, orang betawi saja nggak boleh masuk.

Jadi BO ini nggak  nasionalis banget, malah cenderung jawa-madura sentris. Kok bisa  jadi pelopor kebangkitan nasional? Apalagi kalau melihat sikap BO  yang anti agama, terutama  Islam. Bagi BO, agama Islam adalah penghalang bagi mereka yang  ingin makmur di bawah pemerintahan Ratu Belanda. Noto  Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang  Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging  berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat  berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu  kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ” Belum cukup dari  itu, pentolan BO sendiri, Dr. Soetomo menghina Islam dengan  mengatakan bahwa “Digul lebih utama daripada Makkah”!  


Alasan kedua, ternyata setiap tahun merayakan hari  kebangkitan, kenyataan yang ada malah kita semakin mundur dan  terpuruk, ekonomi makin ambruk, dan moral kian membusuk.  Ironis kan?  Saatnya kita nyadar. Sebuah kebangkitan hanya bisa dicapai  dengan meningkatnya taraf berpikir masyarakat secara  keseluruhan. Bukan sekelompok orang saja. Dan tentu saja nggak  sembarang pemikiran dong. Tapi pemikiran yang sesuai dengan  fitrah manusia, memuaskan akal, dan memberikan ketentraman  hati. Itulah pemikiran Islam. Sehingga kebangkitan yang hakiki  adalah dengan menggiring umat pada pemikiran Islam. Makanya,  ayo belawesjar islam dan jadi pejuang Islam! 
Diberdayakan oleh Blogger.