Header Ads

Baju Koko Dari Emak oleh Ikra Muahmmad

Mak bentar lagi di sekolah Ujang ada acara  memperingati malam Nuzulul Qur'an. Ujang mau pake  Mbaju koko. Beliin ya mak.”
 “Ah elu muluk banget sih Jang, nanti pas acara lu pake  sarung, peci sama seragam sekolah aja. Kagak usah pake baju  koko bagus-bagus. Paling Cuma lu pake se hari itu doang.”
“Ah, emak payah nih. Udah deh mak entar pikir-pikir lagi yah  permintaan ujang, jangan ampe lupa mak. Temen-temen ujang tu  kan baju nya baru-baru mak. Masa Ujang Cuma pake seragam  sekolah belel. Kan Ujang malu mak sama temen-temen Ujang.  Apalagi di kelas Ujang banyak cewek. Ujang kagak abis fikir mak. ”
 “Dasar Ujang! Lu sama almarhum babeh lu sama aja. Pengin  inilah, itulah, pengin punya gerobak basolah. Tuh liat deh gerobak  baso karatan punya almarhum babeh lu, udah kaya kandang  ayam. ”
“Ye Emak bener-bener payah. Mak Ujang  jadi laper nih.”
 “Baru juga jam 11. Emak belum masak apa-apa. Lu makanin  aja tuh sarang rayap di dinding dapur, biar lubersihin sekalian!!” Ujang pergi dari ruang tengah rumahnya yang sekaligus ruang  tamu, ruang santai dan ruang tidur ia dan emaknya.

Dengan  masih memakai seragam putih bercelana merah ia mengambil  sebuah layangan dan menerbangkannya di lapangan tanah pinggir  rumahnya. Debu tebal dan serpihan-serpihan sampah  berterbangan ketika kereta diesel besar lewat di pinggir lapangan.  Tak sulit menggambarkan pemukiman tempat ujang tinggal.  Cukup lihat saja deretan rumah bilik yang biasa berjejer rapi di  sepanjang kali. Percis pohon-pohon beringin tua yang tumbuh  tinggi, rumah Ujang pun sudah tua, berlumut dan nyaris tumbang.   
Memang tak ada nilai lebih dari rumah itu, seperti rumah gubuk  kebanyakan, hanya saja tempatnya sangat strategis. Dekat dengan  rel kereta, dengan jalan tol, dan dekat dengan pemukiman elit—  sehingga kalau Ujang dan teman-temannya yang ingusan itu ingin  mengintip kehidupan kota praja dibalik tembok, mereka tinggal  naik ke atap gubuk. Dari sanalah Ujang tahu bahwa bocah-bocah  kecil yang sebaya dengannya begitu berani dan bahagia bermain-main dengan anjing. Padahal di tempat Ujang, anjing begitu  menyebalkan.  


Ujang bermain layangan dengan hati gondok karena  permintaannya mendapatkan baju baru tak kunjung gayung  bersambut. Suatu hari ia pernah dibelikan baju koko oleh  ayahnya, tapi itu dulu. 3 tahun yang lalu, ketika ayahnya belum  almarhum. Sekarang baju itu sudah tergeletak lunglai di lantai  dapur dan berubah fungsi menjadi pengelap noda minyak. Kini  Ujang hanya bisa menyesal, mengapa sering menggunakan baju  koko ketika bermain bola hingga robek  dan rusak tak berbentuk. Di fikiran  Ujang saat ini hanya ada satu hal, baju  koko baru.

Ujang hanya hidup berdua dengan  Emaknya. Ketika ayahnya meninggal  dunia dua tahun lalu karena pingsan  dan kepalanya terbentur tumpukan  besi loak saat sedang berjualan baso.  Emaknya selama satu minggu tak  henti-hentinya menangis selesai  shalat dan mengutuki diri karena  telah mengijinkan suami satu-satunya berdagang, padahal saat itu  suaminya sedang sakit. Andai ia  sedikit tegas waktu itu dan  melarang suaminya yang keras  kepala itu yang ngotot ingin pergi  berdagang, pasti suaminya tidak akan limbung dan nyawanya berakhir di tempat loak. Begitupun  Ujang. Saat melihat bendera kuning dan kerumunan orang di depan  gubuknya ia langsung berlari ke dalam rumah dan pingsan di tempat  saat mendapati ayahnya terkulai kaku berbalut kain kafan.  

Kini hanya Emaklah satu-satunya yang Ujang punya selain  gubuk berlumut beserta isinya yang serba karatan dan gerobak baso  yang beralih fungsi jadi kandang ayam. Sehingga apapun yang Ujang  lakukan tak pernah lebih sejengkalpun dari apa yang diinginkan  Emak.  Itu semua semata-mata karena Ia tak tega melihat  Emaknya yang sudah keriput bersedih seharian dan murung ketika  sedang menjaga warung kelontongan.
Maka kalau-kalau Ujang ingin  sesuatu, tetapi Emaknya tidak meng-amini,  warna-warninya segala lagi..” maka yang bisa Ujang  lakukan hanya naik keatas gubuknya lalu berkhayal menjadi salah  satu bocah yang sedang berlari-lari dengan anjing di balik tembok  tinggi yang membatasi pemukiman tempat tinggalnya dan  pemukiman elit Sore ini, seperti biasa Ujang bersama teman-temannya naik ke  atap gubuk untuk menikmati pemandangan anjing piaraan berlari-lari mengejar bocah-bocah imut yang kira-kira umurnya sebaya  dengan mereka.

Setiap kali anjing-anjing itu mengonggong, Ujang  bersama teman-temannya bersorak-sorai dan bertepuk tangan.  “ Woi liat tuh!!” Robi berteriak. “ Ada apaan???” kata Ujang. Matanya mencari-cari sesuatu di  deretan bangunan mewah yang berdiri megah di depannya.  “ Liat gedung itu! cakep banget…” Tangan Robi menunjuk  sebuah bangunan mall besar yang dihiasi dengan  berbagai pernak-pernik Islami. Ketupat,  kubah masjid, ka'bah, dan yang paling  membuat Ujang tertarik : Poster pria gagah  berbaju koko.  
Hiasan-hiasan itu selalu hadir saat bulan  Ramadhan dan menjadi daya tarik karena  dilengkapi dengan lampu warna-warni. Tak  kurang 2 minggu sebelum lebaran tiba. Tempat  itu pasti meriah. Mirip pekan festival saja. “ Betul Bi, cakep bener..” Ujang menjawab  dengan nada rendah seperti orang yang baru  saja kehilangan selera makan.  “ Kok bisa yah kalau bulan puasa orang-orang jadi rajin ngehias tempat dagang jadi kaya  mushala..” Robi mulai mengoceh. “ Itu namanya mall dasar oon lu. Kalau lagi bulan puasa orang-orang itu emang suka nempelin bungkus ketupat didepan pintu.  Biar dagangan lebih laku. Bukan dihias kaya mushala”  Robi melongo melihat itu semua.

Baginya hiasan ketupat  berkelap-kelip amat dahsyat. Apalagi melihat orang-orang diluar  mall itu yang sangat sibuk berlalu-lalang seperti mengejar sesuatu  sambil menjinjing bungkusan besar-besar.  Semakin sore suasana semakin hidup karena kerlap-kerlip  lampu bertebaran di sekujur mall. Ditambah lagi dengan hiasan  kubah di menara yang setiap beberapa menit sekali berubah  warna. Melihat itu Robi semakin melongo. Mereka semua duduk berjejer di atas gubuk reyot itu dan  tenggelam dalam lamunan masing-masing.

 Robi masih melongo,  yang lainnya tak lepas melihat keindahan yang secara geratis bisa  dinikmati. Ujang pun sedari tadi terus memandangi seorang  doorman berbusana muslim lengkap dengan baju koko dan senyum  menawan. Menyambut setiap pengunjung yang datang.  Hingga akhirnya langit mulai terlihat berwarna keemasan dan  mereka membubarkan diri satu-persatu tanpa berkata-kata. Semua temannya bersuka cita ketika adzan Magrib tiba.  Hanya Ujang yang terlihat murung. Sampai selesai buka puasa pun  Ujang sama sekali tidak niat untuk bersenang-senang menikmati  malam di bulan Ramadhan bersama teman-temannya.

Selesai Isya  ia tak pergi ke mesjid untuk Tarawih. Ia hanya selojoran dikamar  dan memandang langit-langit. Di kepalanya terus terbayang baju  koko, doorman dengan senyum menawan, dan wajah kriput  Emaknya.  Hari demi hari berlalu, keinginan Ujang punya baju koko  makin menggunung. Lambat laun Ujang jadi kehilangan seleranya  akan segala hal. Ia jadi malas bemain, malas keluar rumah, dan jika  malam hari tiba pun ia tak tertarik untuk bermain petasan setelah  shalat Tarawih. Ketika pagi datang, usai saur, sebelum berangkat  sekolah Ujang mengkerut kembali dibalik selimut. Tak bergairah  sama sekali untuk menyambut hari.

Mungkin inilah yang namanya  sifat warisan dari orang tua. Keras kepala!! “Jang, Emak liat-liat kerjaan lu molor mulu.. di bulan puasa itu  seharusnya lu lebih semangat dong”  “ Iya Mak. Ujang cuman cape doang..” “ Udah cepet lu berangkat!!” “Mak, ngomong-ngomong baju koko pesanan Ujang kapan  dibeliinnya. Dua hari lagi acara peringatan Nuzulul Qur'an  dilaksanain?” Ujang berkata sedikit serius. Suasana menjadi dingin.  Emaknya diam beberapa saat lalu berkata dengan suara begitu  pelan. “ Jadi lu selama ini murung gara-gara pengin baju koko?” Emak  memandang mata Ujang lekat-lekat. Ujang hanya menunduk. Tak  berani sediktpun melirik dan melihat wajah keriput Emaknya. Ia tak  berkata apa-apa. Emak pun tak berkata apa-apa lalu beranjak pergi  menuju warung.  Sorenya, Ujang pergi menuju atap gubuk.

Disana sudah  ada teman-temannya yang sedang bercanda dan bersorak  seperti orang yang tengah menonton layar tancap. Acaranya  puluhan orang berlalu lalang masuk keluar mall berhiaskan  lampu ketupat. Ujang langsung duduk di samping mereka.  Ia kesal, tapi entah pada siapa. Teman-temannya yang  sedang tertawa ia rasakan seperti sedang mengejeknya. Ia  pun jadi emosi, layaknya orang stress. Ia mulai egois dan  menumpahkan kekesalannya pada siapa saja yang ada  didepannya. “ Woi lu semua pada goblok yah. Ngehayal mulu  digedein.!!” Semua temannya diam seketika.  “ Ujang, elu kenapa sih, udah kaya hansip aja!” Robi  balas berteriak.

 “Kalo lu semua pengen kaya orang-orang itu. Berangkat  kesana sekarang juga terus ambil semua barang yang lu suka.  Kalo kagak punya duit, nyolong aja sekalian dari pada Cuma  ngimpi!!” “ Heh emangnya lu berani pergi kesana. Kalau lu….”  Belum selesai Robi membalas, Ujang sudah berdiri dan  berjalan menuju pohon beringin yang berdempetan langsung  dengan tembok tinggi itu. Ia hendak memanjat. “ Woi…lu mu kemana?? Udah gila kali lu. Itu tinggi tau.”  Teman-temannya kaget dan mencoba untuk menghentikan  Ujang. Tapi Ujang, seperti orang yang sudah gila, ia tak  menggubrisnya. Ia terus memanjat tembok itu.
Akhirnya  Ujang benar-benar sudah ada di tepi tembok. Ia menengok  ke balik tembok, di bawahnya terdapat taman bunga sangat  indah yang baru pertama kali ia lihat. 

Ujang semakin gila,  memindahkan tubuhnya begitu saja menuju arah pemukiman  elit itu, entah apa yang akan dilakukannya. Tiba-tiba saja saat  ia akan melepaskan pegangannya dan hendak melompat  menuju taman bunga dibawahnya, bajunya tersangkut kawat  berduri hingga ia tergantung seperti jemuran di atas tembok  setinggi pohon beringin.  Teman-temannya panik dan berlari ke arah Ujang. “Ujang, tahan disitu. Gue mau kesana..” Robi lari  belingsatan mencoba menyelamatkan Ujang. “Jang pegang  tangan gue…” “Bi!! Tolong gue cepet..” Ujang meronta-ronta.  “Jang lu ga boleh jatoh..” Robi menangis sesenggukan.  Teman-temannya yang lain turun dari gubuk mencari  pertolongan “Jang lu gak boleh jatoh. Lu mau di tangkep  satpam. Di bawah banyak satpam galak. Cepet pegang tangan  gue. Cepet Jang. lu Jangan sampe jatoh. Entar gue dimarahin  Emak lo.” “Brugggg…..!!!!” 
 --------------

Seorang wanita agak tua dengan wajah mulai kriput  berjalan terburu-buru. Di tangannya tergenggam sebuah  benda bersampul dan bertuliskan 'Toko Satria : Jual berupa-rupa busana. seragam sekolah, busana muslim dan lain-lain.  Semua ada!!'. Wanita itu tergesa-gesa menuju rumahnya. Ia  masuk ke dalam dan berdiri terpaku ketika melihat begitu  banyak orang disana yang sedang mengerumuni sesuatu.  Tangan wanita itu gemetaran, air mata mengalir  perlahan di pelupuk matanya yang keriput berlipat-lipat,  hingga benda bersampul yang ada di tangannya terlepas dari  genggaman tangannya. Jatuh lunglai di lantai seperti baju  koko milik Ujang yang sering ia pakai mengelap noda minyak 
Diberdayakan oleh Blogger.