Header Ads

ADA APA DENGAN GUNUNG NONA

Kota Ambon, kondusif. Warga diimbau  jangan terprovokasi.” K Demikian,  umumnya  pemberitaan  media massa nasional selepas  kerusuhan  Ambon, Minggu (11/09). Setelah toko-toko  mulai buka, lalu lintas mulai berderak, ratusan  aparat keamanan berjaga, Ambon pun hidup  as usual. Dianggap seolah tak pernah terjadi  apa-apa.   

Padahal,  sedikitnya tiga orang  tewas dalam kerusuhan tersebut. "Tiga yang  meninggal dunia, dua di rumah sakit umum,  satu lagi meninggal di RS Al Fattah," kata Kadiv  Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, Senin  (12/09). Ditambah pula korban luka berat 24  orang dan luka ringan 65 orang. Upaya  menutup-nutupi  kasus  Ambon, dimulai dengan memanipulasi fakta  awal. Tukang ojek muslim, Darmin Saiman,  terjatuh  di  kawasan  Gunung Nona yang  mayoritas warganya Kristen.

Tapi ia akhirnya  mati,  lantaran dibunuh warga  setempat.  Keluarganya  mendapati  helm  almarhum  utuh, tapi isinya pecah, dan punggungnya  tertusuk. Fakta itu  sempat diakui polisi. “Ada  seorang tukang ojek (Darkin  Saiman) yang  sebenarnya kecelakaan tunggal, tapi malah  dipukuli  kelompok  tertentu  (Kristen),  sehingga  terjadi  balas  dendam  setelah  upacara pemakaman,” ujar Kepala Bareskrim  Polri, Komjen (Pol) Sutarman di Mabes Polri,  Jakarta, (11/9/2011).

Setelah  rusuh  meletus,  korban  berjatuhan, berita diplintir. Seolah bentrokan  terjadi secara insidental, karena termakan  hasutan  berita  yang  tidak  sesuai  fakta;  Kecelakaan tunggal tukang ojek, dikatakan  pembunuhan.  Maka,  penyidikan  dan  penyelidikan untuk menegakkan hukum atas  tragedi ini pun seperti dianggap tak perlu. Padahal, tragedi ini  mastermind-nya  die-die  juga.  Polanya  mirip awal  tragedi  Maluku tahun 1999, baik modus operandi  maupun  modus  vivendi-nya.  Misalnya,  mengambil  momentum  Idul  Fitri  dan  Peringatan Tragedi WTC 911.

Brigjen (Purn  TNI) Rustam  Kastor,  dalam bukunya "Fakta, Data dan Analisa  Konspirasi  Politik  RMS  Dan  Kristen  Menghancurkan Ummat Islam  di Ambon -  Maluku", mengulas posisi RMS, PDI-P dan  GPM (Gereja Protestan Maluku) di belantara  tragedi  Maluku.  PDI-P  Maluku,  menurut  Kastor,    secara  historis  dan  ideologis  menginduk pada Partai Katholik Indonesia.  PDI-P Maluku sangat berkepentingan  dengan perolehan suara sebesar-besarnya,  untuk mengidentikkan Maluku dengan Kristen.
PDI-P akan memperoleh posisi kuat dalam  percaturan politik di Maluku bila Golkar dan  Parpol Islam bisa dikalahkan…" (hal. 138).  Salah satu  cara jitu  yang ditempuh  untuk  mencapai tujuan  politik tadi, adalah  dengan mengusir komunitas Islam,  bahkan  dengan cara-cara paling keji sekalipun, yaitu  berupa genocide!  Sebagai  saksi  korban  dan  sebagai  mantan Komandan Korem  174  Pattimura,  Rustam Kastor punya alasan yang kuat untuk  mengatakan RMS (Republik Maluku Serani)  sebagai dalang dan pelaku utama Tragedi  Maluku. Pada 1989, saat masih berpangkat  Kolonel,  Kastor  berhasil  membongkar  klandenstein RMS di Ambon dan sekitarnya.  

Kala itu Kastor berhasil menggagalkan rencana  RMS  membangun kekuatan bersenjata  di  Pulau Seram.  RMS sejatinya gerakan separatisme  yang  disponsori  Belanda,  bertujuan  mendirikan Republik Maluku Serani sebagai  bagian dari misi Gospel kolonialisme. Mereka  mendapat  dukungan  luas  di  kalangan  komunitas  Kristen  Maluku,  juga  oleh  kepentingan politik Kristen di luar  Maluku.  

Separatisme  Timor  Timur  yang  mendapat  dukungan  dunia  internasional,  menjadi  tonikum penambah semangat gerakan ini.  AM Hendroprijono,  mantan Kepala  BIN, pernah membenarkan keterlibatan RMS  di balik meletusnya Tragedi Maluku pada 1999  tepat sehari setelah peringatan HUT RMS ke-49. Sejumlah  tokoh  di  Maluku  juga  menegaskan  hal  yang  sama.  "Gerakan  separatis RMS merupakan salah satu faktor  pemicu kerusuhan," kata Ali Fauzi, waktu itu  Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kodia Ambon.  Penegasan yang sama juga disampaikan oleh  Sulaiman Latupono,  Ketua  Forum Pemuda  Muslim Baguala Ambon.

Dua hari setelah kerusuhan, Kamis 21  Januari 1999 (3 Syawal 1419 H) sekitar pukul  12.00,  bendera  RMS berwarna  merah,  putih, biru, dan hijau berkibar di Karang  Panjang, Kudamati, dan Gunung Nona. Driser,  kejadian di Gunung Nona  yang memicu kerusuhan masih menyisakan  tanda tanya. Keterlibatan gerakan separatis  RMS punya kepentingan untuk membuat  situasi politik di Ambon tidak stabil dengan  memakai konfilk agama sebagai senjatanya.  


Terulangnya  kerusuhan  di  Ambon  menunjukkan lemahnya negara melindungi  umat Islam dan gagal melakukan integrasi  sosial  di  wilayah rawan konflik agama  seperti Ambon.  Makanya, umat Islam harus  semakin terdorong untuk menegakkan  kembali syariah dan khilafah karena hanya  melalui sistem itulah umat Islam akan  terlindungi dan integrasi sosial akan  terwujud yaitu sebuah masyarakat  heterogen yang damai, adil, sejahtera.  Catat![] 
Diberdayakan oleh Blogger.