Header Ads

Taklukan Cianjur !! (LDK SMAIT INSANTAMA Bogor)

Mulai dari rapat pertama pembentukan jabatan, proker, en  jobdesc buat kita LDK itu udah dimulai. Coz, penempaan kita  buat  merencanakan, melaksanakan, en menargetkan hasil  tuh dimulai dari titik ituh. Sikap yang ikhlas buat mau  diarahkan (dipimpin) en mengarahkan (memimpin), kita  semua ngerasain itu. Itu semua proses kita belajar buat jadi  lebih baik." (Syifa, siswi SMAIT Insantama).

 fiuuhhhh, capek, itulah yang dirasakan D'RISE dan anak-anak  Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Insantama  FBogor saat menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada  tanggal 6-7 Oktober lalu. LDK ini emang melelahkan, karena mereka  harus menaklukkan serangkaian tantangan dan jarak tempuh yang  jauhnya sekitar 91 km antara Bogor-Cianjur, wueeehh.

Sebagiannya  mesti ditempuh jalan kaki alias nyikreuh sekitar 41 km. Bener-bener  gokil dan nggak maen-maen nih. Tapi LDK ini sangat mencerahkan  lho, sebab berhasil melatih anak-anak Insantama untuk jadi kuat,  tangguh, dan sanggup menerjang tantangan. Mereka juga dilatih  untuk sabar, mengendalikan diri, memecahkan masalah,  bernegosiasi, dan banyak lagi. Kalau ada  acara Award of The Year kategori "Program Sekolah  Terdahsyat", LDK SMAIT INSANTAMA kemaren sangat pantas jadi  juaranya. Nggak pake sotoy buat GR apalagi kepedean D'RISE blak-blakan kayak gini.

Coz, emang ASLI PISAN! Sekian belas taun gitu,  D'RISE juga pernah ngerasain jadi anak sekolah. En selama itu pula  kita tuh tau, paham, sadar, en yakin (hingga akhirnya bisa menilai)  kalo emang belum ada LDK se-syahdu ini di sepanjang peradaban  jahiliyyah. Belum sama sekali! Yang sudah-sudah justru semakin  menjamurnya program-program yang merusak aqidah en syakhsiyyah  (kepribadian) seorang Muslim. So, ini bener-bener THE FIRST banget  buat D'RISE nemuin acara LDK yang BARU BISA disebut sebagai  LDK.

Sou desu nee! Tadrib al-Qiyadah al-Asaasiyah, begitu LDK kalo diterjemahkan  dalam bahasa arab. En sesuai dengan kepanjangannya (Latihan  Dasar Kepemimpinan), INSANTAMA bener-bener mengemas  gagasannya ini seapik mungkin. Secerdas al-Qur'an yang penuh  dengan tuntunan, nggak menghendaki satu pun metodenya tercemar  dengan pembelajaran ala kapitalisme. Kagak ada unsur-unsur  ngerjain (bikin repot), intimidasi, penekanan mental versi penjajah,  teriakan/bentakan, caci-maki, apalagi kekerasan fisik yang  menyakitkan en menimbulkan trauma. INSANTAMA memahami benar  bahwa hal-hal semacam itu bukanlah pendidikan yang Rasulullah  saw. contohkan.

Coz, buat mencetak generasi pemimpin haruslah  dikokohkan aqidahnya terlebih dahulu. Sehingga nantinya mereka  otomatis bisa disiplin untuk senantiasa menaati hukum-hukum syariat  dengan penuh kesadaran bahwa kita ini memanglah makhluk Allah  Swt. yang wajib memiliki kepemimpinan berpikir Islam, en sikap-sikapnya terjaga. Makanya LDK ini adalah salah satu bentuk pelatihan  yang arahannya adalah pendekatan interaktif en learning by doing.  Yang harepannya ntar bakal membentuk pribadi-pribadi yang punya  motivasi kuat buat SIAP DIPIMPIN en SIAP MEMIMPIN serta  BERPRESTASI.

Kegiatan ini baru pertama kali diadakan SMAIT Insantama, dan  langsung yang ekstrim. Waaah rekor dong? Woits ternyata mereka  nggak puas sampe di situ, mereka berencana untuk mengadakan  kegiatan yang lebih ekstrim lagi, tunggu aja tanggal mainnya. LDK ini bukan hanya diperuntukkan bagi anak-anak pengurus  OSIS ajah seperti yang terjadi di sekolah-sekolah lain. INSANTAMA  mengadakannya buat seluruh murid yang sekolah di sana. Sebelum  anak-anak SMA, anak-anak SMP beberapa waktu yang lalu pun  ternyata udah ngegelar LDK-nya duluan. En katanya ampe masuk TV  tuh. Hueh, berasa artis dongs! Yah, pokoknya LDK milik bersama!  Seluruh anak merasakan pembinaan en dibebani tanggung jawab  yang juga sama besarnya. Itu baru namanya adil. D'RISE mengintili (maksudnya mengikuti) wara-wiri anak-anak  Insantama dalam menyelenggarakan kegiatan LDK ini dari awal  sampe selesai.

D'RISE telah bersimbah peluh bersama mereka  (beukh). LDK ini diadakan dan diikuti oleh siswa-siswi SMAIT  Insantama kelas 10, mereka adalah para pionir dari angkatan  pertama jenjang SMA di Yayasan Insantama Cendekia. Waktu  D'RISE pertama kali kenalan dengan mereka, kesan anak ABG yang  imut dan lucu langsung kegambar. Tapi ternyata di balik sosok itu  tersimpan jiwa-jiwa yang mandiri, karena telah sekian lama dididik  dengan aturan-aturan Islam di Pesantren Pelajar Insantama.  Buktinya mereka hanya diberi waktu 10 hari untuk mempersiapkan  kegiatan itu, dan mampu menyelesaikannya dengan baik. Semua  dana yang diperlukan mereka maksimalkan dari fundrising  (penggalangan dana) keluar, bukan dari sekolah atau dari orang tua  siswa.

Sekolah Cuma ngasih dana awal 300 ribu perak., padahal  dana yang dianggarkan gede banget lho, sekitar 20 juta perak.  Ternyata 2 hari menjelang pelaksanaan kegiatan mereka udah  berhasil menggalang dana sebesar 13 juta perak. Fantastis banget  kan! “Kita menggalang dana mulai dari Bogor sampe ke Depok,  Kak” kata Azzam, Ketua Panitia LDK waktu kena todong D'RISE.  Cowok jangkung imut ini pun mengatakan bahwa LDK ini akan  membekas di hati kawan-kawannya. Kesuksesan LDK ini pun nggak lepas dari campur tangan  para pembina.

Pada malam sebelum pelaksanaan acara, para  pembina mengundang Pak Felix Siauw umtuk mendongkrak  semangat para peserta. Dengan semangat menggelora, Pak Felix  menceritakan riwayat penaklukan Muhammad Al Fatih atas  Konstantinopel. Ruaaarr biasa! Pekik takbir membahana dan  peserta telah siap untuk “Menaklukkan Cianjur.” Sejak jam 3 pagi para peserta LDK telah mandi dan  melaksanakan solat tahajjud. Selepas subuh para peserta dilepas ke  medan juang LDK.

Mereka dibrifing untuk bisa menaati aturan dan  perintah, serta menjaga kesatuan tim. Salah satu aturan yang harus  mereka taati adalah mereka harus minum hanya seteguk air, atau  paling banyak dua teguk sekali minum. Nahloh! Pukul 04.50 WIB  kami semua udah ada di lapangan buat apél. Sambutan dari Bapak  Ir. Imam Bukhoiri STP (Kepala SMAIT INSANTAMA Cendekia),  Bapak Muh. Adhi Maretnas (Wakil Ketua Yayasan INSANTAMA  Cendekia), lalu doa yang dipimpin sama Mudir (Pembina),  berlangsung dengan khidmat. En akhirnya pukul 05.00 WIB kami  siap melangkahkan kaki memulai LDK, menuju Pos 2.
 
Pos kedua terletak di Villa Indah Pajajaran kota Bogor (pos  pertamanya kampus Insantama), kediaman Pak Rokhmin Dahuri,  mantan Menteri kelautan dan Perikanan RI. Dari kampus Insantama  para peserta jalan kaki menuju pos kedua ini. D'RISEr tau ga, beliau  adalah sosok yang jujur yang kemudian menjadi korban sistem  kapitalisme karena kejujuran beliau. Nah, para peserta LDK  mendapat tugas untuk mewawancarai beliau untuk mengungkap  kekuatan dan keteguhan beliau.

Namun sayangnya Pak Rokhmin  sedang ada tugas ke Batam, maka beliau digantikan oleh isterinya,  Ibu Evi Rokhmin Dahuri. Woits jangan salah, di belakang seorang  suami yang kuat tentunya ada seorang istri yang juga kuat dong.  Para peserta LDK banyak mempelajari keteguhan Pak Rokhmin dan  Ibu Evi dalam menghadapi masa-masa sulit itu. Dari kediaman Pak Rokhmin, rombongan yang berjumlah 75  orang (30 siswa, 25 siswi, dan 20 staf pembina) ini melanjutkan perjalanan menuju pos ketiga di Sumber Karya Indah (SKI)   Tajur, di Jalan Raya Katulampa kota Bogor.

Di sana para  peserta mendapat tugas yang lagi-lagi bikin puyeng, ngitungin  ikan yang ada di kolam besar SKI (euleuh). Haduh, D'RISE  yakin yang punya SKI aja nggak pernah ngitungin ikannya ada  berapa. Tapi pastinya ilmu pengetahuan punya jawabannya.  Lha wong jarak bumi-matahari aja bisa diitung. Hari terus beranjak siang, cuaca ekstrim yang tengah  menggantang Indonesia memanaskan suasana. Namun  dengan semangat menggebu dan tekad masa muda yang  pantang menyerah para peserta tetap melanjutkan perjalanan  ke pos selanjutnya di Bendung Katulampa. Sesampainya di  sana, Pak Haji yang telah turun-temurun mengawal bendung  Katulampa memberikan presentasi tentang sejarah bendung  yang selalu kena getahnya kalo Jakarta dan Depok kena  banjir, padahal dia nggak pernah makan nangka.

Emang  malang nasib si Katulampa. Oia, Pak Haji juga ngasih tau  kalo kita nyebut “bendungan” itu salah, yang bener tu  “bendung”. Oh gitu ya, Pak! Cuaca emang lagi ekstrim banget lho. Masa dari  panas tiba-tiba mendung datang, awan makin berat dan  terus berat. Tapi awan hitam itu nggak menyurutkan  langkah para peserta untuk terus maju. Pantang mundur  bleh!! Mereka terus melangkahkan kaki menuju pos  selanjutnya. Setelah beristirahat sejenak di pos bayangan,  sampailah mereka di masjid Sayyida Chadija, dekat jalan  tol Jagorawi.

 Di sana rombongan menunaikan solat zuhur  dan mengumpulkan tenaga. Tapi tiba-tiba tetes air hujan  mulai berjatuhan, terus jadi deras. Dari sana rombongan  naek angkot carteran menuju pos keempat di Radio Wadi  FM di bilangan Gadog kota Bogor. Hujannya deras. Di Wadi FM para peserta mendapatkan pembekalan  tentang bisnis media terutama radio. Bapak Habib Bagir  Shahab, Direktur Wadi FM, memberikan penjelasan dengan antusias.  Bahkan beliau menawarkan para peserta untuk turut siaran di radio  Wadi FM lho, sayangnya lagi mati lampu (euleuh lagi). Hujan lebat  masih terus menemani rombongan, terpaksa deh harus pake jas ujan  seragam yang warnanya putih-putih… hihihi, mirip poling (pocong  keliling).

Dari sana rombongan melanjutkan perjalanan menuju masjid At  Ta'awun puncak. Perjalanan lumayan jauh lho. Menjelang isya, rombongan tiba di pos keenam di Masjid At  Ta'awun, Puncak, kabupaten Bogor. Karena dalam safar jadinya solat  magrib dan isya dijama'. Pada pos keenam ini peserta ditugasi untuk  mengungkap bagaimana kesuksesan masjid At Ta'awun dengan visi  misinya kepada imam besarnya, KH. Asep. Awan mendung menaungi langit gelap. Rombongan melanjutkan  perjalanan menuju titik selanjutnya, tempat perhentian terakhir, pos  ketujuh, Pesantren Enterpereneur Miftahul Falah di Kampung Cibadak,  Kabupaten Cianjur (perasaan nama Cibadak banyak banget, di  kampungnya D'RISE juga ada Cibadak.

Yang langka cuman Chicago,  hehe). Anak-anak cowok mesti rela jalan kaki dari At Ta'awun sampe  sebuah pos bayangan di pertigaan jalan menuju Cianjur, sejauh kira-kira  2 jam perjalanan jalan kaki. Sementara anak-anak cewek naik  kendaraan ke sana. Di sinilah kesabaran mereka diuji, anak-anak cewek  mesti sabar nungguin anak cowok, dan anak cowok mesti sabar  melangkahkan kaki meraih anak cewek (beukh romantis). Di pertigaan itu Ust. Basith dari pihak pesantren telah  menyiapkan kendaraan berupa angkot untuk anak cewek, dan mobil  bak terbuka untuk anak cowok (yang cowok lebih macho  kendaraannya). Jalur yang dilewati menuju pesantren adalah jalur yang  nggak biasa, jalannya jelek, gelap, di kanan kiri rimbun dengan semak  dan pepohonan, berkelok-kelok pula, malah katanya suka ada  rampoknya lho. Hiiii.

Tukang angkot aja nggak berani kalo lewat situ  sendirian, mesti ada konvoy yang rame baru berani. Semua orang  ketiduran, kecuali supir, kalo supir nyetir sambil tidur kan berabe.  D'RISE aja ketiduran, saat bangun dan mengintip keluar ternyata  kegelapan masih membayang, dan kendaraan masih terguncang keriki tajam (mantab). Akhirnya merem lagi, pas melek ternyata masih sama.  Setelah perjalanan yang terasa jauuuuhhh banget, akhirnya  sampailah rombongan di suatu tempat yang ketika itu belum jelas ada di  mana, abisnya gelap banget.

Yang pasti masih dikelilingi batang-batang  pohon dan tanah perbukitan. Anak cewek ditempatkan di sebuah rumah  yang cukup luas bersama dengan pembimbingnya, dan anak cowok  ditempatkan di sebuah masjid tak jauh dari sana. Itu sekitar jam 1 pagi  lho, para peserta udah pada tepar di bak belakang mobil, pada  kemasukan angin (masih mending daripada kemasukan setan), mata  ngantuk, menggigil, perut kelaparan, pokoknya kondisi berat deh. Tapi  alhamdulillah di masjid dihidangkan makanan yang menggugah selera  di atas nampan, maknyos.

Abis itu pergi ke pulau mimpi. Ayam berkokok di pagi buta, ketika sinar matahari menyeruak  barulah semuanya kelihatan jelas. Keindahan alam ciptaan Allah telah  membuai mata semua peserta LDK. Ternyata Pesantren Enterpreneur  Miftahul Falah terletak di suatu tempat yang dikelilingi gunung, salah  satunya Gunung Gede. Subhanallah, luar biasa. Acara pagi dimulai dengan olah raga push up (sebenernya  dihukum, tapi sekalian olah raga, hehe). Kemudian disusul dengan  tracking menyusuri puncak bukit milik pesantren yang luasnya 20 hektar  lho. Para peserta diberi tugas untuk mewawancarai para santri,  penduduk, pengajar, sekaligus pimpinan pesatren Miftahul Falah yaitu  Ust. Purnomo. Beliau dengan senang hati menjelaskan berbagai hal.  Terungkaplah sejarah, dan perjalanan kiprah pesantren.

Yang nggak  kalah asiknya adalah menikmati degan bersama, airnya seger banget.  Menjelang sore, rombongan berpamitan dengan staf pesantren seiring  dengan berakhirnya kegiatan LDK. Selepas Isya rombongan telah tiba  kembali di kampus Insantama dan menjalani upacara penutupan. Di  kampus para peserta disambut oleh adik kelas mereka yang masih  SMP dengan kalungan sarung (bukan kalungan bunga, hehe). Fiuuhh  emang melelahkan, tapi mencerahkan. D'RISE ngerasain sendiri lho  capeknya nguntit mereka. Pokoknya ini LDK anak SMA TERDAHSYAT.!!  Jempolan lah!! Terus ada keajaiban juga lho!

Ada seorang siswi, namanya  Mushlih, yang ternyata 2 hari sebelum acara LDK asmanya lagi  kambuh. Dia tetap bertekad kuat untuk ikut LDK, dan  berusaha agar penyakitnya nggak mempengaruhi dia. Dan  sepanjang acara LDK Mushlih sama sekali nggak pake jaket,  padahal di Puncak dan Cianjur kan dingin banget. Ternyata  asthma-nya Mushlih malah sembuh total pasca LDK.  Subhanallah banget gitu lokh.
   Kegiatan LDK ini adalah bagian dari visi misi Yayasan  Insantama Cendekia untuk mencetak generasi Islam yang  unggul, cerdas, dan terdepan. Yang paling penting adalah  memiliki kepribadian Islam. SMAIT Insantama adalah sebuah  sekolah yang memadukan sains, tsaqofah Islamiyah  (wawasan Islam), dan Shyakhshiyah Islamiyah (kepribadian  Islam).


 Sistem boarding schoolnya akan membentuk  generasi Islam yang tangguh dan berada di garis depan.  Kampus SMAIT Insantama beralamat di Jalan Hegarmanah  IV Gunung Batu, Bogor Barat, Kota Bogor. Bravo!!![ 
Diberdayakan oleh Blogger.