Header Ads

Perang mawar eps 03

Ada suatu ketika ijab kabul telah  dikokohkan, maka menjadi halal  Pseuatu yang tadinya haram. Jiwa  yang berpisah kemudian menyatu. Alam  yang berlainan jadi serupa. Hiduplah dua  orang manusia yang sangat berbeda,  berbeda dalam segala. Padahal ijab kabul  tak akan sempurna dikokohkan kalau tidak  ada persamaan.

Ya, walaupun ada begitu  banyak perbedaan, persamaan mestilah  ada, yang utama dari semua adalah  persamaan prinsip kehidupan. Biarlah  segalanya berbeda. Biarlah yang satu ada di  ujung langit, yang lain ada di sudut dunia,  asalkan prinsip hidup telah sejalan, pada  satu noktah mereka akan bertemu jua. Dan  kalau pernikahan dilangsungkan tanpa  adanya persamaan prinsip hidup,  kengerianlah yang akan berulang. Kemegahanlah yang ada pada  pernikahan bangsawan. Kanduri rayeuk  (perta besar) digelar dengan gegap  gempita.

Semua orang bersuka cita. Tujuh  hari tujuh malam syair dan riwayat  dikumandangkan. Geundeurang ditabuh  selaksa irama, dan kebahagiaan menjadi  udara yang dihirup semua orang. Sebab  malam itu yang lajang akan segera  berpasangan. Seorang pria rupawan telah  memetik gadis jelita. Bintang gemintang  menyaksikan, namun tak sesiapa yang tahu  apa yang akan ada di hadapan. Adat tegak  berlaku, Teuku Samsyarif harus pulang ke  kampungnya beberapa waktu, untuk datang  kembali menjemput Meutia yang telah jadi  isterinya.

Ketika semua pesta dihentikan,  duduklah Meutia sendirian di sisi ranjang  kamarnya. Pintu diketuk seperti biasa,  muncullah Cut Jah di sana. Mereka berdua  duduk di tepi ranjang. Dengan sayang, Cut  Jah menggenggam tangan puterinya.

“Sekarang kau telah bersuami, sayangi  dan taatilah dia.”
“Insya Allah, Mak,” sahut Meutia.

“Tapi ada satu hal yang mesti kau  camkan,” mata tua Cut Jah yang keruh  menatap lekat-lekat wajah Meutia,  menanamkan kata-katanya. “Apa itu, Mak?” Cut Jah menerawang, membuat alam  pikirannya terang benderang, sebab apa yang  akan disampaikannya begitu berat ditanggung  badan. “Jangan sekali-kali kau taati siapapun untuk  bermaksiat kepada Allah.” Meutia menunduk menatap jemari kakinya.
 Hampir-hampir berlinang air matanya. Sebab ia  tahu betapa berat amanah itu.  “Ingat itu, Meutia.” “Insya Allah,” dan air mata itu tumpahlah  sudah.

“Hapuslah air matamu, marilah tidur,” ajak  Cut Jah, “kau pasti lelah. Tidurlah dalam  pelukan Mak, sebab esok kau telah tidur dalam  pelukan suamimu.” Dan malam naik, terus naik. Ketika subuh  telah tiba, terbukalah mata dunia.

Meutia  tergugah, ia lihat ibunya di sisinya, masih  terlelap. “Mari solat subuh, Mak,” ajak Meutia  lembut. Ia sentuh bahu ibunya,  menggungcangnya pelan. Namun ibunya tak  bergerak. Ia bangunkan lagi berkali-kali namun  tetap tak bergerak.

 Guncanglah dadanya, kalimat  istirja' mengalir pelan seiring dengan linangan  air mata. Ia tahu ibunya telah tiada. Telah hilang  dari dunia fana'. Innalillahi wa innailayhi roji'un. Kepedihan itu tak ia tunjukkan kepada  suaminya. Dia tegar dan tangguh, ia setia, ia  pencinta, ia salehah, hingga suatu hari perjalanan  harus berhenti.

Pagi hari telah terbit, Meutia sedang sibuk  memasak di dapur untuk suaminya. Ia biasa  melayani suaminya dengan sentuhan tangannya  sendiri. Ia piawai meramu bahan-bahan  masakan. Tiba-tiba ia dengar suaminya  memanggil dari ruang tamu. “Meutia siapkan minum, kita kedatangan  tamu.” Dengan taat dan cekatan ia laksanakan  perintah suaminya. Minuman telah terhidang di  atas nampan, ia siap menyajikannya pada yang  datang.

 Dengan hati-hati ia membawa gelas-gelas itu ke ruang tamu. Namun tiba-tiba  hantaran di tangannya terhempas ke lantai, pecah  berantakan, saat ia tahu orang yang datang. “Kaphe Beulanda,” (kafir Belanda)  bisiknya. Samsyarif terkejut, seorang laki-laki berkulit  putih controleur Belanda terbelalak. Meutia  berlari ke dalam kamar, menangis!  

Orang Belanda itu bangkit berdiri  dengan sopan lalu mohon diri.  Samsyarif salah tingkah dan  memaksakan senyum kepada tamunya. “Kau kenapa?” Tanya Samsyarif  dari ambang pintu kamar. Meutia terbaring telungkup di atas  ranjang. Ia membenamkan wajahnya  kepada bantal, menangis sejadi-jadinya. Ia tak menjawab. “Kau kenapa?” Ulang Samsyarif,  kesal! Meutia berusaha menghentikan  tangisnya, bangkit dan duduk  menghadap suaminya.

Masih terisak. “Mau apa kaphe Beulanda di  rumah kita?” “Dia tamu, wajib kita hormati.”  Raut wajah Samsyarif tak enak. “Tak ada tamu yang merampok.  Tak kusangka kau melakukan itu,  Cutbang, membiarkan kaphe Beulanda  menginjak rumah kita. HARAM!” “Ah hentikanlah semua itu!”  Samsyarif mengibaskan tangannya. “Astagfirullahal'azim, kaphe  membunuh saudara-saudara kita, kau  terima mereka di bawah rumah kita?  

Orang tuamu sampai mati melawan  kaphe, tidakkah kau pandang  perjuangan mereka? Sekarang malah  kau ajak kaphe duduk bersama?”  Amarah Meutia memuncak. “Kau  pengkhianat.” “TAK ADA GUNANYA,” bentak  Samsyarif, “untuk apa? Mereka jauh  lebih kuat dari kita. Kita tak mungkin  mengalahkan mereka, dan aku tak akan  mengulang kebodohan orang tuaku,  kebodohan orang tuamu, dan  kebodohan semua orang yang  melawan.

Lebih baik kita bekerja sama  dengan mereka, meraih kemaslahatan  bersama, agama kita tak pernah  melarang semua itu.” Dahi Meutia berkerut menanggung  kemarahan.
“Sungguh tak kusangka,  ternyata kau begini. Kau buah busuk  dari garis keturunan para pejuang, kau  lancang bicara agama padahal kau tak  paham. Mereka penjajah, pembunuh,  haram bermanis muka kepada mereka,  apalagi duduk bersama. Tak kusangka  kau begini.” “Lalu apa maumu? Mengusir  mereka? Tak akan pernah mungkin.” “Lebih baik kalah tapi tak pernah  berhenti melawan, dari pada menyerah  pada penjajah.”

“Kau isteriku, KAU TURUTI  PERINTAHKU,” Samsyarif menunjuk  hidung Meutia.

Meutia menghembuskan napasnya,  menatap tajam mata Samsyarif, akan  dia telan juga kepahitan itu, “Jadilah  kau pengkhianat seorang diri. Aku tak  sudi menurutimu. Aku tak sudi jadi  isterimu.” Dan itulah dia akhirnya… (Bersambung). 
Diberdayakan oleh Blogger.