Header Ads

Teror by Media

Zachariah Matthews, aktivis islam di Amerika, membeberkan sejumlah trik media Barat yang terbit di Canada, dalam memproduksi citra buruk tentang Islam.

Pertama, sensasi. Berita dibuat berdasarkan fakta yang tidak pernah ada, atau hanya mengandung sedikit kebenaran. Namun semakin lama dihebohkan, kisah semacam ini menjadi kehilangan substansi. Misalnya, kisah menggemparkan tentang perkosaan massal atas etnis China dalam kerusuhan medio Mei 1998 di Indonesia. Begitu juga drama ‘’penculikan dan penganiayaan aktivis’’ oleh Tim Mawar Kopassus. Para aktivis yang dulu nyap-nyap mendiskreditkan Jenderal Prabowo sampai ke Amerika, kini malah bersarang di ketiak Partai Gerindra yang dibuat Sang Jenderal.

Standar ganda juga sering digunakan dalam hal ini. Ketika Mujahidin Palestina menyerang Israel dengan bom, mereka disebut sebagai teroris. Tapi ketika orang Israel membantai 29 jamaah subuh di Masjid Al Khalil, Hebron, si penjagal disebut sekadar sebagai ‘’fanatik’’ atau ‘’ekstrimis’’, atau, istilah terbaru, ‘’zealot’’. Bahkan mahasiswa Yahudi pembunuh PM Yitzhak Rabin, pun tidak pernah disebut sebagai teroris.

Trik kedua, mengemukakan berita atau klaim dusta. Sering klaim tentang Islam tanpa disertai dukungan bukti, atau dengan bukti yang sangat lemah.  Dan repotnya, pembaca awam biasanya tidak akan mempertanyakan klaim yang diajukan oleh media yang telanjur punya nama besar.

Misrepresentasi. Kerap kali media menggunakan trik pars pro toto (generalisasi). Satu atau dua kasus dijadikan berita massal. Salah satu bentuknya, judul bombastis yang tidak mencerminkan isi berita.

Pembatasan akses. Publik Muslim tidak diberi akses yang sama pada media. Betapa banyak surat pembaca mereka yang tidak dimuat media, meskipun sudah memenuhi persyaratan yang diminta. Dengan demikian, tidak saja Muslim diserang media, tapi juga bahkan tidak diberi kesempatan yang proporsional untuk membela diri.

Stereotype. Salah satu stigma ideologis ditemukan dalam genre serial film teve bahwa ‘’orang Arab adalah teroris’’. Pesan pada pemirsa tentang siapa yang pahlawan dan siapa penjahat, di film semacam itu, sangat vulgar. Hanya ada satu gambaran bengis, ketika pemirsa menyaksikan Muslim fanatik meledakkan Gedung Putih dan membantai rakyat Amerika dalam film ‘’Under Siege’’. Hal yang sama pada film ‘‘Terrorist on Trial’’ dimana Ajami, seorang Arab Palestina, ceritanya ditangkap oleh sebuah kesatuan elite militer Amerika dan diekstradisi ke AS dengan tuduhan membunuh wanita dan anak-anak AS di luar negeri. Dalam kesaksiannya di pengadilan, Ajami menyatakan memiliki senjata nuklir yang digunakannya untuk membunuhi wanita dan anak-anak AS. ‘’Kami akan meledakkan nuklir ke arah mereka di rumah masing-masing seperti halnya yang di seberang lautan. Hidup Palestina!’’ kata Ajami penuh hero.

Pengendalian reporter. Robert Fisk, koresponden pada media massa London The Independent, menulis bahwa ‘’Para editor Amerika punya kebiasaan membuang reporter mereka jika mereka mulai memahami secara objektif situasi daerah liputannya’’.

Dinding kantor Newsweek setiap hari dihiasi cover mingguan mereka. Cover itu sebagian besar mencitrakan Islam dengan kekerasan. Dengan cara ini, reporter yunior dicuci otaknya agar membenarkan kebijakan redaksional yang anti-Islam.

Jubir HTI, Ismail Yusanto, mengingatkan, paparan media yang intensif dan masif mengenai terorisme versi polisi, berbahaya bagi kesadaran publik. ‘’Kebohongan yang diulang-ulang media, lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran,’’ Ismail mengutip sebuah adagium.


Driser, jelas banget kalo media massa jadi senjata efektif untuk ngotak-ngotak cara kita berpikir dan berbuat. Kalo nggak jeli, kita bisa kebawa opini sesat media massa barat yang doyan menyudutkan ajaran Islam dan kaum Muslimin. Makanya, Drise tetep eksis untuk jagain remaja en remaji muslim dari pemikiran dan budaya sekuler  barat yang sesat dan menyesatkan. So, ajak deh sohib-sohib driser biar pada ikutan baca drise dan ikut tercerahkan. Okeh?![]
Diberdayakan oleh Blogger.