Header Ads

Roman Hattin Episode 2

“Panggil Tuhanmu kemari!!!”, hardik George. “Mana Muhammad???”. Perempuan itu meronta!
Aku terpaku, menunduk, menatap sekantung uang dengan gemetar. Kawan2ku yang lain mengayunkan pedangnya, memenggal, mencabik, mencincang. Jeritan merobek angkasa. Mereka membunuh semua orang Saracen di dalam rombongan itu. Debu beterbangan, sebagian basah oleh darah. Kulihat mereka memotong orang2 tua tak berdaya dan wanita. Puas membunuh, mereka memperkosa perempuan cantik yang tadi diperkosa George. Sungguh kasihan perempuan itu, jeritannya telah habis, kehormatannya terkoyak. Aku hanya bisa berdiri di sisi sekantung uang, dan diam saja melihat orang2 yang merasa lebih berkuasa mencabut nyawa daripada malaikat kematian.

“Hei…Phillipe.!!”, teriak George. “Mau mencoba?”. Dia menunjuk perempuan setengah telanjang yang terbaring di atas tanah itu sambil cengar-cengir. Air matanya berlinang lemah. “Kami semua sudah…”.
Aku menggeleng dalam kecamuk. George menancapkan pedangnya ke perut perempuan itu sampai tembus ke tanah. Berakhirlah sudah penderitaannya di dunia. Kubuat salib antara dahi dan dadaku mendoakan rohnya. Hidup sungguh penuh dengan derita.

Kami pulang ke benteng bersama dengan barang rampasan dan tunggangan dari rombongan Saracen itu saat hari beranjak siang. Kami membiarkan mayat mereka bergelimpangan di tengah jalan.
“Kau telah membuat Saladin murka, dan dia akan datang menghancurkan kita, Komandan!”, kataku.
“Aku tidak takut pada Saladin!!”, sesumbar George. “Akan aku tantang dia berkelahi!”.
“Aku akan mengubur mayat2 mereka.”.
“Kau ini kenapa?”, tanya George. “Tidak perlu kasihan kepada mereka!”.
“Tuhan Yesus mengajarkan belas kasihan.”
“Bukan kepada Saracen!!”, sahut George ketus. “Terserah kau sajalah!!.”.

Aku memecut kudaku kembali ke ladang pembantaian itu. Mayat2 tak lengkap bergelimpangan di sana, darah bersimbah di mana2. Aku menangis melihat semuanya ini! Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kasih sayang, setahuku. Tapi kenapa harus ada hak suci untuk membunuh, merampok, memperkosa, dan menganiaya orang2 yang lemah, seperti apa yang dikatakan Reynald de Chatillon dan Paus sendiri? Segala tanda tanya ini terus bersemayam di tempurung kepalaku semenjak aku mengenakan pakaian berlambang salib merah dan menyandang pedang di pinggangku sebagai tentara Kristus. Begitu banyak hal yang tidak aku mengerti, setelah kudengar bahwa orang2 Saracen telah dibantai ketika tentara Kristus yang pertama pimpinan Godfroi de Boullion menaklukkan Palestina hampir seratus tahun lalu.

Kuturuni kudaku. Kulihat mayat2 orang Saracen itu. Mereka sedang dalam perjalanan untuk ibadah, namun mereka harus berakhir di sini. Matahari beranjak naik sementara aku menggali lubang2 kubur di sisi jalan. Kumasukkan mayat orang2 malang itu ke dalam kubur satu persatu. Pekerjaan yang melelahkan karena aku hanya sendirian.

Ketika aku hendak mengangkat mayat pemimpin rombongan aku mendengar dia mengerang tertahan. Ternyata dia masih hidup. Aku membawanya ke sisi jalan dan kusandarkan dia ke sisi celah2 batu yang teduh. Dia tak sadarkan diri tapi aku tahu dia masih hidup. Kusobek kain alas pelana dari punggung kudaku untuk menutup lukanya. Puji tuhan darahnya berhenti. Aku bersihkan tubuhnya dengan air minum yang aku bawa. Aku duduk di hadapannya, kudoakan dia kepada tuhan Yesus agar tetap hidup. Aku menunggu dan terus menunggu. Aku ingin dia bangun dan bicara padaku. Aku ingin mohon maaf kepadanya untuk segalanya, sebab Kerajaan Sorga ada dalam maaf manusia dan ampunan tuhan Yesus.

Siang merayap dan matahari sudah sangat tinggi. Pria itu masih tetap tak sadarkan diri. Aku terus duduk di sana. Menjelang sore, kulihat dia mulai membuka matanya. Wajahnya mengerut menahan kesakitan. Dia bergerak untuk mengubah posisinya, aku membantunya. Kuberi dia minum dengan sekantung air yang kubawa. Dia tersedak, dan batuk2. Tenggorokannya sempit, kurasa.

“Kenapa kau tidak membunuhku?”, tanya pria itu. Berat dia mengeluarkan suaranya menahan kesakitan.
Aku tidak bisa menjawabnya. Aku diam saja. Kutatap tanah yang kosong. Segala pertanyaan berkecamuk dalam hatiku, aku tak mau menanggung beban pertanyaan lagi.

“Aku tidak tahu!”, sahutku. “Yang kutahu, tuhan Yesus mengajariku mengasihi.!”.
“Tapi aku bukan orang Kristen!”.
“Kau tetap makhluknya! Kau tetap milik tuhan Yesus!”, kataku. “Jangan bicara lagi, nanti lukamu tambah parah!”.
Pria itu tak sadarkan diri. Kuangkut dia ke sebuah gua yang ada di dekat situ. Kubuatkan alas tidur dan kuselimuti dia dengan mantel salib merahku. Aku pulang ke benteng, dan kembali dengan membawa obat2an dan selimut. Aku akan menolongnya. Namun aku tetap tidak bisa membawanya ke benteng. Gua itulah tempat paling aman. Aku bawakan makanan untuknya sampai dia ber-angsur2 pulih seminggu kemudian. Semuanya kulakukan dengan rahasia, kalau tidak aku akan dituduh berkhianat.
“Aku mohon maaf!”, kataku. ”Untuk apa yang sudah kami perbuat padamu. Aku sudah menguburkan semua mayat rombonganmu!”.
“Semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah!”, katanya sedih. “Kenapa kau mau menolongku?”.
Aku diam sejenak. “Karena tuhan Yesus berbelas kasih kepada manusia!”.
“Kalau Yesus berbelas kasih kenapa kami dibantai?”. Mata tajam pria itu bertanya kepadaku. Aku diam saja, tak mampu menjawabnya.
“Orang2 Saracen telah membantai umat Kristen di tanah suci saat mereka menguasai tanah suci dahulu. Mereka melarang umat Kristen menggelar Misa dan membuat kehidupan mereka susah.”, sahutku tegas. “Paus Agung memerintahkan kami untuk merebut tanah suci dan menghancurkan kaum Saracen!”.
“Kau dari Eropa!”, kata pria itu. “Kau tak tahu apa2 tentang tanah suci. Paus pun tak tahu apa2! Tujuh turunan aku tinggal di Arsuf, di pinggiran Jerussalem, aku tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sana. Dan apa yang diceritakan itu semuanya adalah tidak benar. Semuanya fitnah!”.
“Aku memintamu menceritakannya kepadaku!”, kataku. Kulihat ada kejujuran yang aneh di dalam kata2 Pria itu.
“Nabi kami, Muhammad, memang memerintahkan kami berperang. Tapi dia melarang kami untuk membunuh wanita, anak2, orang tua, dan rahib2. Kami dilarang menebang pohon dan dilarang menghancurkan biara. Dan perintah itu benar2 kami taati, karena itu semua adalah perintah Tuhan!”, katanya. “Kami dilarang membantai musuh yang sudah menyerah, kecuali jika Tuhan mengijinkannya, dan kami dilarang mencincang mayat!”.

Aku memperhatikannya dengan seksama. Karena aku ingin kebenaran yang bisa menjawab semua pertanyaan di kepalaku. Tak peduli dari mana kudapat jawaban itu, walaupun dari orang Saracen.

“Semenjak Jerussalem kami kuasai, dibuka kuncinya oleh tangan Khalifah Umar sendiri, tidak pernah kami menganiaya orang Kristen. Kedamaian dan toleransi terus kami jaga. Kami tidak pernah memaksa seorang rahib pun untuk masuk agama kami. Sampai Godfroi datang dan menghancurkan semuanya.!”, dia menjelaskan. “Dia membantai begitu banyak orang seperti menjagal hewan. Bahkan banyak juga orang kristen yang dia bunuh! Kaum Yahudi pun tak luput.”.
Diberdayakan oleh Blogger.