Header Ads

PANAS 3X

Pernah nonton film The Day After Tomorrow?  Film hollywood keluaran tahun 2004 ini pas  banget membidik pasar yang saat itu lagi santer,  isu pemanasan global alias global warming.  Roland Emmerich, sang sutradara asal Jerman  ini cukup piawai memvisualisasikan bencana  alam tsunami raksasa akibat mencairnya es di  kutub Utara.

Ngeri! Emang bukan isapan jempol kalo someday, es di  kawasan kutub bakal mencair. Hasil penelitian  lembaga ilmu pengetahuan milik Pemerintah  Perancis menggunakan kapal yang menjelajah  selama 16 bulan di Laut Arktik (wilayah di sekitar  kutub Utara), menemukan bahwa sepanjang dua  tahun terakhir, wilayah Arktik kehilangan lapisan  es seluas 1.17 juta km2 atau setara sepuluh kali  luas Pulau Jawa. Sedangkan di Kutub Selatan,  hasil Pemantauan satelit yang dilakukan oleh  Pusat Data Es dan Salju Universitas Colorado,  memperlihatkan telah terjadi lelehan bongkahan  es di Antartika seluas 414 kilometer persegi  (hampir 1,5 kali luas Surabaya).


Wadow! Pada  kemana tuh esnya ya? Jangan-jangan pada  dibikin pop ice karena kepanasan… Faktor utama penyebab mencairnya es di Kutub  Utara dan Selatan adalah peningkatan suhu  permukaan bumi karena pemanasan global  (Global Warming). Pemanasan global dipicu oleh  meningkatnya konsentrasi gas CO2 yang  dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil  berupa minyak bumi atau batubara, baik dalam  industri seperti pabrik, pusat pembangkit listrik  tenaga uap, maupun kendaraan bermotor.  Peningkatan konsentrasi CO2 ini telah  menyebabkan terjadinya efek gas rumah kaca  (glasshouse effect).
Effek rumah kaca ini  mengacu pada sifat kaca yang dapat meloloskan  radiasi gelombang pendek matahari, tetapi tidak  meloloskan radiasi gelombang panjang yang  dipancarkan oleh permukaan tanah setelah  menerima radiasi surya. Akibat sifat atmosfer  yang seperti kaca ini, terjadi akumulasi panas  didalam lapisan atmosfir, sehingga bumi menjadi  makin panas.  Mencairnya es di kedua kutub bumi akan  memberi dampak di antaranya:  

> Meningkatkan pemanasan global. Apabila es  di kutub mencair, maka 90% panas sinar  matahari akan diserap lautan sehingga  pemanasan udara semakin meningkat. Kutub  Utara dan Kutub Selatan merupakan daerah  yang sangat vital dalam menjaga agar planet  tetap dingin karena es di kutub menjadi perisai  bumi dalam menangkis 90% sinar matahari yang  menimpa bumi, dan mengembalikannya ke  angkasa luar.  

> Berubahnya pola arus laut. Dibawah  permukaan air, ada aliran arus laut, yang oleh  para ilmuwan disebut sebagai Sabuk Laut.  Fungsi sabuk laut ini adalah mendorong air laut,  yang sudah dipanaskan oleh matahari di wilayah  tropik, ke daerah yang lebih dingin di kutub.  Proses sebaliknya juga terjadi, yaitu air dingin di  Artik dan Antartika dibawa ke daerah tropik untuk  dipanaskan. Mencairnya es di kutub utara akan  membuat jumlah air tawar di Laut Utara semakin  banyak dan karena air tawar lebih ringan dari air  laut, maka letaknya berada di permukaan air  laut. Keberadaan air tawar ini mencegah air  hangat yang sampai di daerah kutub terserap  panasnya oleh atmosfir agar menjadi dingin  untuk turun ke dasar laut. Karenanya proses  sabuk arus lautan tidak lagi berfungsi. Kondisi ini  membahayakan kehidupan biota laut karena itu  berarti tidak akan ada lagi pergerakan.

>Tinggi Permukaan Laut Akan Meningkat. Laju  penyusutan lapisan es di lautan sekitar kutub,  diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun  2080 mendatang, sampai semuanya mencair.  
Dampaknya adalah meningkatnya permukaan air  laut global. Dalam 20 tahun terakhir ini,  permukaan air laut sudah naik rata-rata 8 cm.  Jika semua lapisan es mencair, diperkirakan  permukaan air laut akan naik rata-rata 90 cm.  Pemanasan global bukan semata-mata fenomena  alam, tetapi juga berhubungan intim dengan  kerusakan pola hidup masyarakat akibat  penerapan sistem ekonomi kapitalisme di seluruh  permukaan bumi saat ini.

Sistem Kapitalisme  yang menganut paham Materialis membuat gaya  hidup seseorang menjadi serakah dan tak pernah  merasa cukup. Akibatnya, banyak energi yang  harus dihabiskan untuk memenuhi 'hasrat  binatang' dari manusia-manusia yang menganut  paham sesat ini sehingga semakin banyak pula  CO2 yang akan dibuang.  Amerika Serikat sebagai salah satu negara  pengusung kapitalisme merupakan negara paling  bertanggung jawab terhadap fenomena ini karena  keengganan menandatangani Protokol Kyoto  yang bertujuan untuk mengurangi gas rumah  kaca. Wajar kalo suku eskimo Inuit yang hidup di  Benua Arktik, berencana menyampaikan petisi.

 Isinya adalah menuduh Amerika Serikat  melanggar hak asasi manusia dengan memicu  pemanasan global yang telah menyebabkan  mencairnya es di kutub utara dan selatan. Sialnya, bukannya prihatin, para pengusaha  kapitalis malah melihat melelehnya es di kawasan  kutub sebagai peluang usaha untuk melakukan  eksplorasi minyak. Soalnya, diperkirakan sekitar  25% cadangan minyak dunia ada di dasar Laut  Artik. Melelehnya gunung-gunung es juga  dianggap akan membuka jalur perkapalan baru  yang hemat waktu dan uang. Yaitu jalur pelayaran  laut Utara yang menghubungkan kapal dari Eropa  ke Jepang tanpa harus memutar lewat Terusan  Suez.


 Hmm..dasar kapitalis. Di otaknya cuman  untung-untung, dan untung. Padahal bikin orang  lain buntung. Makanya pas banget kalo  kapitalisme dan anak cucunya kudu segera  ditendang dari kolong langitnya ALLAH. Jedig! 

DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 02
Diberdayakan oleh Blogger.