Header Ads

Mawar Perang Episode 4 (Kehidupan)



Jurang lebar membentang, tidak ada lagi jembatan tempat menyeberang. Kalau akhir yang dituju sudah berbeda, tak ada lagi gunanya berjalan beriringan. Cinta telah terpisah dan kebersamaan telah pecah. Sebab yang satu ingin melindungi perjuangan, tapi yang lain telah jatuh menyerah.
Hari itu keputusan telah dibuat, sebuah keputusan yang teguh dan berat. Perceraian memang pahit dikecap, apalagi bagi seorang perempuan. Namun kalau memang jalan itu yang mesti ditempuh demi melindungi perjuangan, pantang jalan lain dipijak. Meutia perempuan yang kuat, hatinya sekokoh karang. Baginya lebih baik hidup manjanda daripada mengkhianati perjuangan.
“Kau berani melawanku?” Bentak Samsyarif sambil membelalak. “Perempuan durhaka.”
“Aku bukan perempuan durhaka,” sahut Meutia sengit. “Kezaliman wajib dilawan, tak peduli siapapun yang melakukannya.”
“Aku tak akan menceraikanmu.”
“Aku tak sudi menjadi istri pengkhianat. Aib dan nista bagiku menjadi istrimu, aku menggugat cerai.”
“DURHAKA.” Samsyarif meraung, tangannya naik hendak menampar Meutia.
Dengan tegak Meutia menghadapi tamparan itu. alisnya berkerut, bibirnya mengatup keras. Apapun yang akan terjadi akan ditantangnya. Telapak tangan Samsyarif meluncur deras hendak menghantam pipi  Meutia, namun tamparan itu ditahan oleh genggaman tangan seorang pria.
Tiba-tiba di dekat Samsyarif berdirilah seorang pria yang tegap dan tampan. Ia menggenggam pergelangan tangan Samsyarif, menahan agar tamparan keras itu tidak mendarat di pipi Meutia.
“Maaf, Cutbang, tak baik kau bersikap kasar kepada istrimu,” katanya, “bukan begitu memperlakukan perempuan.”
“Apa pedulimu?” Sergah Samsyarif kepada laki-laki itu. “Dia perempuan yang durhaka kepada suaminya.”
“Benarkah begitu, Cutda?”
“Aku tak sudi jadi istri pengkhianat.” Meutia masih sengit melawan, matanya menatap Samsyarif tajam-tajam.
Samsyarif menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu, berusaha menyerang Meutia. Dengan cekatan laki-laki itu kembali menahan gerakan Samsyarif.
“Lepaskan aku, jangan kau ikut campur urusanku, kau sama durhakanya dengan perempuan itu,” Samsyarif berteriak tak karuan.
Dua lelaki perkasa itu bergumul, bertindihan di lantai. Namun lelaki asing itu lebih tangkas, ia berhasil mengunci dan menahan tubuh Samsyarif.
“Lepaskan, kau tak tahu diri, masih berani kau menampakkan batang hidungmu di rumah ini? Tak malu kau pulang ke rumah ini? Bukankah hutan dan senapan lebih engkau cintai?” Samsyarif hanya bisa berteriak. “Karena kau kedua orang tua kita mati, kau durhaka.”
Lelaki itu tersenyum namun ia tak mengendurkan kunciannya pada tubuh Samsyarif.
“Terima kasih untuk semua kata-katamu, Cutbang. Aku pulang hendak berziarah ke pusara orang tua kita. Untuk menghormati betapa teguh dan kuatnya perjuangan mereka melawan kaphe penjajah. Sampai mati mereka tak pernah menyerah, dan sudah seharusnya begitu pulalah adanya kita, tidak boleh menyerah.”
Meutia menjauh ke sudut kamar. Ia menyaksikan semua itu. hatinya bertanya-tanya siapa gerangan lelaki asing yang tiba-tiba hadir itu? ia tak mengenalnya. Namun siapapun lelaki asing itu telah terselip rasa kagum di hatinya akan segala yang dikatakan lelaki itu. Meutia menyadari mungkin lelaki itu memiliki hubungan saudara dengan suaminya. Samsyarif tak pernah menyebut bahwa dia memiliki saudara. Dan perasaan  kagum itu tiba-tiba berubah menjadi cinta, saat ia terus memperhatikan lelaki itu dan kata-katanya.
“Tak ada kebaikan dan kebahagiaan di sisi kaphe beulanda. Ikutlah berjuang sebagaimana orang tua kita dahulu telah berjuang. Mengapa aku lebih memilih tinggal di hutan dan lebih memilih memanggul senjata, adalah karena aku ingin menetapi amanah mereka untuk terus melawan penjajah. Dan sampai mati aku akan terus menetapi amanah itu. tak akan pernah berubah sedikit pun.”
“Kau teruskanlah kebodohan itu, kau akan sengsara selamanya. Aku tak peduli.” Samsyarif terus meluap-luap emosinya. “Pergilah kau dari sini, kau bukan adikku lagi.”
“Maafkan aku,” sahut lelaki itu, “ada satu permintaanku yang mesti kau penuhi.”
Samsyarif mendengus saja.
“Kau ceraikan istrimu, nampaknya dia sungguh-sungguh membencimu. Akulah yang akan jadi suaminya.”
Secercah cahaya tiba-tiba bersinar di hati Meutia. Jalan yang baru terbentang sudah.
(bersambung).

di muat di majalah remaja islam drise edisi 08
Diberdayakan oleh Blogger.