Header Ads

KEKERINGAN DAN BANJIR

Iklim di wilayah nusantara sangat  dipengaruhi oleh kondisi geografis  Indonesia yang berada di antara dua  samudra yaitu Hindia dan Pasifik, serta  dua benua, Asia dan Australia. Kondisi ini  menyebabkan wilayah Indonesia memiliki  dua musim yang sangat berbeda  karakteristiknya, yaitu musim kemarau  dan musim hujan. Iklim dengan dua  kondisi ini dikenal sebagai muson  (monsoon).

Selama musim kemarau,  pada beberapa kondisi tertentu yang  ekstrim, dapat terjadi peristiwa  kekeringan, sedangkan selama musim  hujan, dapat dipicu kejadian banjir.  Secara umum, kekeringan atau  kemarau adalah kondisi kekurangan air  pada suatu daerah untuk suatu periode  waktu berkepanjangan, yang pada  akhirnya mengakibatkan terjadi defisit  kelembaban tanah. Kekeringan  merupakan peristiwa alam atau  sunnatullah yang terjadi sejak dahulu,  terkait dengan fenomena cuaca.  Kekeringan yang terjadi di Indonesia  pada tahun 1848 dan disusul tahun 1872  yang melanda wilayah Kabupaten Demak  Propinsi Jawa Tengah, telah  mengakibatkan ribuan orang meninggal  dunia.

 Pengamatan menunjukkan bahwa  kemarau yang terjadi terus meningkat  besarannya (magnitude), baik intensitas,  periode ulang, dan lamanya, sehingga  dampak dan risiko yang ditimbulkan  cenderung meningkat menurut ruang  maupun waktu. Hal ini terlihat dari  meningkatnya luas dan jumlah wilayah  yang mengalami deraan kekeringan sejak  sepuluh tahun terakhir.  Secara umum kekeringan disebabkan  oleh adanya anomali iklim dan aktifitas  manusia.

 Kemarau berkepanjangan yang  menyebabkan kekeringan sering terjadi  karena anomali iklim seperti El Niño. Dari  data curah hujan di Pulau Sumatera,  Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali,  kemarau panjang di Indonesia terjadi  pada tahun-tahun 1903, 1914, 1925,  1929, 1935, 1948, 1961, 1963, 1965,  1967, 1972, 1977, 1982, 1987, 1991,  1994, dan 1997. Dari 17 kali kejadian  kemarau panjang di Indonesia, 11 kali di  antaranya bersamaan dengan kejadian El  Niño.  

El Nino adalah phenomena anomali  atau penyimpangan iklim yang terjadi  akibat meningkatnya suhu permukaan air  laut di samudra Pasifik. Peningkatan suhu  ini telah merubah sirkulasi udara antara  bagian barat benua Amerika dengan  bagian timur kepulauan Indonesia yang  disebut sebagai Sirkulasi Walker. 

Saat  Kondisi Normal, sirkulasi Walker  menyebabkan wilayah Indonesia menjadi  zona konvergensi sehingga akan banyak  terbentuk awan, sedangkan saat El Nino  datang, akibat perubahan sirkulasi Walker  menyebabkan wilayah Indonesia menjadi  daerah divergensi sehingga sulit  membentuk awan.
Dengan demikian  Indonesia mengalami kekeringan, akan  tetapi wilayah barat benua Amerika  seperti Peru mengalami intensita hujan  tinggi sehingga menyebakan banyak  banjir.  Banjir dan faktor Penyebabnya Banjir adalah kondisi sementara dari  permukaan lahan, yang umumnya kering  pada kondisi normal, yang tergenang  karena pasokan berlebih akibat  akumulasi yang sangat cepat dari  limpasan aliran permukaan (runoff).

Banjir  terjadi saat debit aliran sungai menjadi  sangat tinggi, sehingga melampaui  kapasitas daya tampung sungai.  Akibatnya bagian air yang tidak  tertampung akan melimpas melampaui  badan/bibir sungai dan pada akhirnya  akan menggenangi daerah sekitar aliran  yang lebih rendah. Secara umum penyebab utama banjir  dapat dibagi menjadi tiga yaitu: iklim,  karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS),  dan pengaruh aktivitas manusia  (antropogenik). Faktor iklim yang secara langsung  berpengaruh terhadap kejadian banjir  adalah curah hujan khususnya hujan  lebat (eksepsional). 

Banjir terjadi karena  DAS menerima masukan curah hujan  yang melebihi kapasitas tampungnya.  Intensitas dan durasi hujan di suatu  wilayah sangat ditentukan oleh kondisi  iklim setempat. Selain itu, gangguan iklim  regional seperti gangguan siklon tropis  maupun gangguan iklim global yaitu  fenomena La Nina (kebalikan fenomena  El Nino) dapat mempengaruhi  karakteristik hujan..  

Perilaku debit sungai sangat ditentukan  oleh karakteristik biofisik DAS meliputi  bentuk, ukuran, kerapatan jaringan  sungai, topografi, jenis tanah serta  geologi. DAS berbentuk bulat, berukuran  kecil, kerapatan jaringan sungai tinggi,  lereng terjal, serta permeabilitas tanah  rendah akan memiliki respon hidrologis  yang sangat cepat saat menerima  masukan hujan. Sedangkan DAS  berbentuk memanjang, berukuran besar,  kerapatan jaringan hidrografi rendah,  lereng landai, permeabilitas tanah tinggi,  akan memiliki respon hidrologis sangat  lambat. Apabila kita bandingkan, maka  resiko banjir akan lebih mudah terjadi  pada kasus DAS

pertama.  Karena terdiri dari kepulauan, DAS di  Indonesia sebagian besar berukuran kecil  dengan lereng yang terjal. DAS yang  memanjang hanya terdapat di pulau-pulau besar, seperti Musi dan Batanghari  di Sumatera, Kapuas, Barito dan  Mahakam di Kalimantan. Sungai-sungai  di Sumatera bagian utara, Jawa dan  Sulawesi umumnya pendek dan sering  mengalami kebanjiran.  


Aktivitas manusia yang berpengaruh  terhadap perubahan fungsi hidrologis  yang menyebabkan banjir, diantaranya  adalah alih fungsi lahan. Penebangan  atau konversi dengan vegetasi yang  memiliki laju evapotranspirasi dan daya  intersepsi rendah akan meningkatkan  volume aliran permukaan. Dengan  demikian, waktu respon DAS akan  cenderung semakin cepat, sehingga akan  meningkatkan resiko banjir. Secara historis, kekeringan dan banjir  merupakan fenomena alam yang sudah  terjadi ribuan tahun yang lalu. Bahkan  beberapa peradaban besar dunia  dibangun pada daerah dataran banjir  yang sangat subur, yang telah memicu  berkembangnya teknik budi  daya pertanian.  
Diberdayakan oleh Blogger.