Header Ads

IMAM SYAFI'I PENCARI ILMU SEJATI

Siapa yang tak kenal imam mazhab yang  satu ini. Namanya cukup familier di  telinga  kita. Nama asli beliau adalah Muhammad  bin Idris bin Al-Abbas, beliau sering disebut  Imam Syafi'i. Nama ini diambil dari kakek  beliau yang ketiga, yaitu Syafi'i bin As-Said,  padahal pada awalnya panggilan beliau  adalah Abu Abdullah. Beliau lahir di Gaza  pada tahun 150 H, tahun yang bertepatan  dengan wafatnya Imam Abu Hanifah.

Beliau  sudah menjadi yatim saat usia beliau masih  sangat muda, ayah beliau wafat  meninggalkan beliau dalam keadaan miskin.  Walaupun demikian kalau kita lihat dari  catatan hidup beliau, pada usia 7 tahun  beliau berhasil menghapal Al-Quran 30 juz.  Kita juga sebenernya hapal Al-Quran, tapi  juz 30 doang, beda dikit kan?? Pada usia 10  tahun (riwayat lain 13 tahun) beliau hapal  kita Al-Muwaththa' karya Imam Malik yang  berjilid-jilid. Dan pada usia 15 tahun (riwayat  lain 18 tahun) beliau dipercaya untuk  mengeluarkan fatwa oleh gurunya, Muslim  bin Khalid Az-Zanji. Hebat bukan? Apakah beliau didukung  duit? Beliau menyatakan sendiri  kepedihannya,

“Aku adalah seorang yatim di  bawah asuhan ibu. Ibuku tidak mempunyai  uang untuk membayar seorang guru untuk  mengajariku. Namun seorang guru  mengizinkanku belajar dengannya ketika ia  mengajar. Kala aku mengkhatamkan Al-Quran aku selalu masuk masjid untuk  mengikuti pelajaran yang disampaikan para  ulama dalam pengajian itu. Aku  menghafalkan hadis dan permasalahn-permasalahan agama. Akibat kemiskinan itu,  ketika aku melihat tulang yang menyerupai  papan, maka tulang itu aku ambil untuk  menulis hadis dan beberapa permasalahan  agama.

” Diriwayatkan pula bahwa beliau  memungut kertas bekas kantor  pemerintahan di masa itu untuk menulis. Terbukti, uang bukanlah kendala utnuk  mencari ilmu. Hanya butuh semangat, kawan,  semangat saja. Pasti pengorbanan itu berbuah  manis. Seperti dialami Imam Syafii yang akhirnya  beliau menjadi panutan dengan mazhab yang  beliau bangun, dan menjadi tujuan para pencari  ilmu baik di Irak, Syam, dan Yaman pada masa itu.  Tapi, bukan hanya semangat mencari ilmu  saja, tapi juga harus dibarengi dengan semangat  menjaga ilmu.

Ada riwayat yang menyebutkan  bahwa beliau kehilangan 40 ayat hapalannya  karena tidak sengaja melihat betis perempuan yang  bukan mahramnya. Ada juga yang meriwayatkan  hanya tumit seorang wanita yang tersingkap dari  pakaiannya. Nah kalo jaman sekarang gimana  tuh?? Di jalan, sekolah, pasar, TV, di mana-mana  aurat melulu, kalo bukan karena penjagaan dari  Allah tu ayat Quran nggak ada yang mau nempel di  otak kita kali.

Bukti tentang keluasan ilmu beliau bisa kita  lihat selain dari kitab-kitab karangannya juga dari  kesaksian-kesaksian orang-orang tentang beliau.  Ketika beliau mengajar di masjid Baghdad, di situ  ada 20 halaqoh (kelompok belajar). Setelah beliau  datang malah menciut jadi 3 halaqoh. Pada ke  mana? Apa pada kabur? Tentu bukan, yang 17  halaqoh lainnya bergabung dengan halaqoh beliau.  Karena ketinggian ilmunya, pantaslah beliau  digelari Nasir As-Sunnah (pembela sunnah).  

Pernah juga saat beliau berada dalam perjalanan  dari Mekah menuju Madinah, selama 8 hari, beliau  mengkhatamkan Quran sebanyak 16 kali. Menurut  Ar-Rabi' bin Sulaiman, Imam Syafi'i membagi  waktunya menjadi 3 bagian, sepertiga untuk  menulis, sepertiga untuk solat, dan sepertiga untuk  tidur. Begitulah keseharian beliau, menjadikan ilmu  itu sepertiga hidupnya begitupun ibadahnya. Maka yakinlah, dengan terus berupaya penuh  semangat dalam mencari ilmu, biaya tidak akan  menjadi halangan karena banyak orang yang  berhasil melewatinya. Dengan ilmu itu kita bisa  meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah,  dan ilmu itulah yang akan memuliakan kita di dunia  dan akherat.[Ridwan

KARYA YANG MEMANJANGKAN UMUR

Dalam kitab Al-Baihaqi, Imam  Syafi ' i   mengaku  pernah  menulis  140  kitab,  baik  menyangkut  masalah  ushul  (pokok) maupun furu' (cabang).  Di antara karya-karya beliau  adalah: Kitab Ar-Risalah (kitab  ushul fiqih pertama kali ditulis  ulama); kitab Al-Umm setebal 7  jilid  mencakup kitab Siyar Al-Ausa'i,  Jama'  'Alim,  Ibtal  Istihsan, Ar-Radd 'ala  Muhammad  ibn  Hasan;  kitab  Al-Musnad, berisi hadis yang dihimpun  dari Al-Umm; kitab Ihtilaf Al-Hadis; dll. Banyak  j uga  ki tab  yang  menjelaskan  pikiran-pikiran  beliau  yang  ditulis  murid-muridnya, yaitu:  Kitab Al-Fikh; kitab Al-Kabir; kitab Al-Muhtasar; kitab As-Sagir; kitab Al-Fara'id.  Karya-karya  beliau  itulah  membuat beliau panjang umur. Nama  beliau  masih disebut-sebut  sampai  sekarang


Diberdayakan oleh Blogger.