Header Ads

Fenomena Felix Siauw dan Proxy War

Oleh: Asri Supatmiati (Pengasuh Rubrik Media Watch Majalah Drise)
.
Akhirnya saya nggak bisa tutup telinga dengan kabar di media sosial tentang kasus pembubaran pengajian Ustaz Felix Siauw di Malang. Padahal temanya cuma “Cinta Mulia”. Ngajak remaja supaya nggak gaul bebas. 
.
Sedianya, April kemarin saya juga diundang ke Malang. Bedah buku. Berhubung saya ada dalam kondisi tertentu yang tidak bisa saya jelaskan, dengan menyesal tidak saya iyakan. 
.
Lalu, belum lama saya chat dengan salah seorang perempuan. Mau tabayun. Karena, secara terbuka, bisa dibilang, dia mengaku jatuh cinta pada Sang Ustaz. Sampai-sampai dia ingin dijadikan yang kedua (#serius). 
.
Begitulah, Ustaz Felix itu memang fenomenal. Buanyak pecintanya. Cinta dakwahnya, maupun cinta orangnya hehe... 
Tapi, rupanya yang benci dengan dakwahnya juga banyak. Lihat aja di media sosial. Yang pro dan kontra udah ibarat buka front perang aja. 
.
Nah, ngomong-ngomong soal perang, saya jadi ingat tulisan tentang proxy war. Inilah yang terjadi (awas, mulai serius nih!).



.
Definisi 
 .
Proxy War atau sederhananya perang boneka adalah sebuah konfrontasi antardua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti. Hal ini, untuk menghindari konfrontasi secara langsung, dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran total.
.
Pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti antara lain negara kecil, atau kadang nonstate actors. Seperti LSM, ormas, kelompok masyarakat atau perorangan (tokoh-tokoh berpengaruh, pejabat, dll). 
.
Proxy war bermain di semua lini kehidupan dengan berbagai macam cara. Baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya maupun hukum. Motifnya antara lain menguasai sumber daya alam, wilayah, hingga penggantian ideologi.
.
Contoh mudahnya, kalau Amerika Serikat ingin menguasai Indonesia, nggak perlu gelar kapal perangnya di sini. Nggak perlu jatuhin bomnya di mari. Cukup kuasai aset-aset sumber daya alam strategis, melalui perusahaan-perusahaan mereka. Membujuk penguasa (sebagai negara kecil alias boneka) untuk menyerahkan aset-aset tersebut mereka kelola. Hasilnya, gunung emas di Papua sukses dialirkan melalui pipa-pipa panjangnya ke Amerika.
.
Contoh lain, jika Tiongkok ingin menguasai Indonesia, tak perlu tiba-tiba kirim pasukan militer ke sini. Cukup dengan cengkeraman investasi. Jadikan penguasa-penguasa boneka di sini untuk mengutamakan kepentingan investasi mereka. Maka jangan heran jika investasi Tiongkok banjir belakangan ini. 
.
Lebih Bahaya 
.
Melalui perang ini, tidak dikenali siapa kawan, siapa lawan, karena musuh mengendalikan nonstate actors dari jauh. Karena itu, perang ini lebih berbahaya. Tahu-tahu kekuatan tertentu telah berkuasa tanpa disadari kehadirannya. Jika perang konvensional terlihat nyata musuhnya, semisal siapa yang mengerahkan militer dan siapa yang menjatuhkan bom, tidak demikian dengan proxy war. 
.
Indonesia, sampai saat ini, tidak pernah menganggap Amerika Serikat sebagai musuh atau penjajah. Padahal, contoh kecil, Freeport bercokol di Papua puluhan tahun lamanya dan terus diperpanjang. Bukti nyata penjajahan gaya baru atau neoimperialisme, cukup dengan proxy war. Indonesia dijajah tapi tidak merasa dijajah. Tidak sadar siapa musuh sesungguhnya. 
.
Gerakan separatis Papua pun masih dibiarkan eksis di sana. Pemerintah tidak juga belajar dari kasus Timor Timur. Padahal, lepasnya Timor Timur merupakan salah satu contoh nyata keberhasilan proxy war. Dimulai dari munculnya gerakan separatis (sebagai boneka). Separatis tidak ditumpas, sehingga Timtim menjadi isu internasional. 
.
Kaum separatis –dengan support negara-negara sutradara ini-- akhirnya bisa berjuang melalui jalur diplomatis (dengan menjadikan PBB sebagai kendaraannya). Muncullah desakan referendum, sehingga Timtim akhirnya lepas dari Indonesia. 
.
Pihak yang paling diuntungkan dari lepasnya Timtim, siapa lagi kalau bukan Australia yang segera mendapat bagian dari kontrak Celah Timor yang kaya migas. Jadi, sutradara sebenarnya adalah pengemban ideologi sekuler kapitalis (di wilayah ini diwakili Australia). Tujuannya, ingin memecah wilayah Indonesia, sekaligus menguasai sumber daya alam di sana. Indonesia mana sadar musuh sesungguhnya Australia? Nggak ngeh blas!
.
Contoh lain keberhasilan proxy war adalah pendirian negara Singapura. Dahulu, negeri kecil ini bagian dari wilayah Melayu. Tahu-tahu, dikuasai etnis China hingga etnis Melayu pun lama-lama tersingkir dari persaingan. Kini umat Islam menjadi minoritas di sana (kebetulan saya dapat cerita langsung dari seorang guide waktu kunjungan ke sana).
.
Nah, apa hubungannya dengan pembubaran pengajian Ustaz Felix Siauw? Dakwah beliau mempengaruhi jutaan umat Islam. Sementara, ada kekuatan besar yang tidak senang dengan tanda-tanda mekarnya keislaman orang Indonesia. Islam yang kafah. Islam yang bukan sekadar ajaran ritual, tetapi ideologi. Tentu saja, lawan Ideologi Islam adalah ideologi sekuler kapitalis. 
.
Pengemban ideologi sekuler ini melancarkan proxy war, ingin meredam Islam dengan “nabok nyilih tangan” alias menggunakan pemeran boneka. Umat Islam diadu domba. Sebagian ormas Islam, tokoh-tokoh tertentu; sadar atau tidak dijadikan boneka-boneka yang sedang dimainkan sebagai aktor oleh sutradara, untuk saling memukul. 
.
Akibatnya, umat Islam tidak sadar siapa kawan siapa lawan. Saudaranya sendiri dimusuhi, sedangkan musuh sebenarnya tidak disadari. Bahkan ditemani. Astaghfirullah. Sadarlah, jangan mau terjebak dalam proxy war. Buka mata: siapa lawan siapa kawan. Semoga Islam dan kaum muslimin tetap bersatu. Aamiin.(*)
.
Bogor, 2 Mei 2017 
#belajarnulis #revowriter #ideowriter #felixsiauw #dakwahremaja#supportdakwah
Diberdayakan oleh Blogger.