Header Ads

DRACULESTI EPISODE 6- HABIS

Pasukan gabungan Kristen itu  bersorak-sorai menaikkan semangat.  Mendongkrak mental di hati mereka  agar berani beradu nyawa dengan  musuh di hadapan. Lazar dan  Alexander memimpin pasukan  infanteri di bagian tengah. Di depan  mereka membentang pasukan  kavaleri dengan kuda-kuda yang  kekar dan gagah. Pasukan sayap kiri  dipimpin oleh Brankovic.

Pasukan  sayap kanan dipimpin Vukovic. Keheningan bangkit di Kosovo  Polje (Padang Kosovo). Pasukan  Khilafah Ustmaniyah pun telah  bersiaga. Bagian tengah pasukan  dikomandoi langsung oleh Sultan  Murad. Pasukan itu terdiri dari  Jannisari dan Akinci. Sayap kanan  dipimpin Bayazid, terdiri dari pasukan  infanteri dan Jannisari. Di depan  pasukan Bayazid berbaris pula  brigade Sipahi, mereka adalah  pemanah-pemanah tangguh.

Sayap  kanan dikomandoi Fregadovic.  Sebagian besar pasukannya di  Velbudz turut dengannya masuk  Islam. Dia langsung memimpin  pasukannya itu untuk membela  kalimatullah. Angin menerbangkan debu yang  dingin, lembut, dan lembab. Dia  bertiup resah menatap semuanya. Alis  Sultan Murad melengkung. Bayazid  menatap jauh ke depan, ia akan  mengomando seluruh pasukan. Syekh  Hasan menarik pedang dari  sarungnya.

Fregadovic  mengumandangkan kalimat takbir  yang baru saja ia pelajari di hatinya.  Siaga! Lazar menyentuh dahinya, lalu  bahu dan dadanya, membuat tanda  salib. Alexander mencabut pedangnya  sambil mendecakkan lidahnya.  Brankovic mengedarkan pandangan  ke sekitarnya, semuanya telah  bersiap. Vukovic menengadah  menatap langit mendung, mengharap  tuhannya menolongnya. Tiba-tiba langit mendung itu pecah dengan  pekik. “ALLAAAAAHU AKBAR.” Gema takbir menyeruak di Kosovo Polje.  Berhamburan keluar dari kerongkongan pasukan  muslim Khilafah Ustmaniyah. Pasukan gabungan Kristen tak sudi mengalah.

“DEUS LE VOOOLLTT.” Meledaklah teriakan-teriakan dari tengah-tengah pasukan itu. Brigade Sipahi mengacungkan panah-panah  mereka, menembak pasukan kavaleri paling  depan yang telah bergerak maju. Pasukan kavaleri Serbia itu dengan semangat  memacu kudanya, hendak menyerang sayap kiri  yang dipimpin Fregadovic. Namun panah-panah  pasukan Sipahi mempersulit mereka. Anak-anak  panah itu beterbangan seperti hujan merenggut  nyawa pasukan kavaleri Serbia. Banyak yang  mati tertancap panah dan terpelanting dari  kudanya.

Fregadovic memekik takbir dengan lidah  Eropanya dan menusukkan pedangnya ke langit.  Kavaleri dan infanteri sayap kiri yang dipimpin  Fregadovic maju menerjang pasukan kavaleri  Serbia yang datang. Berbenturanlah kedua  pasukan itu. Pertempuran sengit telah pecah. Sultan Murad dan Bayazid sama-sama  memekikkan takbir dan sama-sama memimpin  pasukan mereka maju menerjang musuh-musuh  Allah. Sultan Murad langsung maju menusuk  bagian tengah yang dipimpin Lazar dan  Alexander. Bayazid menyerang pasukan kavaleri  di bawah komando Vukovic.

Pertempuran besar di  Kosovo Polje telah membentang. Pedang beradu dengan pedang. Tombak  berdentang dengan kapak. Bendera perang  Rasulullah yang berwarna hitam bertuliskan  syahadat putih berkibar dihembuskan angin  peperangan. Menemani bendera merah Khilafah  Ustmaniyah yang berlambangkan bulan dan  bintang warna putih. Darah memancar, leher-leher  terpenggal, dan pekik bersahut-sahutan. Sayatan,  sabetan, dan tikaman tajam berkilat-kilat. Sayap kiri yang dipimpin Brankovic bergerak  ke tengah untuk menahan serangan pasukan  Sultan Murad.

Sebagian pasukan gabungan  Kristen itu menggempur pasukan Sultan Murad. Sultan Murad perkasa di atas punggung  kudanya. Pedang tergenggam di tangan nya  kanannya, belati melengkung dalam  kepalan tangan kirinya. Ia mengayunkan  dua senjata itu menghancurkan nyawa  pasukan musuh. Darah telah berlumuran  di sana, dan semangat Sultan Murad  tetap membara. Matanya tertuju kepada  medan perang tak jauh darinya terlihatlah  Kaisar Lazar Hrebeljanovic sedang  mengayunkan pedangnya membunuh  seorang prajurit Jannisari. Ia memacu  kudanya dan menabrakannya ke kuda  Lazar.

Dua binatang mengagumkan itu  sama-sama terpelanting dan jatuh  berdebam menimpa rumput basah dan  tanah becek. Sultan Murad jatuh di atas  lumpur, wajahnya kotor, belatinya  terlempar entah kemana, namun  pedangnya masih kokoh dalam kepalan. Lazar pun melayang dan terjerembab  menimpa mayat-mayat pasukan Serbia  yang bergelimpangan dilumuri lumpur.  Matanya nanar menatap siapa gerangan  yang menabraknya.

Saat dia menyadari  siapa musuhnya dia cepat-cepat bangkit  dan memungut kembali pedangnya. Dua  pemimpin negara besar itu telah  berhadap-hadapan di medan laga.  Menghunus senjata, memasang kuda-kuda, siaga! “Suatu kehormatan bisa berhadapan  denganmu,” Lazar menyeringai, “kau  akan dihancurkan di sini.” “Aku pun bahagia sekali,” sahut  Sultan Murad, “musuh Allah-lah yang  akan hancur sekarang juga.” Tak banyak berkata lagi, mereka  melompat dan menerjang satu sama lain.  Pedang mereka beradu menyilang. Di  sekeliling mereka peperangan kejam. Angin dingin peperangan menyelimuti  tubuh Sultan Murad dan Kaisar Lazar.  

Keduanya bergerak lincah mengancam.  Melompat, menyabet, menyayat, dan  berusaha menghancurkan. Sultan Murad membelah udara  dengan pedangnya. Deras dari atas ke  bawah. Lazar mengangkat pedangnya,  menangkis, melindungi kepalanya yang  jadi sasaran Sultan Murad. Pedang berdetak memercikkan bunga api. Sultan  Murad mengayunkan pedangnya dari kanan,  Lazar menangkis. Lazar mati-matian  menahan serangan Sultan Murad.  Kepiawaiannya bermain pedang sangat  menakjubkan, Sultan Khilafah Ustmaniyah itu  gemulai seakan-akan menari. Mereka berdua  melompat mundur, mengambil jeda,  mengambil napas.

Lazar bergerak cepat menusukkan  pedangnya ke jantung Sultan Murad. Pedang  Sultan Murad terayun ke atas dan menolak  pedang Lazar, mengeluarkan suara  melengking. Namun pedang itu tidak  terlempar, masih tergenggam di tangan  Lazar. Dengan cepat Lazar menggunakan  posisi itu dan bergerak memutar rendah  sekali hendak menyerang perut kiri Sultan  Murad. Sultan Murad membungkuk rendah  menghindari serangan Lazar, namun  gerakannya agak terlambat sehingga pedang  Lazar menerabas sorban di kepalanya.  
Sorban itu terhempas dan terpotong.  Terbukalah kepala dan rambut Sultan Murad  yang telah mulai memutih. Kalau tadi  terlambat bergerak sedetik saja kepalanyalah  yang akan terhempas. Sultan Murad melompat mundur dengan  tetap siaga. Matanya melirik sorbannya yang  jadi korban keganasan serangan Lazar.  Langkahnya berkecipak di genangan air. “Jangan senang dulu, aku belum jatuh,”  kata Sultan Murad saat ia melihat Lazar  menyeringai. “Sebentar lagi kepalamu yang akan jatuh  ke lumpur itu,” balas Lazar. “Kepala musuh Allah yang akan jatuh.” Tanpa jeda Sultan Murad mengayunkan  pedangnya menerjang musuhnya.

Lazar  mengelak dan menangkis. Dia terdesak  mundur tak sanggup menahan serangan  Sultan Murad. Pedang berdentang, baju zirah  berkelontang. Pasukan yang dipimpin Fregadovic  berhasil menembus prajurit kavaleri Serbia.  Akhirnya ia dan pasukannya merangsek  maju ke tengah-tengah Kosovo Polje. Kuda  kekar Fregadovic meringkik keras dan berdiri  di atas dua kakinya. Ia telah berkali-kali  bertempur di medan laga, tapi perangnya di  padang Kosovo itu adalah perangnya yang  pertama kali, sebagai muslim. Islam, agama  baru yang ia peluk ia yakini kebenarannya,  dan dengan senang hati ia akan bertempur  membelanya.

Menggenggamnya sampai  mati. Fregadovic menghamburkan pedangnya  di medan perang, ia maju tak terbendung.  Sudah banyak pasukan musuh mati di  tangannya. Di kejauhan ia melihat Kaisar  Bulgaria, Ivan Alexander, sedang  bersemangat menghancurkan pasukan  Islam. Ia melarikan kudanya mengejar  Alexander. Baru beberapa waktu yang lalu ia  membungkuk hormat dan bermanis muka di  hadapan Kaisar Bulgaria itu, sekarang  mereka adalah musuh bebuyutan. Semua itu  terjadi karena perbedaan iman. Tiba-tiba Fregadovic keluar dari kecamuk  perang menghambur di hadapan Alexander  dan langsung mengayunkan pedangnya.  

Alexander terkesiap dan mengangkat  pedangnya menangkis serangan itu. Dia  terkejut alang kepalang melihat siapa yang  sekarang jadi musuhnya. Matanya  membelalak, wajahnya kesal. Mereka  berhadap-hadapan. “FREGADOVIC,” teriak Alexander, “APA  YANG KAU LAKUKAN?” Dia mengacungkan  pedangnya lurus-lurus. Fregadovic diam saja. Tangan kirinya  sibuk mengendalikan tali kekang kudanya,  pedang berkilat di tangan kanannya. “Aku mengerti,” Alexander tersenyum  sinis, “kau telah BERKHIANAAATT…” Alexander melompat, mengayun pedang  dengan cepat. Sapuan bilah pedang  berkelebat hendak memangsa nyawa  Fregadovic.

Dengan tangkas Freagadovic  menghindarinya, membungkuk rendah.  Fregadovic menusukkan pedangnya lurus ke  arah perut Alexander. Akan ditembus saja  perut Kaisar Bulgaria  itu oleh pedangnya,  namun Alexander meliuk ke kiri.  Mendapatkan kesempatan, Alexander balas  menyayatkan pedangnya kepada  Fregadovic. Bilah pedang beradu dengan  bilah pedang, nyaring berdentang.  Pergumulan pedang antara Fregadovic dan  Alexander berlangsung lama tanpa ada  seorang pun yang mendapat luka.  Kemampuan mereka sebanding. Mereka melompat mundur. Napas mereka  tersengal, mengambil jeda, namun tetap  memasang kesiagaan.

“Pengkhianat, benar-benar tak kusangka,”  Alexander menggeleng, “kau akan mati di  tanganku hari ini.” “Aku sudah menemukan kebenaran, mau  kau bilang pengkhianat atau celaan apapun  aku tidak peduli,” sahut Fregadovic ketus,  “kau yang akan mati hari ini.  Bersiaplah.” Mereka berdua meraung, bergerak  maju lagi membenturkan pedang. Dengan  begitu bernafsu Alexander mengayunkan  pedangnya, Fregadovic bertahan dan  mundur.
Pedang Alexander bergerak  cepat. Lengan kanan Fregadovic tersayat,  lalu perutnya sebelah kiri. Baju zirahnya  telah tembus. Melihat darah telah merembes keluar,  Alexander menyeringai. Tangannya makin  cepat membabatkan pedang. Fregadovic  bertahan mati-matian. Fregadovic menghempaskan  pedangnya ke samping, menolak  serangan Alexander sambil melayang  menjatuhkan dirinya ke belakang. Perut  Alexander terbuka lebar.

Dalam keadaan  melayang itu Fregadovic menyarangkan  tendangannya di perut Alexander. Mereka  berdua sama-sama jatuh terjengkang. Lumpur kotor terpercik. Sekujur tubuh  mereka berlumuran lumpur. Dalam  sekejap mereka bangkit lagi menghunus  pedang masing-masing. Alexander berteriak penuh nafsu  membunuh. Dia berlari sambil  mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, ingin  segera menghancurkan pengkhianat yang  sedang berdiri di hadapannya.

Fregadovic  dengan tenang bersiap, ia menggenggam  pedang di samping kanannya dan berlari  menyongsong Alexander. Benturan keras  terjadi. Cepat, dalam sekejap. Darah  terpuncrat bersama dingin. Angin kejam  menusuk jangat. Dua orang ksatria itu terlihat seolah-olah saling berpelukan. Mata mereka  membelalak tak percaya. Sedetik  kemudian mereka tumbang bersama-sama menimpa rumput yang dingin.  
Pedang Fregadovic telah tertancap di  perut Alexander sampai tembus ke  belakang. Sementara sayatan pedang  Alexander menyilang dari dada hingga  perut Fregadovic. Baju zirahnya telah  koyak. Darah menetes bercampur lumpur.  Matanya terpejam. Ia telah rebah di  medan perang. [belum tamat tapi  dihabiskan sajah, wait for the novel yak,  hehe...] (sayf).


next on Epik: “Mawar Perang”. Kisah teguh dan gigihnya seorang  perempuan membela agama 
Diberdayakan oleh Blogger.