Header Ads

Draculesti episode 04

Aku sendiri tidak tahu,” sahut Lazar,  “tapi aku akan segera mengirim utusan ke  sana,  untuk  mengingatkan  mereka  dan  meminta bantuan. Aku juga  akan meminta  bantuan dari Hongaria, Polandia, Valahia,  Transilvania, dan Moldavia.”

 “Apakah  tak  akan  makan  waktu  lama?”  Tanya Vukovic.

Pertanyaan yang  sama dengan Brankovic. “Tetap  kita  galang  kekuatan  kita  secepatnya di dalam. Semoga saja bantuan-bantuan yang kita harapkan dari mereka bisa  segera datang sebelum pasukan Ustmani  menyerbu,”  Lazar  menghembuskan  napasnya. Membuang rasa cemas.

“Mungkin  sekarang kaulah yang harus mengerahkan  pasukanmu ke Serbia, harus secepatnya.”
 “Baiklah, segera kulaksanakan,” sahut  Vukovic. Brankovic dan Vukovic mengangguk,  mereka telah mengerti tugas masing-masing. Mereka semua keluar dari ruangan  itu…

 000


Seorang prajurit berlari  cepat,  tak  ingin  dikalahkan  waktu.  Kakinya  berderap  menginjak  lantai  batu  kastil.  Menyusuri  koridor  panjang  yang  beberapa  bagian  dindingnya tertutup oleh karpet halus warna  hijau. Di ujung koridor dia berbelok dan  memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya  singgasana Kaisar Agung Bulgaria terletak. Prajurit itu membungkuk hormat dan  tegak  di hadapan Ivan  Alexander,  Kaisar  Bulgaria,  yang  sedang  duduk  di  atas  si nggasananya.  Beberapa  pej abat  Kekaisaran menyertainya.
“Lapor,  Velbudz  telah  dikuasai  Ustmani, Yang Mulia,” kata prajurit itu.

Alexander  menatap  tajam  pada  prajuritnya  sambil  bertopang dagu  pada  lengan kursi singgasananya.
“Siapa  yang  mengatakan  itu?”  Tanyanya.

“Boyar  Velbudz sedang menuju ke  sini. Dia ada di bawah sekarang.” Apa  yang  terjadi  sebenarnya,  Alexander bertanya-tanya. Bagaimana nasib  penduduk Velbudz, tak terbayangkan. Prajurit itu menghormat lagi dan pergi,  meninggalkan ruang  singgasana  dengan  keterkejutan  dan  tanda  tanya  di  kepala  semua orang.

Semua pejabat Kekaisaran  saling menoleh satu sama lain, berbicara dan  bergumam  pelan  tentang  apa  yang  kemungkinan terjadi. Membuat ruangan itu  penuh dengan dengungan tak jelas. Alexander mengangkat tangannya,  semua orang diam. Dia bicara sambil tegak  dari singgasananya. “Apapun yang terjadi kita tak  boleh  gentar.

Kita harus menghadapinya dengan  penuh kekuatan.” Dia tahu negara macam apa Khilafah  Ustmaniyah itu  dan dia tahu  tak  boleh  sembarangan bersikap terhadapnya. Terdengar  langkah  cepat  di  luar  ruangan itu, dan masuklah Vitko Fregadovic,  

Boyar Velbudz. Wajahnya keruh, dahinya  dibanjiri keringat dingin. Jubahnya yang lebar  tak  sanggup  menahan  dinginnya  kerisauan di dalam hatinya. Alexander menatap kedatangan  Fregadovic,  tangannya  terlipat  ke  belakang.

“Apa yang terjadi dengan Velbudz,  Fregadovic?” Dia langsung  bertanya.  

Hatinya gundah gulana. “Pasukan  Ustmani   datang  menyerbu  dan  langsung  menduduki  Velbudz, Yang Mulia,” sahut Fregadovic.

“Berapa  banyak  pasukan  mereka?”

 “Aku tidak tahu persis, yang pasti  lebih  banyak dari jumlah pasukan yang  mereka bawa saat di Bileca dan Plocknik.”

“Berarti  Velbudz  telah  hancur-hancuran  sekarang,”  Al exander  menghembuskan napas kecewa.
“Tidak,  Yang Mulia!” Fregadovic  menggeleng.

 “Tidak?  Maksudmu? Tak ada  yang  dibunuh?  Tak  ada  yang  dihancurkan? Velbudz baik-baik saja?”  Kabut  ketidakmengerti  menyelimuti  Kaisar Bulgaria itu.

Fregadovi c  mengangguk,  “benar!” “Cepat kau ceritakan!” Tangan  Fr egadovi c  menggenggam erat tepian  jubahnya,  dia  menggigit  bibirnya,  memulai  ceritanya. “Pasukan Ustmani tiba-tiba telah  mengepung Velbudz tadi malam, Yang  Mul i a.

 Aku  sama  sekal i   tak  mempersiapkan  apa-apa  untuk  menahan  kepungan  mereka.  Kami  semua sedang terlelap. Dengan cepat  mereka menyebar ke seluruh Velbudz dan melumpuhkan prajurit yang ada.” Semua  orang  diam. 

Sesekali  guruh terdengar dan kilatannya terlihat di  jendela. Air hujan jatuh berdebam di atap  kastil. Suara Fregadovic gemetar.

 “Pintuku diketuk tengah malam,  saat aku keluar rumahku telah dikepung  pasukan Ustmani. Murad sudah ada di  depan  dengan  menaiki  kuda  dan  beberapa pengawal kota yang dia tawan  diperlihatkannya padaku. Mereka yang  memberitahu Murad di mana rumahku.  

Aku juga tadinya berpikir bahwa Velbudz  telah  dihancurkan, tapi  kemudian aku  tahu bahkan tak ada seorang pun yang  bangun dari tidurnya.  Murad berkata  padaku bahwa aku tak perlu takut terjadi  hal-hal yang buruk karena dialah yang  menjamin keamanan dan kesejahteraan  semua orang. Aku sadar Velbudz telah  berada di bawah kekuasaannya.

Aku  tetap  mendapat  penghormatan  dari  mereka. Prajuritku mereka bebaskan  semuanya tadi siang. Saat tengah hari  Murad mengumumkan kepada semua  orang bahwa Velbudz telah berada di  bawah kekuasaan Ustmani dan semua  orang  tak  perlu  mengkhawatirkan  apapun.  Kemudian  semua  berjalan  seperti biasa lagi,  seperti tak  pernah  terjadi apa-apa.

” Apa yang diceritakan Fregadovic  makin  membuat  heran  bertumpuk-tumpuk  di kepala Alexander.  Semua  orang tercengang. “Bahkan  Murad  memanggil  orang-orang  miskin  dan  semua  pengemis lalu  membagi-bagikan uang  kepada mereka, padahal jelas mereka  semua berbeda agama dengan Murad.  Dia sama sekali tidak memaksa semua  orang untuk masuk Islam.

” Fregadovic diam sejenak. Cerita     mengalir  keluar  dengan  berebutan  seakan-akan  tak  muat  ditampung  mulutnya. Di dalam suaranya terkandung  kekhawatiran,  keheranan,  kekaguman,  ketakutan,  kegembiraan,  kebencian,  semuanya bercampur menjadi satu. “Murad-lah  yang  memerintahkan  aku menghadap Yang  Mulia, dan  dia  menitipkan surat ini  untuk Yang Mulia.”  Fregadovic mengeluarkan sepucuk surat  yang digulung dan diikat dengan seutas  benang warna hitam. Dia menyodorkan  surat itu  dengan membungkuk hormat.  Seorang pejabat Kekaisaran mendekati  Fregadovic dan mengambil surat itu.
“Bacakan,” perintah Alexander.

Pejabat kekaisaran itu menghormat  dan membaca. “Dengan  menyebut  nama…”  

suaranya terhenti  saat matanya sampai  pada suatu lafaz  di dalam surat itu.  Dia  bingung bagaimana membacanya, karena  di sana tertulis lafaz Allah 'azza wa jalla,  akhirnya dia menggantinya menjadi… “…Tuhan.  Dari  Murad,  Khalifah  Orang Beriman, kepada Ivan Alexander,  Kaisar  Bulgaria. 

Aku  bermaksud  mengajakmu  untuk  bersama-sama  berpegang teguh kepada satu kalimat yang  kokoh yang tidak akan ada perselisihan di  antara kita. Yaitu kalimat tauhid, tiada Tuhan  yang  patut  disembah  kecuali…” 

suara  pejabat Kekaisaran itu terhenti lagi, tapi dia  sudah tidak bisa menghindar, akhirnya dia  sebut juga, 
“…kecuali  Allah, Tuhan seru  sekalian  alam.  Dan  bahwa  Muhammad  adalah  utusan  Allah  

sebagaimana  'Isa  'alahissalam telah diutus juga olehNya. Aku menyeru kepadamu, masuklah  kau ke dalam Islam, maka pasti kau akan  selamat di dunia dan di  akhirat.  Kehidupanmu  akan  mudah  dan  berkah. Tapi kalau kau  menol ak,   kau  di waj i bkan  untuk  membayar jizyah setiap  tahun.

Jangan dulu kau  berburuk sangka, Islam  mengatur bahwa jizyah  hanya diambil dari laki-laki  dan  dari  orang-orang  mampu, bukan  dar i   anak- anak,   perempuan dan orang-orang miskin. Dengan  bernaung  di  bawah  penerapan syariat Islam  kesejahteraanmu akan  di j ami n  dan  keamananmu  akan  terjamin pula. Kau tidak  akan  dipaksa  untuk  memeluk  Islam  dan  tidak  akan  dianiaya  secuil pun.

 Tapi kalau pilihan  kedua ini pun kau tolak,  tandanya  kau  telah  menghal angi   sampai nya  seruan  Islam kepada rakyatmu, dan Allah  mengajarkan  bahwa  aku  harus  menghancurkan  penghalang  itu  dengan  memerangi mu  dan  pasukanmu. Aku  dan  prajuritku  telah  sampai   di   Vel budz.  Aku  mengharapkan  j awabanmu  terhadap  seruanku  ini  dan  aku  memintamu menitipkannya kepada  Vitko  Fregadovic. Biar dia sendiri  yang mengantarkannya kepadaku. Aku sampaikan terima kasih.  Semoga kau selalu sejahtera dan  berada di dalam lindungan Allah.

Salam hormat, Murad.” Semua mata menatap Ivan  Alexander. Dia duduk lemas di atas  singgasananya sambil memijit-mijit  keningnya.  Kepalanya  pening.


Semua menunggu. Fregadovic  menunduk.  Badai berkecamuk di hatinya. Apa  yang dirasakannya tak  menentu.  Dia  akhirnya  tahu,  ternyata  begitulah isi surat dari Sultan Murad.  Dia  menegakkan  wajahnya,  menatap Alexander. “Bagaimana, Yang Mulia?” Alexander  bangun  lagi  dari  singgasananya.  Sinar  matanya  menimpa  Fregadovic,  wajahnya  bertambah keras. “Nanti  pergilah  kau kepada Murad. Kau sudah tahu  jawabanku.” Bersambung. 
Diberdayakan oleh Blogger.