Header Ads

CINTA MATI HARUS DI BAWA SAMPAI MATI BY ZAHRA MAJIDDAH

Langit tak seperti biasanya memayungiku  dengan kelabu, aku disini bersama air mata  yang tak kunjung reda, mencoba melebarkan  kedua bibirku hingga akhirya, ya akhirnya…  senyuman itu kembali lagi menghiasi hidupku.  

***
Kilauan cahaya yang dipantulkan dedaunan  dan terik mentari yang menghangatkan kedua  pipiku merupakan rutinitas pagi yang selalu kunanti,  rambutku berkibas-kibas saat angin semilir beradu  dengan helai helai mahkota kepalaku, mencoba  menikmati pagi bersama imajinasi-imajinasi  tinggiku.  Purwakarta adalah kota kecil penuh  pesona, setiap hari manusia hilir mudik mewarnai  jalan-jalannya. Tak terkecuali aku yang baru  menginjakan kaki di universitas kecil kota ini  beberapa bulan yang lalu.


Menurut teman2ku Aku  adalah mahasiswi baru yang enerjik, berantakan  dan penuh pesona –tentunya yang terakhir adalah  kata2ku-, karena hanya 1 orang di dunia ini yang  mengatakan aku mempesona, dialah ibuku terkasih.  Tapi satu hal yang membuat ku bangga pada diriku  adalah aku cinta perdamaian, semua senang  kepadaku, semua orang sepertinya merasa bahagia  jika didekatku,(narsis mode on)  Orang bilang kehidupan kampus berbeda,  rasakan sensasinya. Tp menurutku biasa saja,  sebelum ada sesuatu yang hadir dalam hatiku, ya  sesuatu yang membuatku malu, tersipu, dan  mendadak menjadikanku sesosok putri solo yang  anggun.

Yah apalagi kalo bukan namanya “cinta  mati” atau “cinta monyet”, entahlah apapun  namanya yang jelas monyet kalo makan pisang  membuka kulitnya menjadi 3 bagian. Dia adalah teman sekelasku. wajahnya  seperti orang kebanyakan, tidak begitu pintar dalam  akademik, malah sering tidak  masuk kuliah, tapi  ada hal lain yang membuat dia menjadi primadona  dikelas, karismanya ketika dia berbicara, ketika dia  mengungkapkan isi fikirannya, ketika dia  mengatakan ketidaksetujuannya terhadap konsep  yang menurutnya bertentangan dengan pandangan  hidupnya. Dan yang paling satu hal yang paling  membuatku penasaran adalah kenapa dia  mengatakan bahwa islam adalah solusi terhadap  seluruh permasalahan kehidupan.

Seumur jagung,  eh seumur hidup baru aku melihat ada pemuda  yang begitu bangga tehadap agamanya, yang begitu  taat pada tuhannya, dan mencintai rosulnya dengan  tulus. Namanya adalah sultan, menurut informan  alias teman-teman yang hobinya bergosip, dia  adalah aktivis masjid aliran ekstrimis, keras seperti  batu yang tak akan berlubang walau terkena  pelurunya orang Israel, hobinya ceramah dan baca  al quran, dan satu hal lagi, ini yang paling  membuatku senang yaitu dia belum punya pacar.  Dia yang membuatku lebih senang duduk  dibelakang, karena dengan itu aku akan lebih  leluasa memandanginya, dia juga yang membuatku  bertanya pada Tuhan, “Tuhan.. apakah ini yang  dinamakan cinta mati atau hanya cinta seekor  monyet yang sedang beranjak dewasa?” mhmm  entahlah,  Pernah suatu saat kami berdebat dalam  kelas pancasila, aku baru menemukan teman  berdebat se-asik dia.

Dia mengatakan bahwa  pancasila terlalu sederhana untuk dikatakan sebuah  ideology, karena ideology adalah satu pemikiran  komprehensif (menyeluruh dan mendasar) yang  melahirkan aturan. aku sebagai anak bangsa yang  merasa negaranya dilecehkan naik pitam, aku pun  berdiri dan mengomentarinya “ lantas jika pancasila  bukan sebuah ideology, dari awal indonesia berjalan  tanpa ideology?bagaimana mungkin sebuah Negara  berjalan tanpa ideology?anda terlalu subjektif  mendefinisikan sesuatu, pancasila adalah  pandangan hidup bangsa yang dirumuskan   founding father kita dengan keringat dan darah.  Merekalah  yang lebih mengetahui akan dibawa  kemana negara ini.”

 Perdebatan kita terus berlanjut hingga kelas  berakhir, seolah-olah yang berada di dalam ruangan  hanyalah kami berdua plus guru tentunya yang  menjadi wasit berat sebelah, karena sang wasit  memihak ku, entahlah apa mungkin gara2  aku  adalah wanita –gurunya laki-laki-, atau memang  benar2 sependapat denganku. Tapi dari sana aku  mulai ragu dengan pancasilaku dan dengan semua  hal yang telah ada pada diriku. Semakin penasaran dengan isi dibalik  kepalanya, akhirnya aku memberanikan diri untuk  bertanya padanya tentang perdebatan kami  kemarin mengenai pancasila. Ya Tuhan, ini manusia  ataukah dewa Quan in? kata-katanya mampu  menentramkan hati, menjawab semua pertanyaan  tanpa menyisakan pertanyaan2 susulan, senang  rasanya berdiskusi dengan dia, seperti sedang  berbicra dengan mbah google. Semakin simpatiklah  aku.

Di akhir percakapan kita, dia bertanya, “tertarik  mengkaji lebih dalam? spontan aku katakan  “dengan senang hati”, aku fikir ini kesempatan aku  untuk lebih dekat dengannya, lalu dia pun  mengeluarkan HP dan memberikan no tlp  temannya, “ini no tlp teman saya, lebih baik ukhti  mengkaji lebih dalam dengan beliau, sesama  perempuan,  kl sama saya khawatir mengundang  fitnah”. Waduh, dalam hatiku, niat awal menerima  tawarannya kan untuk semakin dekat dengannya,  bukan semata2 ingin mengkaji, sudah terlalu byk  mentoring-mentoring wajib, membosankan. Tapi kl menolak ga enak juga, ya sudah demi perjuangan  mendapatkan cintanya aku mengangguk.  

Tak lama setelah percakapan aku dengan   sultan, atas nama perjuangan mendapatkan  cintanya aku menemui teman yang di usulkannya,  siapa tau informasi tentang sultan akan lebih akurat  dibandingkan penggosip-penggosip ulung dikelas. Luar biasa, Wanita yang sungguh anggun,  menggunakan jilbab (sejenis  long dress) hijau  dibalut kain kudung hijau muda senada, dan juga  bros cantik yang dicantelkan pada kerudung  indahnya, terlihat  jelas ukiran kaligrafi arab yang  bertuliskan Allah. Satu lagi kaos kaki yang dipakai  pun hijau senada,Wajahnya tanpa polesan make up,  wajahnya sepertinya bundar, namun kerudung  indahnya menyamarkannya, matanya sipit, nyaris  ketika senyum seperti sedang memejamkan mata,  karena bola matanya tenggelam, terakhir kaca mata  yang membingkai wajahnya membuat senyumnya  semakin berkarakter, sungguh mempesona.  

“Assalamualaikum”, dengan menyodorkan  tangannya untuk bersalaman denganku, tanda aku  harus membalas salamnya dan menyambut tangan  hangatnya. “Wassalamualaikum” jawabku dengan  bibir tersungging, yang bingung mengekspresikan  wajah. Mulailah kami bercakap-cakap, ternyata  sama sekali tidak membosankan, Keanggunannya  luntur saat dia berbicara, yang ada adalah wanita  cerdas, berdedikasi juga idealis,  yang sedang  menyederhanakan kalimat-kalimatnya agar  dimengerti oleh orang2 sepertiku.  

Percakapan ku pun terus berlanjut dengan  teh sumayah, wanita anggun dan cerdas itu seperti  kakaku sendiri, membangunkanku dini hari untuk  tahajud, menemani dalam setiap pencarianku,  hingga akhirnya aku mengerti maksud sultan bahwa  islam adalah solusi atas seluruh permasalahan,  terlalu lemah seorang manusia ketika tidak mau  mengakui Tuhannya, ketika merasa sok jago hidup  dengan tanpa aturanNya. Dunia terlalu singkat  untuk dinikmati, terlalu murah untuk ditukar  dengan kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak.

Aku pun memutuskan untuk menggunakan  jilbab dan kerudung, di hari pertama aku  menggunakannya, semua teman2 ku terperangah,  ada yang memuji, mengolok, sampai tak mengedip.  Mungkin ada juga yang syok melihat ada ibu2  pengajian nyasar masuk kelas. termasuk sultan, aku  tersipu, saat berpapasan dengannya, “  assalamualaikum” ucapan salam itu menggetarkan  hati “wassalamualaikum” jawabku sambil  menunduk. “ alhamdulilah pakaian nya sudah  sempurna” ucap sultan, ya allah ucapan itu  membuatku semakin mantap untuk terus  menggunakannya, tak peduli pada reaksi orang2  yang lebay.

Hari demi hari, tak terasa aku sudah  menjadi teteh mentor, setiap aktivitasku aku  habiskan untuk berdakwah, namun perasaan ku  terhadap sultan tak berubah, masih sama seperti  dulu, hanya saja aku telah paham bahwa pacaran  itu tidak diperbolahkan dalam islam, sudah aku  simpan saja perasaan ini sampai saatnya nanti  mungkin allah mengijinkan saya untuk berjodoh  dengannya. Seperti biasa, setiap pagi aku lebih memilih  berangkat lebih awal dari kosan untuk bisa  menikmati perjalananku ke kampus, berjalan  menyusuri pagi, melihat masyarakat yang mulai  beraktivitas, melihat mahasiswa-mahisiswi lain  dengan berbagai macam gaya hilir mudik untuk  menunjukan eksistensinya, aku tersenyum,  terimakasih Allah, engkau telah memberikan nikmat  beriman yang tiada tara.   

Sampai di kelas, seperti biasa aku paling  pertama hadir, dikala mahasiswa lain masih  menikmati sarapan paginya di kos2annya. Aku  selalu memilih bangku dekat jendela, aku menyukai  harumnya daun2 pagi hari, dan itu hanya bisa aku  dapatkan pagi hari dekat jendela kelas. Yang tak  biasa adalah sultan yang datang sepagi ini, walhasil  di dalam kelas hanya ada kita berdua. Kami diam  seribu bahasa, aku di pojok kanan dekat jendela, dia  di pojok kiri dekat dengan pintu keluar. Dan kenapa  teman-temanku belum juga datang, sudah lebih  dari setengah jam seharusnya kami sudah mulai  belajar. Dadaku berdebar kencang sekali, difikiranku  berkelebat,apa Allah sengaja membuat teman2ku  tidak hadir, termasuk dosennya sehingga aku bisa  berdua dengan sultan di kelas. Haha..aku tertawa  mana mungkin, ini adalah fikiran anak manusia yang  sedang jatuh cinta saja, dan sepertinya aku harus  keluar ruangan, bisa2 meledak dadaku ini.  

Sesaat aku akan keluar, dia menghampiriku,  dia bilang mendapatkan sms dr ketua kelas ternyata  dosennya sakit dan ini sudah diumumkan  sebenernya kemaren, bahwa hari ini tidak ada  kuliah, namun dia tidak masuk kemarin jadi tidak  tau, sedangkan aku, padahal aku masuk kemarin,  tapi aku lupa. “ oh gitu, ya saya lupa, ya sudah kita  pulang berarti ya” .  seketika sultan mengeluarkan semacam  amplop merah jambu dari tas nya dan  memberikannya padaku, aku terperenjat, dadaku  semakin kencang berdebar, ya allah  apakah itu surat cintanya padaku?  Ah mana mungkin seorang sultan  memberikan surat cinta, tapi itu kan  yang aku tunggu dari dulu.

Fikiran  itu berkecambuk, tapi aku harus  mencoba tenang, setenang teh  sumayah. “apa itu” tanya ku biasa. Akhirnya aku  mengambil surat merah jambu itu, dan ternyata  dugaanku keliru, itu adalah sebuah undangan,  bukan surat. Tertera di pojok kiri atas  WALIMATUL  URS, SULTAN DAN SUMAYAH. 

Sekejap jantungku  berhenti mendadak sepertinya, tapi aku mencoba  tenang. “mohon doanya insyaallah jumat akad  nikahnya, ana diminta sumayah untuk memberikan  undanganya pada ukhti, karena sudah jarang  bertemu”. Hatiku hancur sekali saat itu, tapi aku  harus terlihat biasa saja “ ya insyaallah ana akan  datang, barakallahulakuma” senyumku pun  merekah. Akhirnya sultan pamit dan  meninggalkanku sendirian di kelas.  Perasaanku tak menentu, ku pejamkan  mata, kata ibu jika ada yang mengganggu fikiran  beristigfarlah. “astagfirullahaladzim” ucapku lirih,  aku bergegas menuju musola kecil dekat kelas,  mendadak semua menjadi melankolis, kuambil air  wudhu, ku hadapkan tubuh ringkih ini pada kiblat,  ku lafadzkan kalimat “allahuakbar”.

Di dalam  sujud2ku aku tak kuasa menahan air mata yang  jatuh, wajahku basah, air mata ini tak henti-hentinya membasahi wajahku.  Langit tak seperti biasanya memayungiku  dengan kelabu, aku disini bersama air mata yang tak  kunjung reda, mencoba melebarkan kedua bibirku  hingga akhirya, ya akhirnya… senyuman itu kembali  lagi menghiasi hariku.  Tetapi kuasa Allah, dalam doa-doaku, dalam  pertanyaan2 yang kuajukan pada Tuhanku,  mengapa?

Kini baru aku sadari mungkin ini adalah  rencana Allah untukku, aku merasa hina dihadapan  Tuhanku, mungkin jilbabku, kerudungku ini bukan  untukNya, mungkin solatku, saumku, dakwahku,  aktifitasku, perubahanku selama ini bukan semata2  hanya untuk sang penggenggam turbin semesta,  tapi masih menyisakan nama untuk manusia. “Ya  allah, engkaulah penguasa hati, maha berkehendak,  engkau pemilik singgasana kehidupan, maka  maafkan hambamu ini yang beramal masih  mencantumkan nama2 lain selain namaMu”.


Aku lebih mencintai Allah, dan rasulnya dari  pada apapun. Semua yang terjadi padaku adalah  kehendakNya, dan aku yakin allah menyayangiku  walau indra ini tak cukup hebat meraba bukti kasih  sayangnya padaku.  Cinta matiku hanya untuk Allah, yang telah  menghidupkanku..[] 
Diberdayakan oleh Blogger.