Header Ads

Asri Supatmiati : Be Better, Do The Best!’

Bukan cuman bencana Alam yang tengah mengancam negerinya pak BeYe ini. Ada bahaya lain yang nggak kalah dahsyatnya dibanding letusan Gunung Merapi atau Tsunami di Mentawai. Bahaya yang satu ini mengancam generasi muda dan masa depan bangsa. Kalo nggak cepat tanggap, bisa-bisa potret Ibu Pertiwi di hari depan tambah lecek bin amburadul. Bahaya itu adalah budaya porno yang menuhankan syahwat bak binatang. Dalam kesempatan ini, Hikari dari Drise berhasil ngobrol seputar isyu media porno dengan Mbak Asri. Seorang penulis beken bin populer yang sukses menelorkan karyanya dengan judul, ‘Indonesia dalam Dekapan Syahwat’. Lets cekidot kutipannya!


Kayaknya kian hari negeri kita semakin dijajah sama konten-konten porno. Menurut Mbak?
Betul. Terutama produk hiburan, seperti film, novel, komik, bahkan iklan pun semua berbau porno. Ini kan parah. Makanya kita prihatin. Kenapa negara kita bisa jadi negeri porno gini. Padahal nenek moyang kita dulu adem ayem tanpa kepornoan di ranah publik.

Nah itu dia, kenapa ya media porno kok makin merajalela?
Memang saat ini sedang terjadi gelombang liberalisasi besar-besaran di berbagai sektor kehidupan. Salah satunya, kebebasan berekspresi dan bertingkah laku. Akibatnya, gelombang pornografi dan pornoaksi tak terbendung, masuk ke Indonesia tanpa penghalang dengan dukungan teknologi informasi. Selanjutnya, pornografi dan pornoaksi pun menjelma menjadi industri besar, dimana pengaruh pemilik modal begitu kuatnya. Sampai-sampai penguasa dibuat tak berkutik. Padahal kalo pemerintah mewajibkan provider internet memblokir konten porno dan memberi sanksi tegas yang melanggar, pasti bisa membendung serangan budaya porno.

Terus, definisi pornografi en pornoaksi yang sebenernya tu kayak gimana sih Mbak?
Nah, ini nih yang kerap debatable. Waktu nyusun RUU Pornografi dulu, DPR pusing cari definisi porno. Padahal kalo berpatokan pada Islam nggak perlu bingung. Intinya, porno itu apa yang haram dilihat, dipertontonkan dan diperbincangkan, terkait aurat dan aktivitas intim. Jadi, kalo orang buka aurat, beradegan mesra, apalagi berhubungan intim di film ya itulah pornoaksi. Orang bikin lukisan telanjang, itulah pornografi. Simpel kan? Tapi, kelompok liberal maunya mendefinisikan porno itu hanya terbatas pada bentuk ketertelanjangan dan tujuan komersil. Artinya, kalau belum sampe telanjang bulat, itu dianggap bukan porno. Atau kalopun telanjang tapi untuk koleksi pribadi, itu nggak bisa dianggap porno. Itu kan bertentangan banget dengan Islam.

Apa bahaya terutama bagi remaja akibat mudahnya mengakses konten porno?
Yang utama merusak mental masyarakat. Akhirnya nggak menganggap porno itu ancaman lagi, malah kebutuhan. Coba, produsen konten porno itu, nggak malu bikin produk kayak gitu. Yang dipikirkan cuma duit. Juga masyarakat, nggak malu lihat konten porno, yang dipikir cuma kepuasan. Saat video mesum artis marak, bukannya ikut memblokir, mencegah penyebaran, eh...malah ikut nyebarin ke mana-mana. Yang belum punya malah nyari. Kalo konten porno udah diumbar di ranah publik, kebangkitan syahwat di mana-mana, maka pelampiasannya tidak pandang halal haram lagi. Akibatnya, terjadi peningkatan kejahatan seksual yang luar biasa. Anak-anak jadi korban paling rentan. Bahaya lainnya, ketika kecanduan konten porno itu udah menggejala, produktivitas menurun. Gimana mau belajar atau kerja kalo di benaknya mikirin porno mulu.

Apa sih pesan yang pengen disampein buku “Indonesia dalam Dekapan Syahwat”?
Saya ingin tunjukkan, bahwa di Indonesia ini kepornoan udah nggak beda dengan di negeri Barat sana. Dulu berita orang berpose nudis, cuma bule yang melakukannya. Sekarang, remaja kita, yang masih polos-polos, banyak yang hobi berpose telanjang. Ironis. Katanya mayoritas muslim, tapi kok porno. Nah, kenapa itu terjadi, karena udah terjadi revolusi dalam hal kepornoan di negeri ini. Dulu porno itu hanya di wilayah privat, sekarang udah pindah ke wilayah publik. Itu bukan terjadi begitu saja, tapi memang ada strategi besar untuk merusak kaum muslimin di Indonesia, melalui industri porno. Masyarakat dilenakan dengan dibangkitkan syahwatnya. Dan itu konsekuensi logis kalo kita menerapkan azas sekuler liberal dalam kehidupan. Padahal masyarakat bisa sehat, kreatif dan maju tanpa kepornoan. Buktinya waktu Islam jaya di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, terus Khalifah-khalifah sesudahnya, kemajuan luar biasa tercapai. Tak hanya kesejahteraan, rakyat juga tenteram, nyaman, aman dan damai. Makanya kalo mau hidup tanpa dijajah kepornoan, harus mau hidup islami.

Menjelang akhir tahun, banyak remaja Muslim yang ikut-ikutan ngerayain tahun baru. Kaya gimana sih sikap terbaik seorang Muslim buat menghadapi pergantian tahun?
Pergantian tahun sebenernya moment tahunan yang biasa aja, nggak istimewa. Nggak perlu ikut hanyut merayakannya. Apalagi itu kan peringatan kalender masehi yang didesain oleh orang kafir. Memang, butuh perubahan pola pikir untuk membuat orang nggak ikut-ikutan merayakan tahun baru. Apalagi merayakannya sampai melanggar norma agama, seperti boncengan cowok-cewek bukan muhrim ke lokasi-lokasi keramaian untuk melihat kembang api. Kalo mau, bikin renungan sendiri aja di rumah, panjatkan doa dan harapan esok hari lebih baik dari hari ini dan kemarin. Dan itu nggak harus dilakukan pergantian tahun aja, tapi tiap hari.

Banyak remaja Muslim yang nggak pede dengan identitasnya. Gimana tuh Mbak?
Harusnya remaja muslim itu jadi diri sendiri, be yourself. Jangan mau disetir trend, sebaliknya, ayo kita ciptakan trend. Remaja muslim idealnya jadi trend setter. Kalau trend ala Barat, ah...itu mah pasaran. Trend ala muslim, itu baru eksklusif. Jadi, banggalah jadi eksklusif yang nggak murahan.

Apa pesan Mbak Asri untuk para pembaca D’Rise?
Lakukan segala hal sepenuh hati, niscaya hasilnya pun penuh alias maksimal. Kalo kita berimannya setengah-setengah, jadinya ya gitu, setengah muslim setengah enggak. Katanya muslimah, tapi kok aurat terbuka. Katanya udah berjilbab, kok ketat. Nah, loh! Jadilah muslim kaffah, pasti hasilnya juga kaffah. Pokoknya, be better, do the best


Diberdayakan oleh Blogger.