Header Ads

Gaya Jijay Generasi Alay

The Alay Generation
Alay! Nggak jelas sebenernya apa makna asli dari “Alay”. Ada yang bilang Anak Layangan, alah lebay, anak melayu, anak kelayapan, dan bahkan ada yang menghubungkannya dengan anak JARPUL alias jarang pulang (bang Toyib kali). Istilah alay nggak jauh beda dengan istilah-istilah lain di kalangan anak muda yang suka tiba-tiba muncul kemudian populer dan digunakan secara massal pula endingnya ilang lagi diganti istilah populer lain yang  baru nongol.

Drise mengutip pendapat Koentjaraningrat dalam mendefinisikan Alay, “alay adalah gejala-gejala yang terjadi di tengah pemuda dan pemudi Indonesia yang ingin diakui statusnya di tengah teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (pengguna internet sejati seperti blogger dan kaskuser). Diharapkan sikap ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.”
Pendapat Selo Soemardjan nggak jauh beda, “alay adalah perilaku remaja Indonesia yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat, diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat rakyat Indonesia yang sopan santun dan ramah. Faktor yang menyebabkannya bisa melalui media TV, dan musisi dengan dandanan seperti itu.”
Di tengah-tengah remaja juga berkembang pandangan dan pengertian tentang alay, bahkan terjadi khilafiyah (hehe) alias perbedaan pendapat tentang apa dan siapa kaum alay ini. Tapi ada satu pandangan seragam yang drise temukan, ternyata banyak pihak di kalangan remaja yang sebel berat sama anak-anak alay (kecuali anak alay itu sendiri). Menurut mereka pokoknya anak alay itu kudu bertobat nasuha karena kelakuannya telah merusak citra anak muda dan mencolok mata. Tobat, Lay!
 Walaupun terjadi khilafiyah tentang apa dan siapa itu anak alay, drise berhasil meneluri berbagai ciri umum yang melakat pada mereka. Saat mengetahui ciri anak alay ini drise ngakak nggak berhenti. Haduh.
Katanya anak-anak alay itu sebenarnya adalah anak kampungan dengan gaya yang maksa agar disebut anak gaul dan keren. Ternyata yang ada bukannya keliatan keren tapi malah bikin eneg (maksudnya mual). Dalam gaya berpakaian  contohnya, mereka nggak tau apa-apa bagaimana cara mix and match baju.  Jadinya gaya mereka bakal norak banget. Contohnya, pake baju ijo, celana kotak-kotak, kaca muka biru (bukan kaca mata lantaran kacanya guede buanget sampe nutupin mukanya), nah norak nggak? Untuk alay cowok biasanya gaya rambutnya diwarnain jadi pirang yang tentu aja nggak cocok sama warna kulit mukanya yang sawo busuk. Gaya model gini bakal menimbulkan kesan the kill (dekil), kucel and the kumel. Kaya abis panas-panasan maen layangan trus nggak mandi seminggu.
Biasanya anak alay suka belagak techno dengan nenteng-nenteng HP seken nggak lupa kabel hedset nyantol di telinga. Terus bergaya sok asik berlagak menikmati musik. Parahnya ternyata musik yang mereka dengar biasanya yang bernada metal gitu deh (melayu total). Tapi itu rahasia lho. Hehe.
Anak-anak alay juga dikenal dengan sikap mereka yang narsis always, dan pengen eksis dimana pun. Di friendster biasanya majang foto cewek-cewek cantik (buat alay cowok), dan majang foto cowok-cowok ganteng (buat alay cewek), biar dianggap gaul, padahal mah nggak kenal, hehe. Kaum alay biasanya suka punya acara “putu-putu narziz”. Entah itu di sekolah, WC, mobil, kamar, stasion, angkot, dll. Terus biasanya gaya fotonya diimut-imutin, pake cahaya terang banget biar jeleknya nggak keliatan, difoto dari jarak deket banget, atau difoto dari atas biar keliatan keren.
Mereka juga memiliki gaya yang unik (banyak juga yang bilang menyebalkan) dalam menulis sms. Sms yang seharusnya habis dibaca dalam 10 detik bisa nggak abis dibaca dalam 10 menit karena nggak tau apa maksudnya. Biasanya mereka nulis aku dengan akyu, aq, akko, aquwh, dll. Nulis maaf dengan mu’uph, muphs, dll. Mereka juga suka nulis sms hurufnya dicampur antara huruf gede dengan huruf kecil. Mereka juga biasanya nyampurin antara angka dengan huruf, jadi makin pusing kan. Kalau nulis teks juga biasanya disingkat dan nyingkatnya kebangetan, sampe yang baca nggak ngerti. Gitu deh kira-kira anak alay.

Nggak Bebas Nilai Gitu Lho…
Fenomena alayisme yang permissif (gaya hidup serba boleh ngapain aja) nunjukkin pada kita kalo alayisme sebenernya produk kehidupan liberal hedonistik (memuja kesenangan belaka). Bener banget, karena gaya alay masih berkiblat pada gaya liberal hedonistik yang coraknya adalah bergaul bebas dan mengumbar aurat. Liat aja gaya cewek alay yang sukanya pake celana jins super pendek trus naek Mio boncengan rapet ama pacarnya.
Gaya alay emang jijay dan nggak jelas. Sebagai generasi Islam kita kudu hati-hati dengan gaya gaul model begini karena banyak hal di dalamnya yang bertentangan dengan aturan Islam, terutama dalam gaya berpakaian dan pergaulan. Islam punya cara sendiri bagaimana seharusnya kita bergaul dan berpakaian, dan sudah seharusnya kita mengetahui dan mengamalkannya. Generasi Islam udah seharusnya menjadikan Islam sebagai gaya gaulnya. Karena itu, ayo mengenal Islam lebih dalam. Yuk![Sayf]

Box
 Be Yourself!
Udah nggak jamannya lagi generasi Islam ikut-ikutan gaya hidup orang non muslim. Ayo kembali kepada identitas kita yang asli sebagai remaja muslim. Dan menjalankannya dengan istiqomah. Ini dia beberapa tips untuk menjaga keistiqomahan kita.
1.      Ngaji. Dari mana kita bisa tahu aturan Islam kalo nggak ngaji. Jadi ngaji adalah poin penting untuk menjaga keisqomahan kita.
2.      Pilih-pilih temen. Jangan sampe sembarangan milih temen, karena temen bisa turut mewarnai kehidupan kita. Kalo  temennya baik insya allah kita akan kebawa baik juga.

3.      Sabar. Dalam perjalanan keistiqomahan nanti pasti akan kita temui berbagai ancaman, hambatan, tantangan, dan gangguan. Baik dari orang lain maupun dari dalam diri kita sendiri. Sabar adalah sikap terbaik mengahapi semuanya.
Diberdayakan oleh Blogger.