Header Ads

Dari Perang Badar Kita Belajar

“Ada selaksa asa. Semoga risalah ini ‘kan menjadi segenggam serbuk mesiu motivasi peledak semangat para perindu surga”
****

Judul                     : Dari Perang Badar Kita Belajar
Penulis                 : Adi Wijaya
Penerbit              : Ibadurrahman Press
Pemesanan        :
       
                Pertama kali saya mengenggam buku ini, saya langsung mencium aroma sastra dan letupan motivasi. Kentara dari deretan kalimat di covernya. Adi Wijaya, melalui buku ini akan mengajak kita belajar dari perang dahsyat yang dilakoni Rasulullah Saw dan para sahabatnya di Perang Badar. Walaupun buku ini sedikit banyaknya menggiring pada jejak-jejak sejarah, tapi nuansa diceramahin dan kaku tidak kita temui di dalamnya. Sebagai gantinya, kita akan dimanja dengan goresan sastra. Sejarah dibalut sastra yang renyah? Apik tenan geto lohh….
        Memasuki badan utama buku, kita akan disambut dengan lembaran muqoddimah yang diberi judul “stasiun keberangkatan” . Layaknya orang yang berangkat dari stasiun, maka kita pun akan menelusuri tapak demi setapak dari buku ini. Dimulai dari Setapak satu, terdiri dari empat bagian yang akan memahamkan kita betapa pentingnya mengenang kenangan masa lalu. Halaman ini menyentak batin! Selama ini kita bangga mengenal dan memaknai filosofi dari perang semacam perang Sun Tzu. Padahal islam memiliki riwayat perang maha dahsyat yang mulia yaitu Perang Badar. Saatnya kita menggelorakan akar agama kita yang full spirit ini. Betul? Yuuk…
Setapak dua, Kita akan disusuri kisah singkat Perang Badar. Harapannya, setelah menelusuri setapak ini maka gambaran ‘wah’ bagaimana Perang Badar tercetus langsung menancap kuat di benak kita. Setapak tiga, Nahh… eng ing eng, perang badar segera dimulai. Namanya juga perang, ngga mungkin tiba-tiba pecah dong. Pasti ada persiapan. Baik fisik, mental dan iman yang tiada banding. Sehingga Perang Badar menjadi pelajaran berharga bagi generasi.
Setapak empat, Di setapak ini kita bakal dibuat deg-degan dengan datangnya Perang Badar yang membadai. Jangan sampai terlewatkan dong. Dan di akhir perjalanan, ada setapak lima. Kita akan sama-sama menyaksikan bahwa perang dimana pedang dilaga, darah tumpah dan jiwa dipertaruhkan, sesungguhnya itu demi kemuliaan bukanlah hawa nafsu. Inilah jalan para pejuang, kawan!
        Huff… Sampai juga deh di stasiun tujuan, tibalah kita di penghujung buku yang diberi judul “Stasiun Perhentian”. Berisikan kesimpulan dari tapak demi setapak yang sudah kita jalani. Masih seperti bagian lainnya, stasiun perhentian ini pun dibanjiri bait-bait sastra yang cocok mengocok imajinasi pembacanya.
Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalanannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh ujungnya belum tiba


        Begitulah selantun melodi perjuangan yang menggambarkan pelajaran yang bisa kita ambil dari perang badar. Ya, perjuangan Islam memang banyak tantangan dan ujian. Mudah-mudahan kita senantiasa mengecap nikmatnya perjuangan di jalan Allah tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Seperti para prajurit perang Badar! [Alga Biru]
Diberdayakan oleh Blogger.