Header Ads

Dari Mahasiswi untuk Indonesia Lebih Baik

Lebih dari 1.200 mahasiswi hadir dalam Konferensi Mahasiswi Jawa Barat (KMJB), Selasa, 07/12/2010. Mereka berasal dari berbagai kampus di Jawa Barat, di antaranya adalah dari UNPAD, ITB, IPB,  UPI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Unikom, Unisba, kampus-kampus di Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Subang, Cimahi,  Sumedang, Cirebon, Indramayu, Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, dan daerah-daerah lainnya.

KMJB diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Jawa Barat dan dan Keputrian DKM (Dewan Keluarga Masjid) Universitas Padjajaran bekerjasama dengan LDK-LDK di kampus Bandung yang berada dalam jaringan BKLDK. Tujuannya untuk memberikan kontribusi dalam upaya menuju Jawa Barat dan Indonesia bangkit dan mandiri dengan menjadikan Islam sebagai landasan pergerakannya.

KMJB 2010 dihadiri oleh Ibu Gubernur Jawa Barat, Hj. Netty Prasetiani Heryawan untuk memberikan Keynote Speech serta didukung juga oleh Rektor Universitas Padjajaran, Prof. Ganjar Kurnia, Ir.,D.E.A yang berhalangan hadir. Ibu Hj. Netty Prestiani Heryawan memaparkan  bahwa acara ini harus berkontribusi positif dan kongkrit untuk kebangkitan Jawa Barat yang memiliki karunia sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah.

Usai Keynote Speech dari ibu Gubernur Jawa Barat  dilanjutkan  dengan orasi  mahasiswi yang disampaikan dengan semangat bergelora dan menggemakan aula Graha Sanusi Hardjadinata. Orasi mahasiswi diwakili oleh 5 mahasiswa  yang berasal dari Unikom, UPI, UIN Sunan Gunung Djati, ITB, dan UNPAD.

"Para pemuda yang menjadi tulang punggung peradaban bangsa kini hidup bagaikan anai-anai di tengah angin deras. Calon pemimpin bangsa masa depan  kini kelimpungan membuat skenario perjalanan hidup mereka. Sahabat, kita adalah pendidik bangsa yang dengan tangan kita, mulut kita, tenaga kita, harta kita harus bisa merubah skenario perjuangan para calon pemimpin bangsa. Allahu Akbar!!!" teriak seorang mahasiswi yang mewakili UPI ini di aula bersejarah Universitas Padjadjaran.

"1430 tahun yang lalu, pemimpin kita, Rasulullah saw telah mempelopori terjadinya sebuah mega revolusi yang mempengaruhi dunia . Napoleon Bonaparte telah memulai revolusinya pada usia 26 tahun. Sang idola kita, sang pembebas kota Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih melakukannya di usia 24 tahun. Lalu di usia Anda sekarang, apa yang telah Anda lakukan untuk sebuah revolusi? Apa yang telah anda berikan untuk perubahan? Perubahan yang mana yang harus kita perjuangkan? Jawabannya tentu adalah perubahan yang mengarah kepada kebenaran dan kehidupan yang lebih baik. Saat ini, sampai kapan pun kebenaran itu pasti bernama ISLAM," tegas seorang perwakilan mahasiswi ITB dalam orasinya.

Sementara itu, Intellectual Speech disampaikan oleh Dr. Hendri Saparini ( Direktur Econit),  Prof. Dr. Ina Primiana (Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), Indira S. Rahmawaty, S.IP., M.Ag.( Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri  Sunan Gunung Jati Bandung), dan Ustadzah Iffah Rahmah ( Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia).

Dr. Hendri Saparini menegaskan bahwa masalah yang dihadapi Jawa Barat sejalan dengan masalah yang dihadapi Indonesia secara umum, kemiskinan, penganggguran, dll. "Jika kita ingin berkontribusi untuk membawa Indonesia dan Jawa Barat keluar dari masalah ini, maka kita harus memahami kenapa kita berkontribusi. Untuk memahami kenapa kita berkontriibusi maka kita harus mengetahui dan memahami fakta dan setelah itu kita harus mengetahui solusinya."

Sementara Prof. Dr.Ina Primiana yang menjelaskan bahwa Jawa Barat harus mengubah leading sector industriya. Prof. Ina menunjukkan bahwa mahasiswi memiliki peluang untuk memajukan daerahnya masing-masing dengan mengetahui potensi daerah serta melakukan positioning terhadap potensi daerahnya tersebut.

Indira S.Rahmawaty., S.IP., M.Ag menyampaikan tentang potensi, energi dan kekuatan besar yang dimiliki mahasiswi harus dihadapkan pada liberalisasi pendidikan yang mengerdilkan potensi kampus termasuk potensi mahasiswi. Karena dengan liberalisasi kampus terjadi komodifikasi pendidikan, pendidikan dianggap sebagai barang dagangan. Kampus juga seringkali menjadi tempat  untuk melahirkan pemikiran yang mengamini kebijakan kapitalis. Ini adalah realitas yang harus diubah oleh para mahasiswi,sebuah realitas yang menghalang hadirnya kebangkitan.

Intellectual Speech ditutup dengan orasi yang disampaikan oleh Ustadzah Iffah Rahmah yang menyampaikan bahwa ideologi Islamlah yang akan mengantarkan pada kebangkitan. Ideologi Islam yang diemban sebuah sistem Khilafah. Menurutnya, para mahasisiwi sudah semestinya melakukan sosialisasi ideologi Islam ini secara massif, memberikan gambaran setiap sub system dalam sistem Islam mulai dari pemerintahan, ekonomi, social dan lainnnya.


Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan tahun baru 1432 Hijriah ini diakhiri dengan penandatangan pernyataan sikap oleh mahasiswi dari berbagai Universitas yang ada di Jawa Barat. Pernyataan ini ditutup dengan sebuah keyakinan bahwa sikap yang harus diambil oleh mahasiswi dan seluruh masyarakat dalam melakukan perubahan menuju Jawa Barat dan Indonesia yang lebih baik adalah dengan tegaknya syariah dan Khilafah. Allahu Akbar! [disadur dari Syabab.Com]
Diberdayakan oleh Blogger.