Header Ads

Belajar Bisnis Berbasis Kompetensi

MULAILAH BISNIS BERBASIS KOMPETENSI

Muslimpreneur, bahasan kita kali ini rada naik ke tingkat S2 sebab ada istilah yang rada-rada tinggi, yaitu kompetensi. S2? kalau S1 sama dengan SD, berarti S2 sama dengan SMP? Yap, bukan itu hehehe…, tapi tingkat pendidikan pasca sarjana. Artinya, kali ini Muslimpreuner yang masih remaja dan boleh jadi ada di SMP, SMA atau setinggi-tingginya di S1, akan menyimak bahasan yang rada susah. Tapi, don’t be kuatir. Di sana sini akan ada penjelasan atawa contoh-contoh yang mudah disimak. Insya Allah. Tulisan ini untuk melengkapi tiga tulisan sebelumnya agar bisnis kita lebih ‘muantap’ meski bermodal hanya dengkul nan lancip. 

Pengertian Kompetensi Inti
Secara sederhana, kompetensi (competence) berarti kemampuan yang dapat diukur dan dibedakan berdasarkan tiga aspek, yaitu:

(1) Aspek input, melalui kapasitas seseorang dalam melakukan pekerjaannya secara baik. Kapasitas tersebut meliputi knowledge, skills dan personal attributes.
(2) Aspek proses, melalui perilaku yang dibutuhkan seseorang dalam mengubah input menjadi output secara efektif.
(3) Aspek output, melalui hasil dari perilaku dalam menggunakan knowledge, skills dan attributes dengan cara yang paling baik.

Jika istilah kompetensi dilekatkan dengan organisasi bisnis/perusahaan maka akan bermakna sebagai kekuatan pokok perusahaan yang berupa kemampuan pengelolaan atas sumber-sumberdaya internal perusahaan. Kemampuan ini disebut oleh Hamel dan Prahalad - seperti dikutip Wahyudi (1996) - sebagai kompetensi inti (core competence). Kompetensi ini selanjutnya akan berkembang menjadi keunggulan bersaing organisasi yang bersangkutan. Hamel dan Prahalad dalam buku yang sama, juga menjelaskan core competence sebagai sistem akar (root system) yang menyuburkan, mempertahankan dan menstabilkan batang tanaman (core product) dan buah-buahan serta daun sebagai end product.

Muslimpreneur, ingat baik-baik, kompetensi sama dengan nilai jual. Semakin banyak dan tinggi kompetensi yang dimiliki, akan semakin tinggi nilai jual produk bisnis kita. Itu berarti akan semakin mudah kita memasarkan produk bisnis kita dan pasar akan semakin mantap menyerap produk bisnis kita. Berikut contoh-contohnya. 

Lion Air dikenal sebagai pelopor penerbangan low cost di Indonesia. Konon selama 2009 dinaiki sekitar 15 juta penumpang (50%) dari total 30 juta penumpang domestik. Wow! 
Yamaha Motor makin agresif menjadi market leader mengalahkan Honda dengan konsisten membangun imej dengan mendatangkan Valentino Rossi berdampingan dengan Komeng. Yamaha juga membangun komunitas Yamaha yang berjumlah jutaan orang. 
Primagama kini menjadi bimbingan belajar terbesar di nusantara. Punya 678 cabang yang sebagian besar di-franchise-kan. Salah satu rahasia keberhasilan Primagama yang kemudian banyak ditiru oleh bimbel lainnya adalah keberaniannya menggaransi uang kembali jika tidak lulus UN!
Dagadu Djokdja bermula dari kerjaan iseng beberapa mahasiswa seni rupa di Jogja (awas bukan Nyoknya!), akhirnya tumbuh menjadi perusahaan terkenal di Indonesia sebagai “pabrik kata-kata”. Dalam setahun mereka berhasil menjual 5.000 kaos sehari dengan harga kaos sekitar 50 ribu.

Nah, bagaimana dengan kita? Tenang, tidak sulit. Kita bisa mencarinya dengan menggunakan alat bantu yang bernama metode Analisis SWOT. Dengan metode analisis ini, kompetensi inti organisasi bisnis kita akan diidentifikasi dalam analisis unsur S (Strength). Strength atau faktor kekuatan adalah sumberdaya, keterampilan, atau kompetensi khusus (distinctive competence) yang memberikan keunggulan komparatif bagi organisasi bisnis terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani organisasi.

Lalu apa kompetensi bisnis kita?
Ok, siapkan kertas dan alat tulisnya. Mulailah pikirkan dan tuliskan apa kekuatan bisnis kita selama ini. Kalau sudah ketemu, cari yang paling signifikan atau paling menonjol (top of mind) di mata kita dan konsumen. Sangat boleh jadi kita akan menemukannya lebih dari satu. Seperti :

(1) Produk bisnis kita (barang) memiliki jaminan halal dan berkualitas tinggi.
(2) Produk bisnis kita (jasa), layanannya prima dan terpercaya. 
(3) Bisnis kita pelopor bisnis sejenis. 
(4) Bisnis kita inovatif dan genuine local. 
(5) Bisnis kita berbasis komunitas, dan lain-lainnya.

Muslimpreneur, apapun dan berapapun kompetensi bisnis kita, syukurilah. Sadarilah, jadikan kompetensi inti ini benar-benar sebagai Keunggulan Bersaing, nilai jual produk dan bisnis sehingga dengannya kita harus percaya diri dan berani ambil resiko. Lalu, dayagunakanlah kompetensi inti ini dengan cara mengikuti banyak event bisnis yang memungkinkan terjualnya kompetensi inti. Stand, leaflet, pamflet, buletin, hingga kartu nama menjadi senjata ampuh yang dapat ditempuh. Juga perkuat jalinan ukhuwah dengan orang-orang kunci yang dapat menjadi perantara pemasaran dengan orang/jaringan dekatnya. Terakhir, Pelihara dan Kembangkanlah. Jika kompetensi inti sudah disyukuri, disadari, dan didayagunakan, maka jangan lupa untuk memelihara dan mengembangkannya. Mengapa? Tak lain, karena lingkungan bisnis adalah lingkungan yang dinamis. Hanya bisnis yang dinamislah yang dapat terus bertahan dan melaju. Secara individu, kita terus menambah pendidikan dan latihan, magang, ‘jam terbang’ dll. Sedang, pada skala organisasi, semua harus terus melakukan pembelajaran kolektif untuk menguatkan posisi bisnis kita.

Nah, Muslimpreneur, kalau sudah begini, tunggu apa lagi. Hadapi setiap tantangan bisnis dengan penuh optimis pada rahmat Allah dan tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Allah yang memberikan rizki pada kita, bukan yang lain. Dan mulailah munculkan kompetensi inti bisnis yang akan menjadi nilai jual kita. Insya Allah.

Alhamdulillah…Luar Biasa…Allahu Akbar!!!

Muhammad Karebet Widjajakusuma
The Metanoiac Trainer & Consultant

Diberdayakan oleh Blogger.